Kilang minyak Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi terbakar akibat serangan Iran awal Maret 2026.(x.antongerashchenko)PRIORITAS, 27/3/26 (Riyadh): Negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Teluk menilai Iran telah melakukan kesalahan besar, karena rudal dan drone Iran lebih banyak menyerang wilayah mereka ketimbang Israel. Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerjasama Teluk menilai Iran telah melakukan kesalahan besar, karena Rudal dan drone Iran lebih banyak menyerang wilayah mereka ketimbang Israel.
Data resmi GCC mengungkapkan, sejak pecah perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel 28 Februari 2026 hingga kini, serangan Iran justru 83 persen lebih banyak menyasar negara-negara Arab Teluk yang tidak terlibat konflik dengan Iran, ketimbang 17 persen ke Israel yang justru berperang langsung terhadap Iran.
Akibat serangan Iran yang dinilai salah sasaran ini, keenam negara anggota GCC kini semakin kuat berniat untuk ikut berperang bersama AS dan Israel menyerang balik ke Iran.
Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari The Independent Persia, hari Jumat (27/3/26), negara-negara anggota GCC terkejut mereka menjadi target serangan dari Iran, meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam serangan ke Iran.
Laporan Stimson Center yang berbasis di Washington pada Rabu menyatakan konflik ini telah berkembang menjadi perang mengerikan yang tidak diinginkan oleh satu pun anggota GCC.
Alih-alih menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS), rentetan serangan Iran justru lebih banyak menghantam fasilitas publik dan pusat ekonomi di negara-negara Teluk.
Menurut laporan Arab News, pada hari pertama pecah perang degan AS-Israel, pecahan rudal Iran menghantam bandara Dubai, hotel Burj Al-Arab, pelabuhan Jebel Ali, hingga pulau buatan Palm Jumeirah.
Iran bahkan sudah menembakkan 2.156 rudal dan drone ke Uni Emirat Arab (UEA) yang menyebabkan dua orang tewas, sehingga merusak reputasi keamanan wilayah tersebut bagi investor dan wisatawan.
Negara lain seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar juga tidak luput dari serangan sejak awal konflik.
Ladang minyak Arab Saudi
Meski Iran berdalih hanya menyerang situs militer AS, kenyataannya kilang minyak Ras Tanura, fasilitas Aramco, hingga ladang minyak Shaybah di Arab Saudi ikut menjadi sasaran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi telah menghadapi serangan 723 drone dan 36 rudal menuju Riyadh.
Seorang warga Yordania yang menetap di Riyadh menceritakan suasana mencekam tersebut kepada AFP pada Jumat (28/02/2026).
“Saya baru saja berjalan keluar bersama anak laki-laki saya ketika kami tiba-tiba mendengar ledakan. Orang-orang di sekitar kami menatap ke langit, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Ini bukan sesuatu yang Anda harapkan di Riyadh,” ujar warga tersebut.
Negara Oman pun turut menjadi korban, padahal sebelumnya aktif memediasi pembicaraan damai antara Iran dan AS.
Sejak Selasa (3/3/2026), infrastruktur minyak dan fasilitas sipil di Oman mulai dihantam serangan udara.
Data terbaru menunjukkan ketimpangan target serangan yang sangat besar.
Sejak 28 Februari, negara-negara GCC telah menerima 4.391 serangan drone dan rudal Iran atau 83%, sedangkan Israel hanya menjadi sasaran 930 serangan atau sekitar 17% saja.
Direktur Council for Arab-British Understanding, Chris Doyle, menilai klaim Iran yang hanya menargetkan pangkalan militer AS sebagai sebuah kebohongan besar.
“Sangat jelas bahwa Iran telah menargetkan bagian-bagian penting dari infrastruktur sipil. Jadi tidak kredibel untuk membuat klaim semacam itu,” kata Doyle kepada Arab News.
Doyle berpendapat strategi Iran adalah membuat perang ini terasa sangat menyakitkan bagi AS, agar segera mencari strategi keluar dan kembali ke meja perundingan.
Dengan membuka front militer yang luas di 12 negara, Iran memaksa AS dan sekutunya mengeluarkan biaya pertahanan yang sangat mahal.
“Adalah asumsi yang wajar bahwa sebagian karena UEA sangat dekat dengan Israel, telah menormalisasi hubungan, dan memiliki hubungan yang sangat dalam sekarang sehingga Iran melihatnya sebagai target pilihan,” tutur Doyle.
Jadi bumerang ke Iran
Direktur di New Lines Institute, Caroline Rose, menyebut strategi Teheran mungkin bertujuan untuk merusak keamanan regional demi menekan negara GCC, agar menjauh dari Israel. Namun, langkah ini justru menjadi bumerang dan berpotensi memicu eskalasi militer yang lebih besar dari negara-negara Arab ke Iran.
“Ini adalah strategi yang kemungkinan besar menjadi bumerang, karena negara-negara seperti Arab Saudi telah membatalkan kebijakan untuk memungkinkan pasukan AS beroperasi dari wilayah mereka dan beberapa di antaranya sedang mempertimbangkan untuk ikut berperang,” ungkap Rose.
Pada Rabu, Dewan Hak Asasi Manusia PBB bersama GCC dan Yordania telah mengesahkan resolusi yang mengutuk tindakan Iran dan menuntut ganti rugi atas kerusakan serta kehilangan nyawa.
Dalam pernyataan bersama, negara-negara Teluk menegaskan mereka memiliki hak penuh untuk mempertahankan diri.
“Kami juga menegaskan kembali hak penuh dan inheren kami untuk membela diri terhadap serangan kriminal ini sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB, yang menjamin hak negara untuk membela diri, baik secara individu maupun kolektif, dalam hal terjadi agresi, dan hak kami untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna menjaga kedaulatan, keamanan, dan stabilitas kami,” bunyi pernyataan tersebut. (P-Jeffry W)