Eskalasi perang antara AS-Iran, Indonesia evaluasi dampak kenaikan harga minyak pada APBN

Zamir Ambia
Selasa, 3 Maret 2026
Ekonomi NEWS 0 302
2 menit membaca

PRIORITAS, 3/3/26 (Jakarta): Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pihaknya masih mengkaji dampak kenaikan harga minyak global imbas konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran terhadap APBN 2026.

“Di dalam APBN, harga ICP (harga minyak mentah Indonesia/Indonesian Crude Price) itu 70 dolar AS per barel, dan sekarang harga minyak sudah naik menjadi 78–80 dolar AS per barel,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/26), dikutip dari Antara.

Sebagai negara pengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, lonjakan harga tersebut berpotensi menekan APBN melalui peningkatan beban subsidi energi. Di sisi lain, Indonesia turut menikmati tambahan penerimaan negara dari kenaikan harga minyak dunia itu.

“Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung,” kata Bahlil.

Berkaitan dengan subsidi energi domestik

Bahlil menyatakan, penghitungan itu akan dilakukan secara cermat karena berkaitan langsung dengan subsidi energi domestik.

“Kami harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya, dengan tetap memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri,” imbuhnya.

Pada Sabtu (28/2/26), Amerika Serikat dan Israel menggempur sejumlah sasaran di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Aksi militer itu dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta jatuhnya korban sipil. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Sehari berselang, Minggu (1/3/26), Presiden AS Donald Trump menyatakan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia akibat operasi gabungan tersebut. Televisi pemerintah Iran turut membenarkan kabar wafatnya Khamenei imbas serangan itu.

Sejumlah media Iran juga mengabarkan Selat Hormuz kini “secara efektif” tertutup setelah serangan AS-Israel, walau belum ada pernyataan resmi terkait pemberlakuan blokade.

Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global, sekaligus mengalirkan ekspor gas alam cair dalam jumlah besar dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Sekitar 20 persen kebutuhan minyak harian dunia, setara kurang lebih 20 juta barel, melewati perairan strategis tersebut setiap hari. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025