Ekonom nilai pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 melebihi perkiraan pasar

Zamir Ambia
Kamis, 5 Februari 2026
Ekonomi NEWS 0 504
3 menit membaca

PRIORITAS, 5/2/26 (Jakarta): Faisal Rachman, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Permata Bank, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 berada di atas perkiraan pasar. Kondisi ini menunjukkan penguatan permintaan domestik.


Merujuk rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis, perekonomian dalam negeri tumbuh 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal IV 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan kuartal sebelumnya yang tercatat 5,04 persen (yoy).

“Angka ini (kuartal IV 2025) melampaui proyeksi kami sebesar 5,25 persen (yoy) dan konsensus pasar sebesar 5,10 persen (yoy),” ucap Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/2/26).

Faisal menambahkan, penguatan permintaan domestik turut ditopang lonjakan konsumsi dan mobilitas masyarakat saat libur akhir tahun, peningkatan belanja pemerintah dalam rangka agenda pro-pertumbuhan, serta perbaikan aktivitas investasi.


Secara keseluruhan, ekonomi sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar 5,03 persen (yoy). Menurut Faisal, hasil tersebut menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang kian kokoh.

Peningkatan permintaan dalam negeri

Dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi pada kuartal IV 2025 terutama ditopang peningkatan permintaan dalam negeri, meliputi konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), serta belanja pemerintah.

Sebagai kontributor terbesar terhadap PDB, konsumsi rumah tangga mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,11 persen (yoy), naik dari 4,89 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. Angka ini menandai kembalinya laju pertumbuhan ke level pra-pandemi yang berada di atas lima persen.

PMTB yang merupakan komponen terbesar kedua dalam PDB naik dari 5,04 persen (yoy) menjadi 6,12 persen (yoy). Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan investasi, baik pada sektor bangunan maupun non-bangunan.

Kebijakan pro-pertumbuhan

Di sisi lain, belanja pemerintah secara agregat mengalami perlambatan dari 5,66 persen (yoy) menjadi 4,55 persen (yoy). Penurunan ini terjadi karena sebagian kebijakan pro-pertumbuhan diarahkan langsung untuk mendorong konsumsi rumah tangga serta kegiatan investasi.

Kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan PDB tercatat menyusut, sejalan dengan perlambatan laju ekspor dari 9,14 persen (yoy) menjadi 3,25 persen (yoy).

Faisal menilai kondisi tersebut mencerminkan fase normalisasi setelah lonjakan ekspor sebelumnya (front-loading) menjelang penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat pada Agustus 2025, ditambah perlambatan ekonomi Tiongkok yang masih berlanjut.

Di sisi lain, pertumbuhan impor meningkat dari 0,86 persen (yoy) menjadi 3,96 persen (yoy), sejalan dengan percepatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).

Berasal dari Industri hingga pertanian

Secara sektoral, sumber utama pertumbuhan pada kuartal IV 2025 tetap berasal dari industri manufaktur, perdagangan, serta pertanian, didukung penguatan permintaan domestik.

“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat pada 2026, meskipun terdapat sejumlah risiko utama yang perlu dicermati,” imbuh Faisal.

Faisal menyampaikan pada tahun ini, risiko utama yang membayangi prospek ekonomi Indonesia secara umum masih sejalan dengan kondisi pada 2025.

Secara umum, tim ekonom Permata Bank memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan berada di kisaran 5,1–5,2 persen pada 2026.

Pertumbuhan ekonomi berpeluang naik ke rentang 5,2–5,3 persen jika tekanan eksternal mereda secara nyata, situasi politik dalam negeri lebih kondusif, serta reformasi struktural mulai membuahkan hasil. Kombinasi ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan konsumen dan pelaku usaha.

Sebaliknya, potensi risiko penurunan dapat muncul bila pemerintah gagal menyeimbangkan agenda pro-pertumbuhan dengan langkah menjaga stabilitas makroekonomi. (P-*r/Zamir Ambia)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan