Ekonom ungkap likuiditas jadi kunci kredibilitas bursa mineral dan komoditas

Zamir Ambia
Minggu, 16 Agustus 2026
Bisnis EKBIS 0 248
2 menit membaca

PRIORITAS, 16/8/26 (Jakarta): Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai likuiditas perdagangan menjadi faktor penting bagi kredibilitas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Pemerintah menargetkan bursa tersebut mulai beroperasi pada Januari 2027.


Yusuf mengatakan bursa komoditas membutuhkan kedalaman pasar untuk membentuk harga acuan kredibel. Likuiditas tinggi juga membuat harga tidak mudah dipengaruhi satu pihak.

Ukuran Keberhasilan Bursa Komoditas

Yusuf menilai volume perdagangan fisik dapat menjadi indikator utama keberhasilan bursa. Komoditas tersebut meliputi nikel, batu bara, dan sawit. Ia menyarankan evaluasi volume transaksi selama dua hingga tiga tahun pertama operasional.

Pengalaman Bursa CPO (crude palm oil) Indonesia sejak 2023, lanjut Yusuf, dapat menjadi bahan evaluasi. Pengalaman tersebut penting bagi pengembangan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.


Harga CPO Indonesia masih berada di bawah harga acuan Malaysia dan Rotterdam. Kondisi itu menunjukkan kedalaman pasar domestik belum memadai. Alhasil, pasar belum mampu membentuk harga CPO sebagai representasi nilai komoditas secara kredibel.

“Kalau kondisi ini berulang, bursa akan lebih banyak dipandang sebagai kewajiban administratif daripada tempat pembentukan harga,” ujarnya, dikutip dari Antara.

Di luar likuiditas, Yusuf menilai bursa membutuhkan ekosistem perdagangan fisik yang kuat. Kebutuhan tersebut mencakup gudang dan fasilitas penyimpanan tersertifikasi, standar mutu berkelas internasional, serta titik serah yang jelas.

Lembaga kliring juga harus memiliki modal dan dana jaminan memadai. Kelengkapan tersebut akan menghubungkan harga bursa dengan transaksi serta penyerahan fisik komoditas.

Agar berfungsi sebagai referensi harga, bursa perlu masuk dalam kontrak perdagangan internasional. Karena itu, pemerintah perlu membuka akses bagi pembeli dan pedagang asing. Kepastian aturan juga penting agar pelaku pasar dapat melakukan lindung nilai.

Cegah Konflik Kepentingan

Yusuf menekankan pemisahan fungsi antara pemilik bursa, pengelola kliring, regulator, dan pelaku perdagangan negara. Langkah ini dapat menjaga independensi sekaligus mencegah konflik kepentingan.

Tata kelola, lanjut dia, menjadi salah satu risiko reputasi. Pemerintah perlu mengantisipasi persoalan tersebut sejak awal operasional Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.

Target Operasional 2027

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Kehadirannya diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam menentukan harga komoditas ekspor strategis.

Melalui bursa tersebut, pemerintah akan membangun Indonesia Reference Price. Harga acuan nasional itu nantinya berlaku bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor.

Selain membentuk harga acuan, pemerintah menargetkan pasar lebih dalam, transparan, dan likuid. Bursa akan mempertemukan produsen, petani, eksportir, pembeli, dan investor dalam satu ekosistem perdagangan.

Keterbukaan data transaksi juga menjadi bagian dari pengembangan bursa. Langkah itu diharapkan meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap harga komoditas Indonesia. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan