Presiden Trump ingin buat Iran kembali ke zaman batu

Jeffry Wuisan
Kamis, 2 April 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 2/4/26 (Washington):  Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan masih akan melakukan serangan besar ke Iran dalam beberapa pekan lagi, untuk membuat negara tersebut kembali ke zaman batu.


“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu tempat mereka seharusnya berada. Sementara itu, diskusi sedang berlangsung… Kita memiliki semua kartu. Mereka tidak memiliki satu pun”, kata Trump seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (2/4/26).

Saat berpidato kepada publik Amerika Serikat, Trump dengan penuh semangat memaparkan secara singkat tentang kemajuan pasukan AS selama satu bulan Operasi Epic Fury dalam menyerang Iran.

“Sejak awal Operasi Epic Fury, saya telah menegaskan bahwa kita akan terus melanjutkan hingga tujuan kita sepenuhnya tercapai. Berkat kemajuan yang telah kita capai, saya dapat mengatakan malam ini bahwa kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer Amerika dalam waktu singkat — sangat singkat”, jelasnya.


Menurut Trump pencapaian luar biasa militer AS, karena telah memberikan pukulan cepat dan telak kepada rezim Iran.

Terutama menghancurkan angkatan laut Iran, melumpuhkan angkatan udaranya, dan melenyapkan para pemimpin utamanya.

Lebih dari itu, lanjutnya,  AS secara sistematis telah melumpuhkan kemampuan Iran untuk mengancam Amerika, sekutu dan dunia.

“Dalam empat minggu terakhir ini, Angkatan Bersenjata kita telah memberikan kemenangan yang cepat, menentukan, dan luar biasa di medan perang — kemenangan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya”, ujar Trump.

Trump juga menyebut kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal dan drone kini sudah sangat terbatas akibat serangan AS dan Israel.

Terlebih senjata, pabrik, dan peluncur roket Iran sudah hancur berkeping-keping — sangat sedikit yang tersisa. “Belum pernah dalam sejarah peperangan musuh menderita kerugian besar dan dahsyat seperti ini hanya dalam hitungan minggu”, kata  Trump.

 

Bahaya nuklir Iran

Presiden Trump mengungkapkan sudah lama ia berniat untuk mengakhiri rezim Iran yang kejam dan sering melakukan teror di dunia.

“Sejak hari pertama saya mengumumkan kampanye saya untuk Presiden pada tahun 2015, saya telah bersumpah bahwa saya tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir. Rezim fanatik ini telah meneriakkan ‘Matilah Amerika,’ ‘Matilah Israel,’ selama 47 tahun”, jelas Trump.

Trump mengatakan Iran dan proksinya  telah melakukan banyak tindakan keji,  seperti pembunuhan 241 warga Amerika dalam pemboman Barak Marinir di Beirut, pembantaian ratusan anggota militer AS dengan bom pinggir jalan, serta serangan terhadap kapal perang USS Cole.

Dia menilai usaha Iran untuk memiliki senjata nuklir,  akan menjadi ancaman yang tidak dapat ditoleransi.

Alasannya, rezim Iran akan bebas untuk melakukan kampanye teror, pemaksaan, penaklukan, dan pembunuhan massal dari balik perisai nuklir. “Saya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi”, tegasnya.

Itulah sebabnya, selama dua periode jabatannya,  Trump mengakui melakukan banyak hal untuk menghentikan upaya Iran dalam mengembangkan senjata nuklir.

“Pertama, dan mungkin yang terpenting, saya membunuh Jenderal Qasem Soleimani pada periode jabatan pertama saya… Dan kemudian, yang sangat penting, saya mengakhiri Kesepakatan Nuklir Iran yang dibuat Barack Hussein Obama… Pada dasarnya, saya melakukan apa yang tidak mau dilakukan oleh Presiden lain. Mereka melakukan kesalahan dan saya memperbaikinya”, paparnya.

Presiden Trump mengemukakan, sebenarnya ia ingin menempuh cara berunding soal nuklir, tetapi semua upaya untuk mencapai kesepakatan ditolak Iran.

Karena alasan ini, pada bulan Juni 2025 lalu, Trump akhirnya memerintahkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran dalam Operasi Midnight Hammer.

Meski begitu, rezim Iran, kata Trump, masih berupaya membangun kembali program nuklirnya di lokasi yang sama sekali berbeda.

Ini memperjelas Iran tidak berniat untuk meninggalkan upaya mereka dalam mendapatkan senjata nuklir.

Akibatnya, AS terpaksa harus mengambil tindakan tegas dan kembali melakukan serangan kedua ke Iran dengan Operasi Epic Fury, sejak 28 Februari 2026.

“Tujuan kita sangat sederhana dan jelas. Kita secara sistematis melumpuhkan kemampuan rezim untuk mengancam Amerika atau memproyeksikan kekuatan di luar perbatasan mereka. Malam ini, saya senang mengatakan bahwa tujuan strategis inti ini hampir selesai”, tambahnya.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan