Masa depan TikTok di Amerika Serikat aman usai kesepakatan besar dengan investor Amerika Serikat dan Global

Giovanni Riung
Jumat, 19 Desember 2025
3 menit membaca

(FOTO/NURPHOTO GETTYIMAGES)


PRIORITAS, 19/12/25 (Amerika Serikat): Pemilik TikTok asal China, ByteDance, telah menandatangani perjanjian mengikat dengan investor Amerika Serikat dan global untuk menjalankan bisnis TikTok di AS, ungkap pimpinan TikTok kepada para karyawan pada Kamis.

Dalam memo yang dikirim oleh CEO Shou Zi Chew, disebutkan setengah dari perusahaan patungan tersebut akan dimiliki oleh kelompok investor yang mencakup Oracle, Silver Lake, serta perusahaan investasi asal Uni Emirat Arab, MGX.

Kesepakatan ini dijadwalkan rampung pada 22 Januari dan mengakhiri upaya bertahun-tahun pemerintah AS yang ingin memaksa ByteDance melepas operasi TikTok di negaranya karena kekhawatiran keamanan nasional.


Langkah ini sejalan dengan kesepakatan yang diumumkan pada September lalu, ketika Presiden AS Donald Trump menunda penerapan undang-undang yang akan melarang TikTok jika tidak dijual. Dalam memo tersebut, TikTok menyebut kesepakatan ini memungkinkan “lebih dari 170 juta warga Amerika terus menemukan dunia penuh peluang sebagai bagian dari komunitas global yang penting”.

Berdasarkan perjanjian tersebut, ByteDance mempertahankan kepemilikan 19,9% saham, sementara Oracle, Silver Lake, dan MGX masing-masing memegang 15%. Sebanyak 30,1% saham lainnya dikuasai afiliasi investor ByteDance yang sudah ada.

Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan Oracle akan melisensikan algoritma rekomendasi TikTok sebagai bagian dari kesepakatan ini. Oracle didirikan bersama oleh Larry Ellison, pendukung Trump.

Kesepakatan ini tercapai setelah serangkaian penundaan. Pada April 2024, saat pemerintahan Presiden Joe Biden, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mengatur larangan TikTok atas dasar keamanan nasional jika tidak dijual. Aturan tersebut semula berlaku pada 20 Januari 2025, namun beberapa kali ditunda oleh Trump sembari pemerintahannya menyusun skema pengalihan kepemilikan.

Trump menyampaikan pada September lalu ia telah berbicara melalui telepon dengan Presiden China Xi Jinping dan menyebut kesepakatan tersebut mendapat persetujuan. Masa depan TikTok sempat tidak pasti setelah pertemuan langsung para pemimpin pada Oktober, di tengah ketegangan AS–China terkait perdagangan dan isu lainnya.

“TikTok telah menjadi alat tawar-menawar dalam hubungan AS–China yang lebih luas,” ujar Alvin Graylin, dosen di Massachusetts Institute of Technology. Ia menilai persetujuan Beijing atas struktur kepemilikan dan lisensi algoritma mencerminkan upaya meredakan ketegangan secara terukur, sehingga kedua negara dapat mengklaim kemenangan di dalam negeri.

Gedung Putih merujuk BBC ke TikTok saat diminta komentar. Oracle dan Silver Lake menolak memberikan pernyataan, sementara BBC masih menghubungi MGX.

Kesepakatan ini menuai kritik dari Senator Demokrat Ron Wyden dari Oregon, yang menilai langkah tersebut tidak memberikan perlindungan berarti terhadap privasi pengguna Amerika. Menurut ketentuan perjanjian, algoritma rekomendasi TikTok akan dilatih ulang menggunakan data pengguna AS untuk memastikan konten bebas dari manipulasi pihak luar.

Wyden menilai belum jelas apakah langkah itu benar-benar membuat algoritma TikTok lebih aman. Ia sebelumnya menentang undang-undang 2024 dan termasuk anggota Kongres yang mendorong perpanjangan tenggat waktu TikTok demi memberi ruang lebih besar bagi mitigasi risiko dari China.

Sejumlah pengguna juga menunjukkan sikap waspada terhadap masuknya investor baru. Tiffany Cianci, pemilik usaha kecil dengan lebih dari 300 ribu pengikut dan hampir empat juta tanda suka, berharap investor baru tetap menjaga pengalaman pengguna bagi pelaku usaha.

“Saya berharap pelaku usaha kecil tetap dilindungi,” ujarnya. TikTok menyebut lebih dari tujuh juta usaha kecil di AS memasarkan produk dan layanan melalui platform tersebut.

Cianci mengatakan ia masih menahan penilaian apakah aplikasi ini benar-benar terselamatkan bagi usaha kecil. Ia memilih TikTok karena skema bagi hasil yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan pesaing seperti Meta. Selama setahun terakhir, Cianci aktif mengorganisasi aksi protes di Washington dan di TikTok untuk menyelamatkan platform tersebut. (P-Gio R)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan