
Warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, membentangkan poster dan spanduk bertuliskan “Rumah Kami Akan Tenggelam Pak Prabowo!! Tolong Kami!”, “Tolong Pak!!! Tambak Kami Hilang”. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk protes di tengah genangan banjir rob yang semakin parah, Jumat (19/6/26). (Courtesy: Kompas.com)PRIORITAS, 21/6/26 (Pati, Jateng): Kehidupan warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sungguh menyedihkan. Mereka bertahan hidup di tengah kepungan banjir rob yang sudah dua tahun tak kunjung surut. Tidur pun di atas air menggunakan bale-bale kayu.

Tidak hanya merendam puluhan rumah, genangan air laut juga menghancurkan sumber penghidupan utama masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani tambak.
Di desa pesisir pantai utara (Pantura) Pulau Jawa ini, banjir rob bukan lagi peristiwa musiman. Air laut yang masuk ke permukiman warga terus menggenang selama bertahun-tahun, memaksa masyarakat beradaptasi dengan kondisi yang serba sulit.
Aktivitas ekonomi terhenti, tambak hilang, dan sebagian warga kini bergantung pada bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Data di lapangan menunjukkan, sedikitnya 40 rumah warga masih terendam banjir rob. Selain itu, sekitar 80 hektare lahan tambak yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat kini tenggelam dan tidak lagi dapat dimanfaatkan.
Tidur di atas air
Dilansir dari _Beritasatu.com_ Minggu (21/6/26), Sugiyono (55 tahun), salah seorang warga Desa Tunggulsari, mengaku telah lebih dari dua tahun hidup dalam keterbatasan akibat banjir rob. Untuk menyelamatkan barang-barang di rumahnya, ia terpaksa meninggikan perabotan agar tidak rusak terendam air.
Kondisi rumah yang selalu tergenang membuat Sugiyono dan istrinya tidak bisa lagi beristirahat dengan nyaman. Mereka kini tidur di atas air, di atas bale-bale kayu yang ditinggikan dari permukaan air.
“Selama 2 tahun pekerjaan terhenti sama sekali. Sebelumnya saya petani tambak, sekarang sudah tidak bisa bekerja karena tambak tenggelam semua,” ungkap Sugiyono saat ditemui, Sabtu (20/6/26).
Sugiyono mengisahkan, hilangnya lahan tambak membuat banyak warga kehilangan sumber penghasilan utama. Sebagian terpaksa mencari pekerjaan serabutan, sementara lainnya bertahan dengan bantuan dari keluarga dan pemerintah desa.
Kondisi yang lebih memprihatinkan dialami pasangan lansia, Suyoto dan Suarti. Selama sembilan bulan terakhir, Suyoto menderita stroke dan hanya bisa terbaring di atas tempat tidur yang berada di tengah rumah yang masih tergenang air setinggi sekitar 30 sentimeter.
Diketahui, di tengah kondisi kesehatan yang menurun, banjir rob semakin memperberat kehidupan keluarga tersebut. Aktivitas sehari-hari menjadi terbatas, sementara kebutuhan hidup harus dipenuhi dengan bantuan dari berbagai pihak.
“Sejak banjir saya tidak bisa kerja. Makan sehari-hari hanya mengandalkan bantuan dari keluarga, tetangga, dan relawan,” tutur Suyoto lirih.
Akibat tanggul jebol
Warga menyebut bencana yang mereka alami bermula dari jebolnya tanggul laut sepanjang 110 meter sekitar dua tahun lalu. Kerusakan tanggul membuat air laut terus masuk ke kawasan permukiman dan lahan produktif warga tanpa penghalang yang memadai.
Banjir rob terus menggenangi desa dan merusak berbagai fasilitas. Akses jalan lingkungan ikut terdampak sehingga mobilitas masyarakat terganggu dan aktivitas ekonomi semakin melemah.
Di tengah kondisi yang serba sulit, masyarakat masih menyimpan harapan agar pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera melakukan penanganan yang lebih komprehensif.
“Perbaikan tanggul bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan harapan bagi kami untuk bisa kembali memiliki rumah yang layak dan kehidupan yang lebih baik,” ujar salah seorang warga.
Warga berharap solusi permanen dari pemerintah segera diwujudkan agar kehidupan masyarakat pesisir yang telah lama terdampak banjir rob dapat kembali pulih dan produktif. (P-*/hdt)

