Bantuan difokuskan pada pemulihan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat melalui berbagai program berbasis ketenagakerjaan dan pemberdayaan. Langkah ini diarahkan untuk mendorong masyarakat kembali bekerja, berusaha, serta membangun kemandirian ekonomi.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan empati atas dampak bencana yang dirasakan masyarakat, sekaligus menekankan pentingnya percepatan pemulihan melalui penguatan keterampilan dan penciptaan peluang kerja.
Total bantuan tersebut dialokasikan dalam sejumlah program strategis. Program pelatihan vokasi menyasar 4.516 peserta di Sumatera Utara dengan anggaran Rp16.531.704.000 dan 2.438 peserta di Aceh dengan anggaran Rp8.918.439.000. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi kerja agar masyarakat dapat kembali masuk ke dunia kerja atau membuka usaha mandiri.
Selain itu, program padat karya disiapkan dalam 40 paket kegiatan dengan total anggaran Rp4.000.000.000 guna menciptakan lapangan kerja sementara dan menggerakkan ekonomi lokal di wilayah terdampak.
Program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) turut diberikan dalam 400 paket bantuan senilai Rp2.000.000.000 untuk mendorong tumbuhnya usaha kecil baru di masyarakat. Sementara itu, santunan diberikan kepada 28 pekerja terdampak kategori berat dan sedang dalam bentuk bantuan sosial senilai Rp52.500.000.
Dukungan wirausaha melalui program MPSI juga disalurkan sebesar Rp750.000.000 dalam bentuk pelatihan dan bantuan modal usaha guna memperkuat kapasitas pelaku usaha di daerah terdampak.
Kementerian Ketenagakerjaan juga menyiapkan langkah lanjutan melalui pelatihan vokasi berbasis kebutuhan pascabencana, peningkatan keterampilan kerja, serta penguatan produktivitas masyarakat agar pemulihan berlangsung berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan masyarakat terus didorong untuk mempercepat pemulihan ekonomi sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di Sumatera Utara dan Aceh. (P-*r/Humas Kemnaker/Gio R).