Kios anak yatim di Darussalam ‘tersingkir’ permanen, kerabat ungkap kehilangan mata pencaharian, warga soroti rasa keadilan

Johanes Christiaan
Senin, 27 April 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 27/4/2026 (Banda Aceh): Nasib kios kecil milik seorang anak yatim di kawasan Simpang Galon, Darussalam, kembali menjadi perhatian publik. Kios yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga tersebut kini disebut tidak lagi dapat ditempati, sehingga pengelolanya kehilangan mata pencaharian utama.

Informasi tersebut disampaikan oleh kerabat keluarga, Rika, yang menyebut lapak tersebut telah diambil alih oleh pihak yang disebut sebagai pemilik lama.

“Lapak mereka sudah diambil alih sama pemilik lama, kini si anak yatim itu kehilangan pencaharian,” ujarnya.

Kios sederhana itu sebelumnya dikelola oleh Yayat, seorang pemuda yatim warga Darussalam. Sejak ayahnya meninggal dunia beberapa tahun lalu, Yayat menjadi tulang punggung keluarga dengan membantu ibunya memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai adik-adiknya.

Dari usaha kecil tersebut, Yayat menjual pulsa, aksesori ponsel, serta kebutuhan ringan lainnya. Meski sederhana, kios itu menjadi sumber utama penghasilan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari, listrik, hingga biaya pendidikan.

Namun dalam beberapa waktu terakhir, kios tersebut menjadi sorotan seiring polemik penertiban di kawasan Simpang Galon. Warga menyebut, setelah ramai diperbincangkan di media sosial, aparat Satpol PP sempat melakukan penataan di lokasi tersebut.

Pasca penertiban, Yayat disebut sempat berupaya kembali membuka usaha. Namun, kesempatan itu tidak berlangsung lama karena lapak yang biasa digunakannya kini telah berpindah tangan.

Kondisi tersebut memicu keprihatinan warga sekitar. Mereka menilai persoalan ini bukan sekadar penataan kawasan, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup keluarga rentan yang bergantung pada usaha mikro.

Sejumlah warga juga menyoroti adanya persepsi ketidakadilan dalam penegakan aturan. Mereka menilai penertiban terlihat tegas saat kios dikelola anak yatim, namun situasi berbeda setelah pengelola berganti.

“Kalau sekarang bukan anak yatim lagi yang jualan, mungkin tak ada lagi yang berani gusur. Itu yang jadi omongan masyarakat,” ujar seorang warga.

Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut. Penataan kawasan dinilai penting, namun perlu diiringi solusi yang adil dan manusiawi bagi warga terdampak.

Kasus ini menjadi gambaran bagaimana perubahan kecil di lapangan dapat berdampak besar bagi kehidupan masyarakat kecil yang bergantung pada penghasilan harian. (P-tim)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025