
Pasangan ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Bersama satu pasangan ganda campuran lainnya, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, atlet bulutangkis nasional Indonesia ini ditarik dari ajang Kejuaraan Dunia BWF 2026 akibat terindikasi dugaan skandal pengaturan skor pertandingan. (Dok. PBSI) PRIORITAS, 13/8/26 (Jakarta): Dua pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia, yakni Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, dipastikan ditarik dari ajang BWF World Championships 2026.

Kedua pasangan ganda campuran tersebut terindikasi terlibat dalam match fixing atau skandal pengaturan skor pertandingan. Namun tidak disebutkan dalam turnamen apa dan kapan kedua pasangan itu diduga terlibat pengaturan skor.
Kepastian tersebut disampaikan Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) dalam unggahan melalui akun resmi PP PBSI yang beredar sejak Rabu dan dilansir Beritaprioritas.com Kamis (13/8/26).
Diketahui, match fixing atau pengaturan skor dikategorikan sebagai tindakan curang memanipulasi hasil atau jalannya sebuah pertandingan olahraga agar berakhir sesuai keinginan pihak tertentu. Praktik ini melanggar sportivitas dan biasanya dilakukan demi keuntungan finansial dari judi ilegal atau kepentingan posisi tim di klasemen.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan Sekjen Ricky Soebagdja tersebut, disampaikan bahwa PP PBSI melakukan penyesuaian komposisi wakil Indonesia pada sektor ganda campuran untuk Kejuaraan Dunia BWF 2026.
Dikatakan, sebagai bagian dari penyesuaian tersebut, pasangan Jafar Hidayatullah/Felishia Alberta Nathanaiel Pasaribu, serta Adam Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, tidak akan mengikuti Kejuaraan Dunia BWF 2026.
Diungkapkan, keputusan tersebut merupakan bagian dari langkah organisasi dalam memastikan seluruh proses administrasi dan keikutsertaan atlet pada kejuaraan internasional berjalan sesuai dengan regulasi serta mekanisme yang berlaku.
Selanjutnya disebutkan, secara terpisah PP PBSI mengetahui bahwa Badminton World Federation (BWF) saat ini sedang menjalankan proses peradilan independen (judicial proceedings) terkait dugaan pelanggaran integritas yang melibatkan sejumlah pemain Indonesia.
“PB PBSI menghormati dan mendukung sepenuhnya mekanisme yang diterapkan BWF sebagai bagian dari upaya menjaga integritas olahraga bulutangkis serta menghormati independensi proses yang sedang berlangsung,” sambung pernyataan tersebut.
Lebih lanjut dikatakan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam proses tersebut, PP PBSI tidak akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai substansi perkara maupun mengaitkan proses yang sedang berlangsung dengan atlet tertentu.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk media dan masyarakat, untuk menghormati proses yang sedang berjalan dan menghindari spekulasi hingga terdapat keputusan resmi dari Independent Panel BWF,” bunyi pernyataan itu selanjutnya.
Dijelaskan, PP PBSI akan terus berkoordinasi dengan BWF dan memastikan setiap langkah organisasi dilaksanakan sesuai prinsip tata kelola yang baik, kepatuhan terhadap regulasi, perlindungan hak-hak atlet, serta komitmen terhadap integritas olahtaga bulutangkis.

Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia lainnya yang diduga terlibat ‘match fixing’. Penyelidikan oleh BWF masih berlangsung. (Courtesy: X-INABadminton)
Menurut sumber, saat ini tengah menjalankan penyelidikan terkait dugaan pelanggaran integritas yang melibatkan sejumlah atlet. Dalam kasus tersebut, atlet Indonesia diduga turut terseret, khususnya dari sektor ganda campuran.
Oleh karena itu, penarikan mundur pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, dari ajang BWF World Championships 2026, belum bisa disebut hukuman yang bersifat final.
Kedua pasangan masih harus menunggu hasil penyelidikan BWF. Menurut sumber Beritaprioritas.com, kalau pun ada pelanggaran, belum tentu itu merupakan kesalahan atlet. “Bisa saja atket hanya melaksanakan perintah pelatih atau induk organisasi,” katanya di Jakarta, Kamis (13/8/26).
BWF sendiri kabarnya sudah mengirimkan kembali aturan integritas induk organisasi bulutangkis dunia itu ke PP PBSI untuk dipelajari atlet Indonesia imbas dugaan pengaturan pertandingan atau match fixing.
Dihimpun dari berbagai sumber, dalam dunia olahraga match fixing tergolong pelanggaran sangat berat. Hukumannya pun tak main-main. Siapa pun yang terbukti terlibat dalam pelanggaran tersebut, bisa dihukum tak boleh melakukan aktivitas di bidang olahraga tersebut seumur hidup.
Di dunia olahraga bulutangkis Indonesia sendiri, kejadian pelanggaran berbentuk match fixing pernah terjadi. Pada Januari 2020, BWF menjatuhkan sanksi tegas larangan bermain seumur hidup kepada tiga pebulu tangkis profesional Indonesia yang terbukti terlibat match fixing.
Pertama adalah Hendra Tandjaya. Ia dinilai paling bertanggung jawab dalam kasus skandal pengaturan skor pada masa lalu. Berdasarkan investigasi BWF, ia terbukti terlibat dalam pengaturan hasil sepuluh pertandingan berbeda serta kedapatan melakukan taruhan dalam laga bulu tangkis, yang berujung pada sanksi larangan bermain seumur hidup.
Kedua Androw Yunano. Pebulu tangkis non-pelatnas berikutnya yang dijatuhi hukuman berat seumur hidup adalah Androw Yunano. Ia terbukti sengaja memanipulasi hasil dari empat pertandingan resmi dan mendapatkan keuntungan pribadi dari tindakan curang tersebut, ditambah sikapnya yang dinilai tidak kooperatif selama proses penyelidikan oleh BWF.
Ketiga Ivandi Danang. Ia menerima sanksi terberat dari BWF karena terbukti memanipulasi hasil dua pertandingan. Ironisnya, dalam praktiknya, ia bahkan kedapatan ikut membiayai pertandingan yang diatur tersebut hingga akhirnya karier profesionalnya harus diakhiri secara permanen. (P-Ant/*/ht)

