Presiden Trump ingin dua anggota DPR AS asal Somalia dan Palestina dideportasi

Jeffry Wuisan
Kamis, 26 Februari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 26/2/26 (Washington DC): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan dua anggota parlemen (DPR) AS, Ilhan Omar asal Somalia dan Rashida Tlaib keturunan Palestina,  harus segera dideportasi atau dikirim kembali ke negara asal mereka.

“Kita harus mengirim mereka kembali ke tempat asal mereka — secepat mungkin. Mereka hanya dapat merusak Amerika Serikat”, tegas Presiden Trump di Truth Social, seperti dikutip Beritaproritas.com, hari Kamis (6/2/26).

Peryataan Presiden AS itu dikemukakan setelah dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Demokrat tersebut, berteriak-teriak mengejek saat Trump sedang pidato kenegaraan di Ruang Sidang Gedung Capitol AS di Washington DC, 24 Februari 2026 waktu setempat.

Baik Omar maupun Tlaib meneriakkan “kau seorang pembunuh” kepada Trump selama pidatonya. Omar juga menyebut Trump sebagai pembohong.

Sehari setelah mereka terlibat adu mulut sengit, Presiden Trump menyebut Ilhan Omar dari Minnesota dan Rashida Tlaib dari Michigan, adalah orang berotak rendah dan berperilaku seperti orang gila di dalam sidang kabinet gabungan Kongres yang semestinya dihormati.

“Saat Anda menonton Ilhan Omar dan Rashida Tlaib yang ber-IQ rendah, ketika mereka berteriak tak terkendali tadi malam di acara Pidato Kenegaraan yang sangat elegan, sebuah acara yang begitu penting dan indah, mereka memiliki mata melotot dan merah seperti orang gila. Secara mental terganggu dan sakit jiwa, yang terus terang, terlihat seperti seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa,” kata Trump.

Trump menuding kedua anggota DPR itu adalah politisi yang curang dan korup, yang sangat buruk bagi Amerika Serikat.

“Ketika saya melihatnya menangis tersedu-sedu tadi malam, seperti layaknya anak kecil, saya menyadari bahwa dia mungkin lebih sakit daripada Rosie O’Donnell yang gila, yang saat ini berada di Irlandia mencoba mencari cara untuk kembali ke Amerika Serikat kita yang indah ini”, lanjut Trump.

 

Dinilai tidak beradab

Selama pidato Trump Tlaib dan Omar berteriak-teriak mengkritik Trump,  ketika ia memuji kebijakan imigrasi garis keras pemerintahannya dan tindakan penegakan hukum imigrasi yang dilakukannya.

Sejumlah netizen yang menonton cuplikan video berita kegaduhan di DPR AS itu, menilai negatif perilaku dua anggota parlemen tersebut,  dengan menyebut tidak pantas dan sangat tak terpuji.

Seorang warga kelahiran Iran yang juga pemerhati politik, Sana Ebrahimi, mengatakan sebagai masyarakat beradab wakil rakyat tidak bererilaku seperti itu.

“Anggota Kongres Ilhan Omar dan Radhida Tlaib jelas tidak beradab. Nol kelas, nol kesopanan”, ujar wanita yang kini kandidat PhD.

Namun pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries, justru membela aksi kedua anggota DPR tersebut dengan menyebut retorika Trump terhadap Tlaib dan Omar sebagai “xenofobia” dan “memalukan.”

Tlaib mengatakan di X komentar Trump menunjukkan dia sedang berusaha keluar dari jabatannya.

Kelompok advokasi Muslim Council on American-Islamic Relations (CAIR) juga mengatakan komentar Trump bersifat rasis.

“Merupakan tindakan rasis dan fanatik untuk mengatakan bahwa dua anggota parlemen Muslim AS harus dikirim kembali ke negara tempat mereka dilahirkan atau tempat asal leluhur mereka berdasarkan kritik mereka terhadap penembakan warga Amerika oleh ICE,” kata Wakil Direktur Nasional CAIR, Edward Ahmed Mitchell.

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar, lapor media Jerusalem Post. Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan anggota media telah “mencemarkan nama baik” presiden sebagai seorang rasis.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025