Mata uang Iran anjlok, 1 dolar AS harus ditukar 1.445.000 rial

Jeffry Wuisan
Selasa, 30 Desember 2025
4 menit membaca

PRIORITAS, 30/12/25 (Teheran): Demonstrasi besar warga Iran selain akibat kemerosotan ekonomi, ternyata dipicu anjloknya mata uang negara tersebut. Mata uang Iran dalam beberapa hari terakhir terpuruk. 1 Dolar AS kini harus ditukar 1.445.000 rial.

Menurut informasi yang dikutip Beritaprioritas.com dari sejumlah media Timur Tengah, hari Selasa (30/12/25), banyak warga Iran melaporkan di berbagai platform media sosial, mereka sangat susah hidup dengan kondisi negara mereka saat ini.

Situs web pemantau harga menyebutkan, 1 Dolar AS diperdagangkan sekitar 1,42 juta rial pada hari Minggu. Sedangkan pada hari Selasa ini penjualan di tingkat pedagang Teheran sudah naik menjadi 1.455.000 rial — dibandingkan dengan 820.000 rial setahun yang lalu.

Nilai uang Iran lebih tak berharga lagi jika ditukar ke mata uang Eropa. 1 Euro mendekati 1,7 juta rial.

“Rial telah anjlok hingga mencapai angka mengejutkan 1.445.000 terhadap 1 dolar AS. Bayangkan tabungan hidup Anda lenyap dalam semalam”, kata seorang warga Iran.

Mereka menyebutkan para ibu tidak mampu membeli susu untuk anak-anak. Begitu pun para pensiunan tidak mampu membeli obat-obatan. “Ekonomi tidak hanya gagal—tetapi telah lenyap”, ujar mereka.

Para pendemo menyalahkan rezim dibawah pimpinan Ayatolah Ali Khamenei, yang banyak menghamburkan uang untuk persenjataan militer dan perang, sehingga negara Iran semakin terpuruk.

Mata uang rial Iran (IRR-Iranian Rial) pada tahun 2010 masih cukup kuat, karena 1 dolar AS masih bernilai 10.000 rial. Tahun 2015 mulai naik,  1 dolar AS sama dengan 32.000 rial.

Tahun 2020 terjadi lonjakan sangat tinggi, 1 dolar harus ditukar dengan 300.000 rial. Hanya dalam tiga tahun, tepat pada tahun 2023 uang Iran semakin anjlok menjadi 1 dolar sama dengan 500.000 rial.

Keterpurukan mata uang Iran terus terjadi selama dua tahun terakhir. Tahun 2024,  1 dolar AS sudah harus ditukar dengan 820.000 rial. Pada akhir Desember tahun 2025 ini 1 dolar AS bernilai 1,445.000 rial.

Dengarkan tuntutan pendemo

Media Arab Saudi, Asharq Al-Awsat, melaporkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mendesak pemerintahannya untuk mendengarkan “tuntutan sah” para demonstran.

Ribuan pendemo yang dimotori pemilik toko di ibu kota Iran,  telah melakukan aksi unjukrasa besar-besaran selama dua hari berturut-turut ini, setelah mata uang Iran terpuruk mencapai titik terendah di pasar tidak resmi.

“Saya telah meminta Menteri Dalam Negeri untuk mendengarkan tuntutan sah para demonstran dengan melakukan dialog dengan perwakilan mereka sehingga pemerintah dapat melakukan segala daya upaya untuk menyelesaikan masalah dan bertindak secara bertanggung jawab,” kata Presiden Pezeshkian, menurut kantor berita Iran, IRNA.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkhian..(iranint’l)

Para pengunjuk rasa menuntut intervensi pemerintah segera untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar dan menetapkan strategi ekonomi yang jelas, demikian dilaporkan kantor berita pro-buruh ILNA.

Fluktuasi harga melumpuhkan penjualan beberapa barang impor, dengan penjual dan pembeli lebih memilih untuk menunda transaksi hingga prospek menjadi lebih jelas.

Kantor berita Fars berhaluan konservatif merilis gambar yang menunjukkan kerumunan demonstran menduduki jalan utama di pusat kota Teheran.

Gambar lain menunjukkan aparat keamanan Iran menembakan gas air mata untuk membubarkan para demonstran.

Akibatnya terjadi bentrokan fisik antar pengunjukrasa dan petugas keamanan. Para pejabat Iran khawatir kerusuhan pengunjurasa dan aparat dapat menyebabkan negara itu lebih terpuruk.

 

Ekonomi terpuruk

Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menyerukan hukuman cepat bagi mereka yang bertanggung jawab atas fluktuasi mata uang.

Pemerintah Iran juga telah mengumumkan penggantian gubernur bank sentral, karena depresiasi tajam mata uang rial Iran.

Pada bulan Desember, inflasi Iran teah mencapai 52 persen secara tahunan, menurut statistik resmi. Namun angka ini masih jauh di bawah kenaikan harga, terutama untuk kebutuhan pokok.

Perekonomian Iran terpuruk akibat sanksi Barat selama beberapa dekade. Terlebih ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir September 2025 lalu memberlakukan kembali sanksi internasional terkait program nuklir negara itu.

Negara-negara Barat dan Israel menuduh Iran berupaya membuat senjata nuklir.

Pada Juni 2025 lalu, Iran terlibat perang 12 hari dengan Israel, yang menyebabkan sekitar 1000 orang tewas termasuk puluhan petinggi militer Iran.

Perang 12 itu membawa malapetaka. Rezim Iran menghabiskan miliaran dolar untuk perang proksi dan peluru kendali (rudal),  sementara rakyat Iran menderita akibat harga kebutuhan pokok melonjak tinggi.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025