Foto ilustrasi, kapal tanker di Selat Hormuz. (Dok/Bloomberg)PRIORITAS, 2/3/26 (Jakarta): Harga minyak dunia melonjak signifikan hingga sekitar delapan persen pada perdagangan Senin sore (2/3/2026). Kenaikan tajam ini dipicu memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi di kawasan Timur Tengah, terutama Selat Hormuz yang memiliki peran vital.
Peningkatan harga terjadi setelah Iran melancarkan serangan balasan yang mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, menyusul serangan udara Israel dan AS pada akhir pekan. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sehingga memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia.
Lonjakan harga minyak yang terus berlanjut berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi global sekaligus memicu tekanan inflasi. Di Amerika Serikat, kondisi ini juga diperkirakan akan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen.
Tertinggi sejak Januari 2025
Mengacu pada laporan Reuters, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 13 persen dan menyentuh US$82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025. Namun, pada pukul 16.19 WIB, harga mengalami koreksi dan diperdagangkan menguat 8,2 persen di kisaran US$78,87 per barel.
Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat sempat naik lebih dari 12 persen hingga mencapai US$75,33 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2026. Seiring berjalannya perdagangan, penguatan tersebut berkurang dan harga WTI tercatat naik 7,7 persen ke posisi US$72,17 per barel.
Dipicu oleh konflik geopolitik
Analis Shore Capital, James Hosie, menilai pergerakan harga minyak saat ini mencerminkan tingginya ketidakpastian yang dipicu oleh konflik geopolitik yang masih berlangsung.
“Pergerakan terbaru ini mencerminkan ketidakpastian terkait skala dan durasi konflik saat ini, serta menyadari bahwa masa depan politik Iran dapat berdampak besar terhadap stabilitas Timur Tengah,” imbuhnya.
Sebelumnya, sejumlah analis menilai harga minyak berpotensi dibuka di kisaran US$90 bahkan mendekati level US$100 per barel.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh aksi saling serang yang menyebabkan kerusakan pada kapal tanker serta menghambat distribusi minyak di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan berada di antara Iran dan Oman.
Dalam situasi normal, sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi selat ini setiap hari, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Iran, dan Kuwait. Jalur tersebut juga berperan penting sebagai rute utama pengiriman solar, bahan bakar jet, dan bensin menuju pasar Asia, seperti China dan India. (P-Zamir)