
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth. (‘Courtessy’ Beritasatu.com/AP Photo/Mark Schiefelbein)PRIORITAS, 26/4/26 (Pentagon): Beritaprioritas.com mendapatkan informasi, secara terang-terangan pihak Pentagon melalui Menteri Perang (Menteri Pertahanan) Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, menyatakan, blokade terhadap pelabuhan Iran semakin diperketat, dan tidak ada kapal yang dapat meninggalkan Selat Hormuz tanpa izin Angkatan Laut AS.

Laporan terkini tersebut juga menyebutkan, Hegseth mengungkapkan, Angkatan Laut AS telah memaksa 34 kapal berbalik arah di Selat Hormuz, demikian dilansir Beritasatu.com, Sabtu (25/4/26) tadi malam.
“Blokade kami meluas dan bersifat global. Tidak ada kapal yang dapat meninggalkan Selat Hormuz tanpa izin Angkatan Laut AS,” tegas Hegseth.
Iran tidak menjadi ‘Irak lain’

Selanjutnya Hegseth juga menegaskan, Iran tidak akan menjadi “Irak yang lain” dan menolak anggapan, AS berada dalam situasi buntu di Timur Tengah saat ini.
“(Namun) pada akhirnya, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” tandasnya, seraya menyebut misi tersebut sebagai “hadiah untuk dunia”.
Pertimbangkan sanksi untuk anggota NATO
Disebutkan pula, pernyataan ini muncul di tengah laporan, Pentagon tengah mempertimbangkan opsi sanksi terhadap sekutu NATO yang dinilai tidak kooperatif dalam kampanye melawan Iran belakangan ini.
Ditambahkan, kebocoran email internal menunjukkan adanya kekecewaan terhadap sejumlah negara sekutu yang menolak memberikan akses pangkalan dan wilayah udara bagi operasi AS saat ini.
Diungkapkan, dalam dokumen tersebut bahkan muncul opsi ekstrem seperti penangguhan keanggotaan NATO bagi negara yang dianggap tidak kooperatif, termasuk Spanyol. Namun, pejabat NATO langsung membantah kemungkinan itu.
Diketahui, ketegangan dalam NATO semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut berulang kali mengkritik negara-negara Eropa, memangkas bantuan militer, hingga memberlakukan tarif perdagangan ketat.
Pertimbangkan langkah strategis sendiri
Sementara itu, di tengah situasi ini, Uni Eropa mulai mempertimbangkan langkah strategis sendiri, termasuk menyiapkan mekanisme bantuan timbal balik di dalam blok mereka.
Misalnya, Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk menyoroti ketidakpastian hubungan transatlantik. “Pertanyaan terbesar bagi Eropa adalah apakah Amerika Serikat merupakan mitra NATO yang dapat diandalkan jika terjadi serangan,” tanyanya lagi. (P-*r/Bst/jr)

