ST4 dan Spirit Kebangsaan Minahasa:
PRIORITAS, 8/11/2025 (JAKARTA) : Gagasan besar sering lahir dari ruang-ruang diskusi. Begitu pula yang terjadi dalam Seminar Nasional Falsafah Sam Ratulangi pada 5 November 2025. Di tengah perbincangan tentang arah demokrasi Indonesia, muncul kesadaran kolektif bahwa pemikiran Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi—Pahlawan Nasional kebanggaan Minahasa—perlu diangkat kembali dalam bentuk yang lebih mudah dipahami publik.
Direktur Eksekutif Sam Ratulangi Institute (SRIN), Jeirry Sumampouw, menjadi salah satu yang paling bersemangat merespons kegelisahan itu. Dengan nada tegas, ia menyatakan bahwa falsafah “Si Tou Timou Tumou Tou” (ST4)—manusia hidup untuk memanusiakan manusia—harus kembali menjadi napas kehidupan sosial dan politik bangsa.
“Saya sepakat bahwa falsafah ST4 yang dipopulerkan Sam Ratulangi harus dibukukan,” ujar Jeirry, yang juga dikenal sebagai pengamat politik nasional.
Dorongan serupa datang dari para peserta seminar. Banyak yang menginginkan agar profil, pemikiran, dan rekam jejak Sam Ratulangi dihimpun dalam satu buku ilmiah populer. Jeirry menyambutnya sebagai amanat moral sekaligus pekerjaan penting untuk masa depan.
Tak lama berselang, dukungan penuh datang dari Ketua Umum DPP GPPMP, Dr. Jeffrey Rawis, penggagas utama berdirinya Sam Ratulangi Institute. Jeffrey dan Jeirry sepakat membentuk Tim Penyusun Buku Falsafah ST4, melibatkan akademisi, peneliti, dan pemerhati budaya Minahasa.
“Kami akan berkolaborasi membentuk tim penyusun buku Falsafah Si Tou Timou Tumou Tou,” kata Jeirry, disetujui Jeffrey Rawis.
Momentum hari lahir Sam Ratulangi
Komitmen ini semakin kuat karena bertepatan dengan momen penting: Hari Lahir Sam Ratulangi sekaligus Hari Jadi Minahasa ke-597, 5 November 2025. Bagi SRIN, tanggal itu bukan sekadar peringatan historis, tetapi pengingat akan tanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai kebangsaan yang pernah diperjuangkan tokoh besar Minahasa tersebut.
Sejak didirikan pada 2021 oleh GPPMP, Sam Ratulangi Institute memang menempatkan pendidikan karakter kebangsaan sebagai inti kegiatannya. Tahun ini, semangat itu diterjemahkan lewat Seminar Nasional bertajuk “Makna Falsafah Si Tou Timou Tumou Tou (ST4) dalam Konteks Demokrasi Kekinian.”
Seminar menghadirkan tiga pemikir Kawanua terkemuka—Prof. Ir. Rudy C. Tarumingkeng, Ph.D; Dr. Benny Matindas; dan Jeirry Sumampouw—dengan Sonya Hellen Sinombor (Kompas) sebagai moderator. Diskusinya cair, mendalam, dan kaya perspektif.
Kini, hasil pemikirannya akan dituangkan ke dalam sebuah buku. Sebuah upaya konkret untuk memastikan nilai luhur ST4 tetap hidup—tidak hanya dalam sejarah, tetapi dalam tindakan dan kebijakan masa kini. (P-fry/bwl)
No Comments