Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menjawab pertanyaan wartawan usai pertemuan tertutup jajaran PBNU di Ponpes Miftachussunnah, Surabaya, Minggu (28/12/25), yang menegaskan kesepakatan pasca-islah dan mengakhiri konflik internal PBNU. (Courtesy: Antara)PRIORITAS, 5/1/26 (Situbondo): Rekonsiliasi dua poros tertinggi Nahdlatul Ulama menjadi penanda babak baru bagi jam’iyah terbesar di Indonesia. Islah antara Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bukan hanya meredakan ketegangan internal, tetapi juga menyalakan kembali optimisme di kalangan warga NU menjelang agenda besar Muktamar ke-35.
Dari momentum itu, satu daerah langsung menyatakan kesiapan. Pemerintah Kabupaten Situbondo angkat suara. Daerah yang memiliki jejak sejarah kuat dalam lahirnya NU ini menyatakan siap sepenuhnya bila dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.
Pernyataan kesiapan tersebut disampaikan dalam suasana khidmat napak tilas sejarah NU di Makam Sunan Ampel, Surabaya, Minggu (4/1/26). Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo hadir langsung bersama sejumlah bupati dan wakil bupati dari berbagai daerah. Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, melainkan simbol syukur dan persatuan pasca-islah pucuk pimpinan PBNU.
Napak tilas ini memiliki makna mendalam bagi Situbondo. Sejarah mencatat, dari daerah inilah KH As’ad Syamsul Arifin—ulama besar Situbondo yang kini menyandang gelar Pahlawan Nasional—menjalankan amanah gurunya, Syekh Khona Kholil Bangkalan. Tongkat dan tasbih yang disampaikan kepada KH Hasyim Asy’ari kala itu menjadi simbol kelahiran Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Sejarah tersebut, menurut Yusuf Rio Wahyu Prayogo, bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi moral dan spiritual bagi Situbondo untuk kembali mengambil peran strategis dalam perjalanan NU hari ini. Ia bahkan menarik benang merah dengan Muktamar NU 1984 yang juga digelar di Situbondo, muktamar yang kala itu sarat dinamika namun justru melahirkan keputusan besar bagi arah NU.
“Jadi kami sangat bergembira apabila Muktamar NU diletakkan di Situbondo. Kami sangat siap, bahkan sudah berbicara dengan para kiai. Insyaallah Situbondo siap,” ujar Yusuf Rio Wahyu Prayogo.
Ia menambahkan, kesiapan tersebut bukan sekadar klaim pemerintah daerah. Dukungan datang langsung dari jaringan pesantren dan para kiai. Bahkan, kata dia, muncul inisiatif dari kalangan pesantren untuk menopang kebutuhan konsumsi peserta muktamar.
“Bahkan ada inisiatif dari para kiai, konsumsi akan ditanggung oleh pondok pesantren yang ada di Situbondo,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Situbondo menegaskan, seluruh elemen daerah telah disiagakan, mulai dari aspek infrastruktur, keamanan, hingga dukungan sosial-keagamaan. Pemerintah daerah, ulama, pesantren, dan masyarakat disebut siap bergotong royong demi memastikan Muktamar ke-35 NU berjalan aman, khidmat, dan menjadi ruang konsolidasi yang meneguhkan kembali persatuan jam’iyah.
Dengan legitimasi sejarah, kekuatan basis pesantren, serta pengalaman sebagai tuan rumah muktamar bersejarah, Situbondo kini menunggu keputusan resmi PBNU. Jika mandat itu jatuh ke tangan mereka, Situbondo menyatakan siap menjadi rumah besar bagi perhelatan tertinggi Nahdlatul Ulama—tempat sejarah lama bertemu arah baru NU ke depan.(P-Khalied M)