PRIORITAS, 19/10/26 (Jakarta): Ketika pasar keuangan Indonesia sedang dihantam tekanan sentimen negatif, sejumlah investor asing lari membawa modalnya keluar Indonesia.
Sebagaimana data Bursa Efek Indonesia, terjadi jual bersih investor asing di pasar saham senilai Rp3,34 triliun dalam satu hari, Jumat (16/10/26). Sehingga dalam tahun ini tercatat Rp88,19 triliun dana asing keluar dari pasar saham kita,
Adapun keluarnya dana asing kemudian memukul Indeks Harga Saham Gabungan ambles 11,57 persen ke level 5.199,96, menjadi penurunan harian terdalam dalam 28 tahun terakhir atau sejak krisis moneter 1998. Bahkan, hari ini tekanan berlanjut hingga IHSG bergerak ke 4.961,8.
Terjadinya pelemahan pasar saham, diikuti nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kembali mencapai Rp18.000/US$.
Kondisi pasar keuangan yang ambruk salah satunya dipengaruhi oleh usulan MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar tersendiri (standalone market).
Pihak Equity Analyst Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus memperkirakan tekanan masih akan berlanjut pada pekan ini diiringi dengan aksi jual asing. "Dalam jangka pendek, IHSG berpotensi melanjutkan koreksinya setelah breakdown support dan mengalami trading halt di awal sesi hari ini dengan target koreksi 4,938-4,987," katanya seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (18/10/26).
"Aksi jual asing berpotensi berlanjut dengan YTD: Rp84.85 triliun dengan net foreign sell intraday 16 Oktober 2026 sebesar Rp2.92 triliun," tambahnya.
Dikatakannya, katalis pemulihan sentimen dapat dibuktikan dengan perbaikan tata kelola yang terukur dan konsisten, khususnya dalam keterbukaan kepemilikan, penegakan aturan perdagangan, dan akurasi free float.
"Ke depan, V-Shape recovery berpotensi terjadi akibat terbentuknya gap di area 5,804 setelah katalis pemulihan mulai direspon positif oleh pasar," ujarnya.
Sementara itu, laporan Ekonom Bank Danamon menunjukkan potensi aksi jual ekuitas oleh pihak asing sebesar US$2,9-5,8 miliar atau Rp52,35 triliun hingga Rp104,71 triliun (kurs: Rp18.000/US$) modal asing akan keluar dari pasar saham Indonesia jika kelas pasar saham Indonesia turun ke standalone market. Adapun posisi tengahnya ada di US$4,3 miliar atau Rp77,63 triliun.
Adanya estimasi tersebut dihitung oleh Danamon dengan menerapkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Market (per September 2026) sebesar 0,43% terhadap total aset acuan senilai US$1,8 triliun yang mengacu pada lingkup indeks MSCI Emerging Market.
"Skenario dasar mengasumsikan bahwa dana pasif mencakup 40 persen dari eksposur tersebut dan akan keluar sepenuhnya jika penghapusan dari tolok ukur benar-benar terjadi, yang menghasilkan aksi jual sebesar US$3,1 miliar," tulis laporan Indonesia Macro Glint Bank Danamon edisi 16 Oktober 2026, Senin (19/10/26).
"Kami juga mengasumsikan bahwa investor aktif akan menjual 25 persen dari sisa 60 persen porsi mereka, yang menyumbang US$1,2 miliar, sehingga total potensi aksi jual mencapai US$4,3 miliar," kata tim ekonom Danamon.
Sedangkan dengan skenario moderat, Bank Danamon mengasumsikan porsi dana pasif sebesar 30 persen dengan tingkat keluarnya dana aktif sebesar 10 persen dari sisa eksposur, yang menghasilkan aksi jual sebesar US$2,9 miliar atau Rp52,35 triliun.
Lewat skenario berat (severe case) mengasumsikan porsi dana pasif sebesar 50 persen dengan tingkat keluarnya dana aktif sebesar 50 persen dari sisa eksposur, yang menghasilkan aksi jual sebesar US$5,8 miliar atau Rp104,71 triliun.(P-*/am)








