Putra paling terkenal dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, Saif al-Islam Qaddafi tewas dibunuh di rumahnya. (tabz)PRIORITAS, 3/2/26 (Tripoli): Putra mantan pemimpin Libya Muammar Qaddafi, Saif al Islam Gaddafi ditembak mati di rumahnya di barat laut Libya. Ia diduga dibunuh saingan politiknya.
Meskipun tidak memegang jabatan resmi, Saif pernah dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh di negara Afrika Utara, yang kaya minyak itu setelah ayahnya memerintah selama lebih dari empat dekade.
“Saif al Islam Gaddafi, putra mendiang Muammar Gaddafi, telah ditembak mati oleh orang-orang bersenjata yang menerobos masuk ke rumahnya”, kata para pejabat setempat.
Pria berusia 53 tahun itu tewas dalam “konfrontasi langsung” dengan empat pria bersenjata di kota Zintan, Libya , di sebelah barat daya ibu kota Tripoli, demikian pernyataan kantornya, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Rabu (4/2/2026).
Pengacaranya, Khaled al Zaidi, dan secara terpisah penasihatnya Abdullah Othman Abdurrahim, sama-sama mengkonfirmasi kematiannya di Facebook, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, lapor Sky News.
Saat ayahnya berkuasa, Saif Qaddafi sempat membentuk kebijakan dan terlibat dalam diplomasi tingkat tinggi, termasuk pembicaraan tentang senjata pemusnah massal.
Ia juga memberikan kompensasi bagi keluarga korban yang tewas dalam pemboman pesawat Pan Am Flight 103 pada tahun 1988.
Pengadilan luar negeri megungkapkan dua orang ‘suruhan’ pemerintah Libya sengaja meletakkan bom di pesawat AS itu, yang menyebabkan meledak saat berasda di atas Lockerbie, Skotlandia.

Jenazah Saif Qaddafi dimuat di mobil bak terbuka. Ia ditembak empat orang di rumahnya di Zintan, Libya.(@agomati)
Kejahatan kemanusiaan
Berpendidikan di London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, Saif pernah dipandang banyak pemerintah sebagai sosok Libya yang dapat diterima dan ramah terhadap Barat.
Namun ketika pemberontakan meletus melawan rezim ayahnya pada tahun 2011, ia menjadi arsitek dari penindakan brutal terhadap para pemberontak.
Setelah para pejuang menguasai ibu kota, ia ditangkap saat mencoba melarikan diri ke negara tetangga Niger – sekitar sebulan setelah ayahnya diburu dan ditembak mati pemberontak.
Pada tahun 2015, pengadilan Libya menjatuhkan hukuman mati kepadanya atas kejahatan perang.
Ia juga dicari Mahkamah Pidana Internasional, dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Saif menghabiskan enam tahun dalam tahanan di kota Zintan. Kehidupan itu sangat berbeda dari kehidupan mewah yang ia jalani selama pemerintahan ayahnya.
Ia memelihara harimau dan bergaul dengan kalangan atas dalam perjalanan ke luar negeri. Ia baru dibebaskan milisi pada tahun 2017 berdasarkan amnesti.

Saif al-Islam Qaddafi, putra mendiang pemimpin Libya, menghadiri sidang di balik jeruji besi, di Zintan, Mei 2014.(almonitor)
Perang saudara
Pada tahun 2021, ia mencoba mencalonkan diri sebagai presiden, tetapi ditentang banyak orang yang telah menderita di bawah pemerintahan ayahnya.
Ia juga didiskualifikasi dari pemilihan karena hukuman yang dijatuhkan kepadanya pada tahun 2015.
Pencalonannya menjadi titik perselisihan dan proses pemilihan terhenti di tengah perdebatan antara kelompok-kelompok bersenjata yang berpengaruh di Libya.
Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times Magazine pada tahun 2021, ia membahas strategi politiknya. “Saya telah jauh dari rakyat Libya selama 10 tahun,” katanya.
Libya tetap terpecah belah, dengan pemerintahan yang bersaing di timur dan barat, setelah negara itu jatuh ke dalam anarki menyusul jatuhnya rezim Muammar Gaddafi.
Tak lama setelah Muammar Gaddafi tewas dibunuh pejuang oposisi, Libya kemudian berubah menjadi perang saudara.

Saif Qaddafi saat masih remaja (kanan) berjalan bersama ayahnya Muammar Qaddafi (kiri) dalam upacara di Libya (theinfirmantx)
Terkait politik
Kabar dari Kurdi dilaporkan melalui Telegram pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi diduga kuat terkait persaingan politik.
Banyak sumber melaporkan Saif al-Islam Gaddafi dibunuh agen Turki di kota Zintan, barat daya ibu kota.
Namun, laporan ini belum dapat diverifikasi saat ini, karena belum ada informasi kredibel tentang sifat penembakan itu. Pembunuhannya masih diselimuti misteri.
Sumber lain menyebut mereka menduga intelijen Inggris menggunakan proksi lokal untuk membunuh Saif, yang dipandang banyak orang sebagai sosok yang dapat menyatukan kembali Libya.
Ayahnya, Muammar Gaddafi, terobsesi untuk menyatukan seluruh negara Afrika dalam pan-Afrika. Hal itu yang diwarisi Saif Al-Islam Gaddafi.
Saif Al-Islam Gaddafi menghabiskan bertahun-tahun berkampanye di seluruh Libya, untuk maju dalam pemilihan yang terus ditunda.
Ia dipandang banyak masyarakat sebagai kandidat yang paling mungkin memenangkan pemilihan Presiden di Libya.
Saif bahkan mendapat dukungan dari suku-suku yang awalnya melawan ayahnya pada tahun 2011.
Libya, salahsatu negara yang kaya dengan minyak bumi, sejak lama diincar berbagai negara seperti AS, Inggris, dan Prancis.
Nasib buruk
Setelah Moammer Qaddafi tewas terbunuh dalam pemberontakan, satu-persatu anaknya juga tewas, sedangkan yang lainnya dipenjara. Nasib buruk rupanya menimpa keluarga Qaddafi.
Al-Mu’tasim-Billah Qaddafi (dibunuh militan pada 2011), Saif al-Arab Qaddafi (dibunuh dalam serangan udara NATO bersama dengan tiga cucu Gaddafi selama makan malam keluarga) dan Khamis Qaddaf terbunuh dalam pertempuran dengan pemberontak.
Yang masih hidup Hannibal Qaddafi. Ia pun baru bebas dari penjara setelah setelah satu dekade dipenjara di Lebanon. Padahal ia tidak terlibat politik ataupun kejahatan selama ayahnya berkuasa.
Ia diculik militan di Suriah pada Desember 2015, tempat dia menetap bersama istri Kristen Lebanon dan tiga anaknya yang masih hidup setelah melarikan diri dari Libya pada 2011.
Disiksa dan dipindahkan ke Lebanon, Hannibal Qaddafi dipenjara sehubungan dengan dugaan pembunuhan Musa al-Sadr, salah satu pendiri Gerakan Amal, pendahulu Hizbullah. Ia menghilang di Libya pada 1978, tempat dia melakukan perjalanan atas undangan Muammar Qaddafi.
Gaddafi menuduh AS dan Israel mengatur hilangnya al-Sadr, untuk mengubah dunia Syiah melawannya. Itu berhasil.
Pada saat hilangnya al-Sadr, Hanibbal masih berusia 2 tahun. Hannibal mengatakan dia dipenjara hanya karena dia adalah putra Qaddafi.
Anak Qaddafi yang lain yakni Muhammad juga ditangkap pemberontak pada 2011, dibebaskan pada 2013, dan Al-Saadi Qaddafi dibebaskan pada 2021 setelah 7 tahun di penjara Tripoli.(P-Jeffry W)