Maximilian Ibrahimovic ke Ajax, siap lepas dari bayang-bayang ayahnya

Khalied Malvino
Kamis, 15 Januari 2026
BOLA 0 366
2 menit membaca


PRIORITAS, 15/1/26 (Amsterdam): Kabar mengejutkan datang dari bursa transfer Liga Belanda setelah kepastian Maximilian Ibrahimovic ke Ajax Amsterdam diumumkan secara resmi oleh pihak klub, Rabu (14/1/26) waktu setempat.

Winger berusia 19 tahun ini didatangkan dari AC Milan dengan status pinjaman selama enam bulan hingga akhir musim, lengkap dengan opsi pembelian permanen di musim panas mendatang.

Langkah ini seolah membuka kembali memori publik Amsterdam akan sosok Zlatan Ibrahimovic, ayah Maximilian, yang pernah menjadi ikon klub dan mencetak 48 gol pada periode 2001–2004 sebelum melalang buana ke klub raksasa Eropa seperti Juventus, Barcelona, hingga pensiun di AC Milan pada 2023.


Direktur Olahraga Ajax, Marijn Beuker menjelaskan, manajemen memiliki rencana terukur untuk talenta muda tersebut.

Maximilian tak akan langsung dibebani ekspektasi tinggi di tim utama, melainkan akan ditempa lebih dulu bersama tim Jong Ajax (U-23) musim ini, dengan proyeksi jangka panjang untuk diintegrasikan secara permanen ke lini serang tim senior.

Pemain yang bergabung dengan akademi AC Milan pada 2022 setelah menimba ilmu di Hammarby IF ini pun menyadari besarnya sorotan yang mengarah padanya.

Namun ia datang dengan mentalitas untuk membangun identitasnya sendiri. Dia menegaskan, kepindahannya ini bukan untuk mendompleng kejayaan masa lalu ayahnya.

“Memang keren ayah saya juga pernah bermain untuk Ajax. Saya senang mendapat kesempatan bermain dan berkembang di sini,” kata Maximilian dikutip dari laman resmi klub.

“Namun, saya ingin menulis cerita saya sendiri. Saya adalah diri saya sendiri sebagai pemain dan saya datang ke sini untuk melakukan hal saya sendiri,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Maximilian menolak jika kariernya terus-menerus dikaitkan dengan bayang-bayang sang ayah yang merupakan top skor sepanjang masa Swedia.

Baginya, nama besar di punggungnya hanyalah sebuah identitas keluarga, bukan beban profesi. Dia bahkan berseloroh bahwa memikirkan beban nama tersebut hanya akan menghambat kariernya.

“Ibrahimovic hanya sebuah nama. Saya hanya Maximilian,” ujarnya.

“Bila saya terlalu memikirkan nama itu, mungkin saya akan kuliah saja, bukan bermain sepak bola. Kalau saya terus membandingkan diri saya dengannya, semuanya akan terasa salah dan tidak menyenangkan,” sambung pemain muda tersebut.

Menutup keterangannya, Maximilian menjelaskan perbedaan mendasar antara gaya mainnya dengan sang ayah. Ia memastikan dirinya adalah tipe pemain yang berbeda, baik dari segi fisik maupun posisi di lapangan.

“Saya bahkan tidak merasa mirip dengannya. Kami bermain di posisi yang berbeda dan tinggi badan saya sekitar tiga atau empat inci lebih pendek. Kami sangat berbeda,” pungkasnya. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan