ITB kembangkan model pemulihan pascabencana berbasis Psychological First Aid, kesehatan, dan teknologi digital di Bireuen, Aceh

Giovanni Riung
Senin, 10 Agustus 2026
KESRA 0 212
3 menit membaca

PRIORITAS, 10/8/26 (Aceh): Bencana alam di Kabupaten Bireuen, Aceh, tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mengganggu kesehatan serta kondisi psikologis warga terdampak. Ketika masyarakat mulai kembali dari pengungsian, mereka memasuki fase pemulihan yang sangat krusial. Pada tahap ini, para penyintas kerap mengalami kesulitan beradaptasi dan mengatasi trauma. Oleh karena itu, Tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pelatihan khusus bagi Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Bireuen guna mempercepat pemulihan masyarakat.


Pemetaan Masalah dan Tantangan Pemulihan

Pelatihan yang berlangsung pada 3–4 Agustus 2026 ini berfokus pada penguatan kapasitas aparatur pemerintah daerah. Ketua Tim Pengabdian ITB, RR Sri Wachyuni, M.Psi., memimpin kegiatan ini bersama jajaran akademisi lintas disiplin seperti Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., Dr. Dana Waskita, M.App.Ling., Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, M.Si., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C., M.B.A.

Sebelum pelatihan dimulai, tim memetakan kondisi awal terhadap 20 peserta. Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa OPD sebenarnya sudah merancang langkah mitigasi dan respon darurat, seperti edukasi publik serta koordinasi lintas sektor. Namun, peserta menghadapi sejumlah kendala mendasar di lapangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, hambatan koordinasi antarlembaga, akses lokasi yang sulit, hingga kesiapan mental petugas yang belum memadai. Temuan inilah yang menjadi dasar penyusunan materi pelatihan.

Pendekatan Psikososial dan Komunikasi Kebudayaan

Dalam sesi materi, RR Sri Wachyuni memandu peserta memahami konsep Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Melalui PFA, peserta belajar memberikan dukungan awal untuk menghadirkan rasa aman, mendengarkan kebutuhan korban, serta menumbuhkan kembali harapan penyintas. Langkah ini membantu masyarakat membangun kembali stabilitas emosional dan rutinitas harian mereka secara bertahap.


Selain dukungan psikologis, tim ITB menekankan pentingnya strategi komunikasi yang tepat dalam proses pendampingan. Dr. Dana Waskita dan Dr. Tri Sulistyaningtyas membekali peserta dengan keterampilan memilih bahasa yang efektif dan ramah budaya lokal. Istilah yang terlalu teknis atau teoritis justru akan membingungkan masyarakat. Oleh sebab itu, penggunaan kata-kata sederhana dan relevan secara budaya menjadi kunci utama agar masyarakat dapat memahami arahan pemulihan dengan baik.

Inovasi Digital dan Model Pemulihan Berkelanjutan

Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani memaparkan peran teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendukung pemulihan kesehatan. Ia menjelaskan bahwa AI dapat menjadi media edukasi kesehatan sekaligus sarana pendukung swamedikasi yang bertanggung jawab. Kendati demikian, ia mengingatkan petugas untuk tetap bijak memilah informasi valid agar masyarakat terhindar dari hoaks kesehatan.

Selaras dengan hal tersebut, Andi Muhammad Yuandana Putra membagikan materi mengenai sistem komunikasi digital visual. Ia memperagakan cara menyajikan informasi kebencanaan dalam format visual yang menarik dan mudah dicerna oleh publik. Hasilnya, penyampaian pesan darurat maupun arahan pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan akurat.

Melalui sesi workshop di akhir kegiatan, para peserta aktif merancang model pemulihan pascabencana yang sesuai dengan kebutuhan riil di Bireuen. Model ini mengintegrasikan tiga pilar utama: dukungan psikososial, layanan kesehatan, dan teknologi digital. Secara keseluruhan, kolaborasi lintas disiplin ini memberikan rujukan kerja yang komprehensif agar pemerintah daerah dapat mendampingi masyarakat Bireuen hingga mereka benar-benar bangkit dan mandiri kembali.  (P/Gio R)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan