Namun, ia tidak merinci jumlah transaksi yang terjadi pada kuartal pertama dan kedua tahun ini.
Meningkat 11 kali lipat
Meski begitu, Airlangga memaparkan data pertumbuhan transaksi belanja daring pada tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2024, tercatat 3,24 miliar transaksi online, meningkat lebih dari 11 kali lipat dibandingkan tahun 2018 yang hanya mencapai 80 juta transaksi.
Ia menjelaskan, lonjakan transaksi tersebut sebagian besar didorong oleh meningkatnya pembelian produk perawatan pribadi, kosmetik, serta barang-barang kebutuhan rumah tangga dan kantor.
Pada tahun 2024, total nilai transaksi untuk produk perawatan pribadi dan kosmetik mencapai Rp67,6 triliun, mengalami kenaikan sebesar 16,95 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tumbuh hingga 29,38 persen
Sementara itu, transaksi untuk produk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran tumbuh signifikan hingga 29,38 persen secara tahunan, dengan nilai mencapai Rp72,8 triliun.
Airlangga menyatakan data tersebut menunjukkan adanya fenomena pergeseran perilaku masyarakat dalam berbelanja dengan memilih platform daring.
“Kita lihat konsumsi daripada masyarakat, ini terlihat shifting (pergeseran) belanjanya lari ke belanja online,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Antara.
Ia juga menyoroti data kinerja keuangan tiga perusahaan ritel besar di Indonesia yang mengalami pertumbuhan laba dan pendapatan lebih dari 5 persen sepanjang semester I 2025.
Brand internasional
Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (kode emiten: AMRT) atau pengelola Alfamart, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang mengelola penjualan brand internasional seperti SOGO hingga ZARA, serta PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang mengelola toko ritel Sports Station hingga Kidz Station.
Pada semester I 2025, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih AMRT, MAPI, serta MAPA masing-masing mencapai 7,76 persen yoy dan 4,99 persen yoy; 8,72 persen yoy dan 6,85 persen yoy; serta 11,51 persen yoy dan 12,87 persen yoy.
Melihat data tersebut, Airlangga pun menyatakan, isu ‘Rohana’ (Rombongan Hanya Nanya) dan ‘Rojali’ (Rombongan Jarang Beli) yang seringkali dikaitkan dengan pelemahan daya beli masyarakat terlalu dibesar-besarkan.
“(Data transaksi belanja serta pendapatan dan laba ritel) ini menunjukkan, terkait dengan isu Rohana dan Rojali ini, ini isu yang ditiup-tiup (dibesar-besarkan), jadi faktanya berbeda. Dan tentu (data) ini yang harus kita lihat,” tuturnya. (P-Zamir)









