Presiden Prabowo di Rakornas: Indonesia butuh pemimpin yang jujur, adil, dan mengerti sejarah perjuangan Bangsa. (BPMI Setpres)PRIORITAS, 3/2/2026 (Bogor): Suasana Sentul International Convention Center (SICC) pada Senin pagi (2/2/2026) berubah menjadi panggung konsolidasi nasional. Ribuan pejabat dari berbagai penjuru negeri—mewakili hampir 99 persen unsur pemerintahan dari pusat hingga daerah—berkumpul dalam satu ruang besar. Di hadapan mereka, Presiden Prabowo Subianto berdiri menyampaikan pesan yang tegas, reflektif, dan menggugah: kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tentang pengabdian kepada rakyat dan bangsa.
Dalam taklimatnya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Presiden Prabowo menyuarakan kembali apa yang selama ini menjadi harapan rakyat Indonesia—kehidupan yang tenteram, kepemimpinan yang harmonis, adil, dan jujur.
“Rakyat mendambakan pemimpin yang bekerja untuk kepentingan semua, bukan segelintir orang. Mereka tidak suka pemimpin yang hanya memajukan kepentingan pribadinya,” ujar Presiden dengan intonasi yang menekankan urgensi pesan tersebut.
Di hadapan para pemangku kebijakan, Presiden mengingatkan bahwa Indonesia kerap disebut sebagai the impossible nation. Sebuah bangsa besar yang berdiri di atas keberagaman ekstrem, sejarah panjang, dan tantangan yang tidak sederhana. Justru karena itu, menurutnya, negeri ini menuntut tipe pemimpin yang memahami akar sejarah dan karakter bangsanya.
“Kita harus jadi pemimpin yang mengerti sejarah nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Mengerti latar belakang bangsa kita,” tegas Presiden.
Prabowo juga menyinggung kembali biaya besar yang telah dibayar rakyat untuk membangun Indonesia. Pengorbanan itulah, katanya, yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap pemimpin bahwa jabatan adalah amanat, bukan fasilitas.
“Negara ini dibangun atas pengorbanan rakyat yang sangat besar. Karena itulah kita tidak boleh lupa bahwa adanya kita adalah untuk mengabdi. Mudah diucapkan, tetapi harus dibuktikan,” ujarnya.
Di ruang besar SICC, kata-kata Presiden itu menjadi semacam pengingat kolektif. Bahwa di tengah dinamika dan tantangan bangsa, kepemimpinan yang bersandar pada pengabdian adalah fondasi yang harus terus dijaga. (P-*/bwl)