Perang dan konflik menghancurkan infrastruktur layanan kesehatan lokal, pada akhirnya memperburuk dampak polusi udara. Inilah alasan mengapa negara-negara di peringkat 10 besar menjadi sangat rentan terhadap polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan.
Sebagai contoh, di Lebanon, krisis listrik terjadi akibat keruntuhan ekonomi pada tahun 2019. “Hal ini mendorong peningkatan penggunaan generator diesel, yang berpotensi memperburuk kualitas udara bagi mereka yang sudah rentan terhadap polusi,” ucap laporan tersebut.
Kehidupan jutaan orang di Suriah terguncang akibat perang saudara, berlangsung lebih dari satu dekade serta kemerosotan ekonomi. “Tingkat trauma dan stres yang tinggi dapat mempengaruhi kesehatan mental, sering kali mengarah pada perilaku merugikan seperti merokok,” jelas IFL Science.
Faktor-faktor lain spesifik untuk masing-masing negara juga turut berperan. Di Yaman, misalnya, kebiasaan mengunyah daun khat sebagai stimulan rekreasi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Di sisi lain, lebih dari 95% rumah tangga di Madagaskar masih menggunakan bahan bakar biomassa setiap hari.
“Paparan terhadap bahan bakar ini dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak,” ucap IFL Science. (P-Zamir)