DPR desak KBRI ambil langkah darurat lindungi jemaah umrah

Khalied Malvino
Senin, 2 Maret 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 2/3/26 (Jakarta): Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq mendesak pemerintah bergerak cepat. Ribuan jemaah umrah Indonesia terancam terdampak eskalasi konflik di Timur Tengah.

Maman meminta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan Timur Tengah segera mengambil langkah darurat. Perlindungan warga negara Indonesia menjadi tuntutan utama.

Desakan ini muncul setelah serangan Amerika Serikat bersama Israel menghantam Iran. Dampaknya, wilayah udara di sekitar zona konflik ditutup dan sejumlah jemaah tertahan di bandara transit.

“Keselamatan dan perlindungan WNI harus menjadi prioritas utama. Negara wajib hadir memastikan mereka dalam kondisi aman, mendapatkan logistik yang cukup, serta kepastian informasi,” tegasnya.

Data SISKOPATUH mencatat sekitar 58.873 peserta umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jemaah terbanyak di kawasan terdampak.

Maman mendorong koordinasi lintas kementerian segera diaktifkan. Kementerian Luar Negeri, Kementerian Haji dan Umrah, serta Kementerian Perhubungan diminta menyusun skema mitigasi konkret.

Skema itu mencakup pengalihan rute penerbangan dan penyediaan akomodasi sementara. Kebutuhan jemaah terdampak tak boleh dibiarkan tanpa solusi.

“Kami meminta pemerintah melakukan langkah mitigasi cepat. Mulai dari pendataan jemaah terdampak, penyediaan akomodasi hingga skema pemulangan yang aman jika situasi memungkinkan. Jangan sampai jemaah dibiarkan tanpa kepastian di bandara,” tandasnya.

Maman menekankan urgensi pembentukan pusat informasi resmi satu pintu. Langkah ini penting mencegah kepanikan keluarga jemaah di Indonesia.

Informasi dari sumber tak valid berpotensi memperburuk situasi. Pemerintah diminta tampil sebagai rujukan tunggal dan terpercaya.

“Pemerintah harus menjadi rujukan utama informasi dalam situasi krisis ini. Jangan sampai keluarga jemaah mendapatkan informasi dari sumber yang tidak valid,” ujarnya.

Penyelenggara ibadah umrah juga diminta aktif berkoordinasi dengan KBRI. Pendampingan penuh kepada jemaah wajib dipastikan berjalan.

Maman pun mengajak seluruh jemaah tetap tenang di tengah situasi memanas. Instruksi otoritas setempat dan perwakilan RI menjadi pegangan utama.

“Kami berharap jemaah umrah tetap tenang, dan memprioritaskan keselamatan diri,” katanya.

Serangan Israel ke Iran terjadi pada 28 Februari 2026. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi tempur besar-besaran di Iran resmi dimulai.

Salah satu serangan menghantam Teheran. Lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei turut terkena dampak serangan.

Iran merespons dengan meluncurkan roket balasan ke Israel. Sejumlah target di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga menjadi sasaran.

Pada 1 Maret 2026, Iran mengonfirmasi kematian Ali Khamenei. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung 40 hari dan libur kerja sepekan.

Di tengah eskalasi ini, Indonesia mengambil peran diplomatik. Kementerian Luar Negeri menyatakan Presiden Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran.

Misi Prabowo berfokus memfasilitasi dialog antarpihak. Tujuannya menciptakan kembali kondisi keamanan kondusif di kawasan.

Langkah ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara penengah. Di saat dunia memilih sikap, Indonesia memilih jalur damai. (P-Khalied M)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025