Penyebab mobil listrik tiba-tiba mati, ini penjelasan pakar

Zamir Ambia
Jumat, 1 Mei 2026
NEWS OTOMOTIF 0 339
2 menit membaca

PRIORITAS, 1/5/26 (Jakarta): Fenomena mobil listrik yang mendadak berhenti, termasuk ketika melintasi perlintasan kereta api, disebabkan oleh sejumlah faktor teknis yang berbeda dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.


Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, mengungkapkan bahwa gangguan pada sistem kelistrikan serta mekanisme perlindungan (proteksi) menjadi penyebab utama pada kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

“Berbeda dengan mobil konvensional yang biasanya mati karena masalah bahan bakar atau pengapian, EV umumnya berhenti karena gangguan pada sistem manajemen energi atau sistem proteksi,” katanya, Jumat (1/5/26), dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah masalah pada baterai 12 volt, yang berperan sebagai sumber daya untuk sistem kelistrikan dasar seperti komputer, sensor, dan lampu kendaraan.


“Ini adalah penyebab paling umum. Jika baterai 12V drop atau mati, maka daya dari baterai utama tidak dapat mengalir ke motor penggerak. Mobil bisa mati total meski baterai utama masih terisi,” tutur Agus.

Selain itu, sistem Battery Management System (BMS) memiliki peran krusial dalam menjaga keselamatan. Ketika terdeteksi suhu berlebih pada baterai atau inverter, sistem ini akan secara otomatis menghentikan aliran listrik guna mencegah potensi kerusakan.

“Jika inverter atau baterai mengalami overheating, sistem akan langsung memutus daya untuk menghindari risiko kebakaran atau kerusakan permanen,” ujarnya.

Sistem pengaman tegangan tinggi

Faktor lainnya adalah sistem pengaman tegangan tinggi atau High Voltage Interlock Loop (HVIL). Mekanisme ini akan secara otomatis menonaktifkan kendaraan apabila terdeteksi adanya gangguan, seperti kebocoran arus atau sambungan kabel yang tidak stabil.

“Jika ada kebocoran arus atau kabel tegangan tinggi longgar akibat guncangan, sistem akan melakukan emergency shut-off dalam hitungan milidetik,” imbuhnya.

Agus Purwadi menambahkan bahwa gangguan elektromagnetik di sekitar rel kereta api juga berpotensi memengaruhi kinerja kendaraan, meskipun kemungkinan terjadinya relatif kecil.

Di sisi lain, pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa mobil listrik modern pada umumnya telah dibekali sistem perlindungan yang mumpuni untuk menghadapi interferensi elektromagnetik.

“Secara teknis, potensi mobil listrik mati mendadak akibat medan elektromagnetik sangat kecil karena kendaraan sudah dilengkapi sistem pelindung dan lolos uji kompatibilitas,” jelasnya.

Dengan berbagai sistem proteksi tersebut, mobil listrik dinilai tetap aman digunakan, meskipun pengguna perlu memastikan kondisi sistem kelistrikan, terutama baterai 12 volt, tetap optimal. (P-*r/Zamir Ambia)

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan