Pesawat Hercules bawa 125 tentara Kolombia jatuh dan meledak

Jeffry Wuisan
Selasa, 24 Maret 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 24/3/26 (Bogota): Pesawat Hercules C-130 militer Kolombia yang membawa 125 tentara, jatuh dan meledak di wilayah Amazon Putumayo.

Sejauh ini pemerintah Kolombia telah mengonfirmasi 66 orang ditemukan tewas dan sekitar 48 orang lainnya mengalami luka-luka serius.

Seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Selasa (24/3/26), pihak militer Kolombia mengakui peristiwa ini adalah tragedi udara terburuk dalam penerbangan militer negara tersebut.

Pesawat Hercules C-130 Angkatan Udara itu, jatuh ke tanah hanya beberapa menit setelah lepas landas dari bandar udara Puerto Leguízamo, di departemen Putumayo.

Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sánchez, mengatakan kecelakaan itu terjadi hanya beberapa kilometer saat lepas landas dan badan pesawat ditemukan hancur setelah benturan dan terbakar.

Jumlah korban tewas dikhawatirkan masih akan bertambah seiring berjalannya operasi penyelamatan.

“Meskipun laporan awal menyebutkan 66 tentara tewas, seiring berjalannya waktu jumlahnya kemungkinan dapat bertambah, karena banyak korban dalam kondisi kritis”, kata laporan militer.

Tim penyelamat membutuhkan waktu berjam-jam melewati medan hutan yang sulit,  untuk menemukan lokasi jatuhnya pesawat.

Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Kolombia, Jenderal Hugo Alejandro Lopez Barreto,  mengatakan militer telah mengerahkan semua sumber daya untuk mengamankan daerah tersebut, terutama membantu para korban.

Banyak korban yang terluka ditemukan sudah berada di luar pesawat. Tim pencari kemudian langsung mencari para korban lain di dalam badan pesawat yang masih terbakar dan mengevakuasi yang terluka.

Setidaknya beberapa lusin orang selamat meski mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Para korban langsung dievakuasi dan dipindahkan ke pusat-pusat medis terdekat. Beberapa di antaranya di kota lain karena keterbatasan kapasitas rumah sakit di daerah tersebut.

Situasi darurat tersebut juga memobilisasi unit militer, pesawat evakuasi, dan badan-badan bantuan, dalam sebuah operasi yang menyoroti skala bencana dan kesulitan logistik yang melekat pada wilayah hutan yang sulit diakses.

Sebanyak 66 tentara Kolombia tewas dalam kecelakaan pesawat militer di wilayah Amazon Putumayo. Sekitar 48 orang lainnya terluka. (x.@mindefensa)

 

Kehilangan ketinggian

Media Kolombia, Colombia One melaporkan kecelakaan itu terjadi hanya beberapa kilometer setelah lepas landas, selama fase pendakian awal pesawat.

Menurut laporan awal, pesawat kehilangan ketinggian dan jatuh di dekat Puerto Leguizamo, memicu ledakan dan kebakaran yang menghanguskan sebagian besar struktur pesawat.

Untuk saat ini, pihak berwenang telah mengesampingkan hipotesis serangan eksternal, di wilayah tempat kelompok bersenjata ilegal beroperasi.

Sebaliknya, penyelidikan awal mengarah pada kemungkinan kegagalan teknis atau mekanis, meskipun masih belum ada kesimpulan pasti.

Pihak berwenang Kolombia sedang melakukan penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan pesawat  tersebut.

Analisis kotak hitam dan puing-puing pesawat diharapkan dapat memberikan kejelasan tentang apa yang terjadi,  beberapa menit sebelum pesawat kehilangan tenaga atau tak mampu menanjak.

Pesawat yang jatuh itu merupakan bagian dari armada transportasi militer Kolombia,  yang digunakan untuk memindahkan pasukan melintasi berbagai wilayah di negara tersebut.

Jenis pesawat ini, yang banyak digunakan di seluruh dunia, memang terbukti sangat tangguh untuk operasi logistik di daerah terpencil seperti Amazon Kolombia.

 

Kondisi armada militer

Kecelakaan pesawat tersebut telah membuka kembali perdebatan yang lebih luas mengenai kondisi peralatan militer di Kolombia, khususnya terkait pemeliharaan, modernisasi, dan ketersediaan operasional.

Pihak pemerintah, Presiden Gustavo Petro menyatakan tragedi tersebut menyoroti keterlambatan struktural dalam pembaruan armada, yang sebagian disebabkan hambatan birokrasi.

Pengamat politik dan analis mempertanyakan pengelolaan proses-proses ini, menunjuk pada masalah dalam pelaksanaan sumber daya dan dalam perencanaan investasi pertahanan di Kolombia.

Isu ini menjadi sangat relevan dalam konteks di mana Angkatan Bersenjata Kolombia sangat bergantung pada pesawat terbang, yang telah beroperasi selama beberapa dekade dan telah menjalani operasi berat di wilayah kompleks.

Pesawat itu, meskipun telah menjalani perawatan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi sudah masuk generasi tua, sehingga sangat membutuhkan inspeksi rutin dan pembaruan terus-menerus, untuk memastikan pengoperasian aman.

Akibat kecelakaan ini, Kolombia berkabung terutama di jajaran Angkatan Bersenjata, yang kehilangan puluhan anggotanya dalam satu operasi.

Tragedi ini juga menyoroti risiko inheren dari operasi udara militer Kolombia di daerah terpencil.

Kondisi geografis Kolombia, logistik, dan teknis dapat memperbesar konsekuensi dari kegagalan apa pun.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025