
Presiden AS, Donald Trump, memberi pernyataan kepada para wartawan di atas pesawat Kepresidenan Air Force One.(@karolineleavitt)PRIORITAS, 13/12/25 (Washington): Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump, frustrasi dengan Rusia dan Ukraina karena lambatnya kemajuan perdamaian.

“Presiden sangat frustrasi dengan kedua pihak dalam perang ini, dan dia muak dengan pertemuan yang hanya sekadar formalitas. Dia tidak menginginkan pembicaraan lagi. Dia menginginkan tindakan. Dia ingin perang ini berakhir”, kata sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Sabtu (13/12/25).
Leavitt menyampaikan pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan tentang apakah Amerika Serikat akan berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Dia mengatakan belum ada keputusan yang dibuat.
“Amerika Serikat dan pemerintahan Trump terus terlibat aktif dalam upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina,” katanya.

Leavitt mencatat presiden telah berbicara dengan para pemimpin Eropa sehari sebelumnya dan utusan khususnya, Steve Witkoff dan timnya terus berbicara dengan kedua belah pihak secara harfiah saat ini.
Menurut laporan Sky News, Leavitt mengatakan pemerintah hanya akan mempertimbangkan untuk mengirim perwakilan jika melihat peluang yang berarti untuk mencapai kemajuan.
“Jika ada peluang nyata untuk menandatangani perjanjian perdamaian , jika kami merasa pertemuan-pertemuan itu layak untuk … waktu Amerika Serikat akhir pekan ini, maka kami akan mengirim perwakilan,” katanya.
Walaupun demikian, Leavitt mengungkapkan masih belum pasti apakah AS percaya perdamaian sejati dapat tercapai dan benar-benar dapat memajukan proses ini.
Dia menekankan ketidakpuasan Trump terhadap kecepatan dan produktivitas diplomasi baru-baru ini.
Leavitt mengatakan para pejabat pemerintah AS telah menghabiskan lebih dari 30 jam dalam beberapa minggu terakhir, untuk berbicara dengan rekan-rekan mereka dari Rusia, Ukraina, dan Eropa.
Meskipun Trump terus menyatakan ketidaksabarannya atas lambatnya kemajuan kesepakatan perdamaian, pemerintahannya tampaknya tidak memberikan tekanan apa pun kepada Rusia, untuk mengakhiri perang di Ukraina.
AS dalam beberapa minggu terakhir, telah mengajukan proposal perdamaian yang justru menguntungkan Moskow sekaligus merugikan kepentingan Ukraina dan Eropa.
Presiden Trump, dalam pidatonya pada 1 Desember 2025 lalu, mengklaim Presiden Volodymyr Zelensky adalah orang yang diduga tidak setuju dengan proposal perdamaian yang dibuat AS.
Para pemimpin negara-negara Eropa juga tidak setuju dan kecewa dengan langkah AS selama ini. “Kami frustrasi dengan sekutu (AS) yang lebih tertarik menyenangkan Putin daripada menegakkan keadilan”, kata mereka.
Mereka menyebut Presiden AS sebenarnya masih memiliki pengaruh untuk memberikan tekanan yang dibutuhkan pada Rusia. Tetapi, Trump malah mengurangi tekanan pada Rusia.(P-Jeffry W)

