Lagi-lagi, Trump buat ketegangan dengan mengerahkan armada militer AS ke Iran

Zamir Ambia
Jumat, 23 Januari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 23/1/26 (Jakarta): Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah mengerahkan kekuatan militer AS dalam skala besar ke arah Iran sebagai langkah pencegahan atas meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah, seraya menegaskan harapannya agar pasukan tersebut tidak sampai dikerahkan dalam operasi tempur.

“Kami mengerahkan armada besar ke arah Iran. Banyak kapal menuju ke sana untuk mengantisipasi kemungkinan apa pun. Saya tidak ingin sesuatu terjadi, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” ujar Presiden Donald Trump pada Kamis (22/1/26).

Selain opsi militer, Trump juga menekankan tekanan ekonomi dengan menetapkan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang tetap melakukan perdagangan dengan Iran, sembari menyebutkan bahwa kekuatan militer tersebut kemungkinan tidak akan digunakan.

Mengacu pada keterangan dua pejabat Amerika Serikat, gugus tempur kapal induk beserta sejumlah aset militer tambahan dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang. Kapal induk USS Abraham Lincoln disebut telah meninggalkan wilayah Asia-Pasifik sejak pekan lalu.

Di luar pengerahan kekuatan laut, pemerintah AS juga mempertimbangkan penempatan tambahan sistem pertahanan udara di kawasan tersebut. Sejumlah pengamat menilai kebijakan ini lebih bersifat defensif guna melindungi kepentingan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya, bukan sebagai indikasi dimulainya operasi militer ofensif.

Ketegangan antara Washington dan Teheran kian meningkat setelah serangkaian aksi protes merebak di Iran sejak akhir Desember 2025. Unjuk rasa yang semula dipicu keluhan kalangan pengusaha atas melemahnya nilai tukar rial dan kondisi ekonomi, dengan cepat berkembang menjadi kerusuhan yang menimbulkan korban jiwa.

Peran “agen teroris” Teheran

Teheran menuding adanya peran “agen teroris” dari Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak di balik kerusuhan tersebut. Klaim itu ditepis oleh Departemen Luar Negeri AS, yang menilai Iran tengah berupaya mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan domestik yang dihadapinya.

Presiden Trump sebelumnya sempat menunjukkan dukungan terhadap para pengunjuk rasa, termasuk membuka kemungkinan dilakukannya serangan udara. Namun, sejumlah laporan menyebut negara-negara sekutu utama AS seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Turki, hingga Israel telah memperingatkan Trump soal dampak jangka panjang yang berpotensi merusak apabila opsi militer benar-benar ditempuh.

Peringatan dari para mitra tersebut diyakini menjadi faktor yang mendorong presiden AS menunda keputusan penggunaan kekuatan militer pada saat-saat terakhir, dengan memilih mengandalkan kehadiran armada laut sebagai sarana tekanan diplomatik. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025