
Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo (kelima dari kiri) bertemu jajaran perusahaan Amerika di Washington, Selasa (28/7/26) lalu, atas inisiatif Dewan Bisnis AS-ASEAN. (KBRI Washington DC)PRIORITAS, 6/8/26 (Washington): Dalam diskusi internasional di Washington D.C., Amerika Serikat (AS), Indonesia mengeksplorasi peluang kerja sama di sektor pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, teknologi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan AS.

Demikian pokok-pokok hasil pertemuan antara Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo dengan jajaran perusahaan Amerika di Washington, Selasa (28/7/26), atas inisiatif Dewan Bisnis AS-ASEAN.
“Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat tidak boleh berhenti pada angka perdagangan,” kata Dubes Indroyono dalam keterangan tertulis KBRI Washington DC yang diterima di Jakarta, Jumat lalu.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perdagangan dan investasi bisa menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membawa teknologi baru ke Indonesia,” katanya lagi.

Adapun pertemuan itu memperlihatkan luasnya spektrum kepentingan bisnis AS di Indonesia.
Hubungan kerja sama di berbagai sektor
Misalnya di sektor penerbangan, Boeing memiliki hubungan jangka panjang dengan Indonesia melalui penggunaan pesawat komersial oleh maskapai nasional, sekaligus membuka peluang penguatan rantai pasok dan industri komponen pesawat di dalam negeri.
Sementara di bidang pertahanan dan kedirgantaraan, Lockheed Martin menjadi salah satu perusahaan yang melihat peluang kerja sama dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan serta penguatan kapasitas industri nasional.
Kemudian di sektor pertambangan, Freeport-McMoRan melalui PT Freeport Indonesia terus menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya mineral, termasuk investasi pada infrastruktur pertambangan dan fasilitas pengolahan serta pemurnian mineral.
Lalu di sektor pangan juga menjadi salah satu fondasi penting hubungan ekonomi kedua negara.
Adapun Cargill memiliki peran dalam perdagangan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gandum, sedangkan Caterpillar telah memasok peralatan berat untuk sektor pertambangan dan konstruksi di Indonesia sejak 1971.
Sementara di sektor konsumsi dan keberlanjutan, PepsiCo menjalankan berbagai inisiatif lingkungan, termasuk pengelolaan kemasan dan penanaman pohon.
Perkembangan teknologi menghadirkan dimensi baru
Selanjutnya, ia mengatakan, perkembangan teknologi menghadirkan dimensi baru dalam hubungan ekonomi Indonesia–AS.
Misalnya NVIDIA, terlibat dalam pengembangan talenta AI bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.
Lalu Walmart Foundation turut mendorong penguatan rantai pasok berkelanjutan dan kesejahteraan petani, sedangkan Chubb berkontribusi dalam pengembangan literasi keuangan dan manajemen risiko.
Investasi awal 2026: 1,7 miliar dolar
Sementara itu, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York Tessal Maharizky Febrian dalam pertemuan tersebut memaparkan bahwa investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada semester pertama 2026 telah mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS.
Di 2025, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 31 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia secara global.
Lalu nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat sekitar 43,8 miliar dolar AS.
Adapun komoditas utama ekspor Indonesia ke AS antara lain produk elektronika sekitar 6 miliar dolar AS, tekstil 4,9 miliar dolar AS, alas kaki 2,8 miliar dolar AS, minyak sawit 2,1 miliar dolar AS, furnitur 1,4 miliar dolar AS, serta produk perikanan sekitar 1,2 miliar dolar AS.
Sementara Indonesia mengimpor berbagai produk dari AS, antara lain kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang dan produk ruang angkasa atau satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.
Memiliki fondasi yang kuat
Dubes Indroyono mengutarakan, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Jakarta dan Washington memiliki fondasi yang kuat, tetapi masih menyimpan ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar.
Adapun pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang strategis, posisi geografis yang penting, serta agenda transformasi digital dan industrialisasi yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kemitraan dengan perusahaan-perusahaan AS.
Kendati demikian, ia menyoroti sejumlah hal yang dinilai perlu diperkuat, antara lain perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Juga, para pelaku usaha AS dalam pertemuan tersebut menyampaikan sejumlah masukan mengenai iklim investasi di Indonesia.
Misalnya reformasi perizinan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko dinilai sebagai langkah positif dalam menciptakan kepastian dan kemudahan berusaha.
Adapun masukan tersebut menjadi penting karena kompetisi untuk menarik investasi global semakin ketat, ujar Indroyono.
Dikatakan, Indonesia tidak hanya bersaing untuk mendapatkan modal, tetapi juga harus mampu menjadi tempat di mana teknologi, talenta, industri, dan rantai pasok global dapat tumbuh bersama.
Karenanya, kerja sama antara Indonesia dan AS diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan nilai investasi dan ekspor, tetapi juga membawa Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global—dari pemasok bahan mentah menjadi negara yang semakin kuat dalam industri pengolahan, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia, demikian keterangan KBRI Washington DC. (P-*/mj)

