Dua hari berturut-turut derek proyek di Thailand roboh timpa orang

Jeffry Wuisan
Kamis, 15 Januari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 15/1/26 (Bangkok):  Dua insiden mematikan terjadi di Thailand. Dalam dua hari berturut-turut, dua derek proyek roboh dan membunuh banyak orang.

Hari Kamis 15 Januari 2026, sebuah derek (crane) besi yang dipakai dalam konstruksi pembangunan jembatan layang roboh dan menimpa dua mobil di jalan Rama 2 di Samut Sakhon, Thailand. Dua orang dipastikan tewas.

Sehari sebelumnya, Rabu 14 Januari 2026, sebuah derek proyek juga roboh di Nakhon Ratchasima dan menimpa sebuah kereta penumpang yang sedang melaju di bawahnya. Sebanyak 32 orang dinyatakan tewas dan 66 lainnya luka-luka.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyesalkan dua insiden runtuhnya derek dalam dua hari.

Ia mengatakan hanya Thailand yang pernah mengalami kejadian serupa.

Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari media Thailand, The Nation, hari Kamis (15/1/2026), sebuah derek konstruksi roboh di sisi jalan keluar Jalan Rama 2 di Samut Sakhon, dekat Jembatan Sungai Tha Chin, pada pukul 09.15 pagi.

Derek tersebut jatuh menimpa dua kendaraan sipil, menghancurkannya dan mengakibatkan dua orang di dalamnya tewas.

Di lokasi kejadian, pemandangan tragis terlihat jelas struktur derek baja besi yang besar itu, roboh tepat menimpa dua kendaraan sipil. Kedua mobil tersebut hancur parah.

Relawan penyelamat dari Yayasan Poh Teck Tung (Bang Yi Khan Point) dan unit medis darurat setempat bergegas memberikan pertolongan kepada para korban.

Pihak berwenang menggunakan alat pemotong besi hidrolik (“jaws of life”) untuk segera mengeluarkan orang-orang yang terjepit di dalam mobil yang hancur.

Sebuah derek proyek roboh dan menghantam kereta penumpang di Nakhon Ratchasima, Thailand, hari Rabu 14 Januari 2026 . Sebanyak 32 penumpang tewas. (thenation)

 

Pemerintah prihatin

Pihak berwenang sedang melakukan penyelidikan apa yang menyebabkan derek proyek konstruksi itu roboh.

Runtuhnya derek proyek tersebut telah menimbulkan keprihatinan di kalangan pejabat pemerintah Thailand.

Terlebih sehari sebelumnya tragedi serupa juga terjadi menimpa sebuah kereta api penumpang dari Bangkok ke Ubon Ratchathani, yang sedang melaju di Bangau Nakhon Ratchasima. Insiden itu telah menyebabkan 32 meninggal dunia.

“Yang sangat tragis dan mengkhawatirkan adalah kontraktor yang sama bertanggung jawab atas kedua insiden tersebut,” katanya.

Dua derek yang roboh itu berada dalam proyek jalan yang dikerjakan Italian-Thai Development Plc (ITD).

“Kami telah mengajukan tuntutan pidana terkait insiden berbahaya yang mengakibatkan korban jiwa,” kata Anutin.

Anutin juga menyatakan keprihatinannya tentang undang-undang yang mengatur konstruksi dan kontraktor di Thailand.

“Saya percaya undang-undang yang mengatur konstruksi dan pengawasan kontraktor perlu ditinjau ulang”, tegasnya.

 

Perintah batalkan kontrak

Perdana Menteri Anutin telah memerintahkan Kementerian Perhubungan untuk membatalkan kontrak dengan Italian-Thai Development Plc (ITD) menyusul dua kecelakaan fatal dalam waktu hanya 24 jam.

menyusul dua kecelakaan derek yang berakibat fatal. Kementerian akan mengambil tindakan hukum, dan kontraktor baru akan dicari untuk pekerjaan yang tersisa.

Perdana Menteri sementara Anutin Charnvirakul mengumumkan pada hari Kamis bahwa ia telah menginstruksikan Kementerian Perhubungan untuk membatalkan kontrak

dengan Italian-Thai Development Plc (ITD) menyusul dua kecelakaan fatal dalam waktu hanya 24 jam.

Selain membatalkan kontrak, juga dilakukan tindakan hukum dan memasukkan kontraktor tersebut ke dalam daftar hitam.

Anutin lebih lanjut menekankan pemerintah tidak akan merasa nyaman membiarkan kontraktor tersebut terus bekerja untuk negara. Untuk pekerjaan yang belum selesai, kontraktor baru akan dicari.

Penilaian awal terhadap derek yang roboh menimpa kereta api mengungkapkan kerusakan properti yang signifikan.

Ini termasuk dua gerbong kereta diesel, yang hancur total, dengan perkiraan biaya perbaikan sebesar 105 juta baht. Mengganti gerbong kereta yang rusak akan menelan biaya lebih dari 70 juta baht per unit.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025