Di tengah konflik Israel-Iran, sebagian Lebanon terancam jadi ‘Gaza kedua’

Jeffrey Rawis
Senin, 16 Maret 2026
6 menit membaca

PRIORITAS, 16/3/26 (Jakarta): Saat ini, konflik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya. Ketegangan antara Israel dan Iran tidak hanya memicu serangan langsung di wilayah kedua negara, tetapi juga meluas ke Lebanon, negeri di bagian utara Israel.

Diketahui, negara kecil di pesisir Mediterania itu semakin terseret dalam perang regional yang berpotensi memicu krisis kemanusiaan baru. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan Israel terhadap target di Lebanon meningkat tajam, terutama terhadap kelompok yang didukung Iran, yakni Hizbullah.

Akibatnya, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran, Lebanon dapat mengalami kehancuran serupa dengan yang terjadi di Gaza. Dan, kondisi tersebut memicu perhatian internasional dan menimbulkan pertanyaan apakah Lebanon akan menjadi “Gaza kedua” dalam konflik yang terus meluas di kawasan itu.

Perang Israel-Iran picu front baru di Lebanon

Faktanya, perang yang melibatkan Israel dan Iran saat ini menciptakan efek domino di kawasan Timur Tengah. Lebanon menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena keberadaan Hizbullah, kelompok bersenjata sekutu Iran yang telah lama berkonflik dengan Israel, seterunya.

Dilaporkan, Hizbullah membuka front baru terhadap Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Serangan roket dan drone dari Lebanon ke wilayah Israel utara memicu respons militer besar-besaran dari Israel, yang tentunya enggan wilayahnya diserang.

Adapun situasi tersebut mengubah wilayah perbatasan Lebanon-Israel menjadi medan perang aktif saat ini.

Bahkan, beberapa laporan internasional juga menyebut Israel sedang mempertimbangkan invasi darat besar-besaran ke Lebanon. Operasi tersebut bertujuan merebut seluruh wilayah di selatan Sungai Litani serta menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah di sana.

Dilaporkan pula, rencana ini dinilai berpotensi menjadi invasi darat Israel terbesar ke negara tetangganya di utara sejak tahun 2006 dan dapat menyeret Lebanon ke pusat konflik yang semakin memanas dengan Iran tersebut.

“Kita akan melakukan seperti apa yang kita lakukan di Gaza,” ungkap seorang pejabat senior Israel, merujuk pada perataan bangunan yang menurut Israel digunakan Hizbullah untuk menyimpan senjata dan melancarkan serangan-serangan ke Israel.

Adapun oernyataan itu memperkuat kekhawatiran, strategi militer yang digunakan Israel di Gaza dapat diterapkan juga di Lebanon ini.

Serbuan Israel di Lebanon kian intens

Mulai awal Maret 2026 ini, konflik Israel-Hizbullah meningkat menjadi perang terbuka. Pertempuran tersebut telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan ratusan ribu orang mengungsi di Lebanon, menurut beberapa laporan.

Berdasarkan data terbaru menyebut lebih dari 600 orang tewas, sekitar 1.500 orang luka-luka, dan sekitar 800.000 orang mengungsi akibat konflik. Serangan udara Israel juga menghantam wilayah padat penduduk, termasuk Beirut, salah satu kota penting Lebanon.

Dilaporkan juga, salah satu insiden terjadi pada 12 Maret 2026 ketika serangan drone Israel menghantam area pengungsian di tepi pantai Ramlet al-Baida di Beirut dan menewaskan beberapa warga sipil. Insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang lebih luas lagi.

Kenapa Lebanon bisa terseret dalam perang?

Tentang ini, ada beberapa faktor utama yang membuat Lebanon ikut terseret dalam konflik Israel-Iran, berdasarkan sejumlah analisa.

Disebutkan, faktor paling kuat ialah keberadaan Hizbullah. Kelompok bersenjata ini memiliki hubungan erat dengan Iran dan selama bertahun-tahun menjadi bagian dari jaringan Axis of Resistance yang juga melibatkan milisi di Irak, Suriah, dan Yaman selama ini.

Tatkala konflik Israel-Iran meningkat, Hizbullah dipandang sebagai sekutu penting Iran dalam menghadapi Israel tersebut.

Selsnjutnya, sejumlah analis juga menyebut Lebanon sebagai front kedua dalam konflik regional yang lebih luas. Dalam konteks tersebut, Hizbullah membuka medan pertempuran tambahan untuk menekan Israel dari arah utara wilayahnya.

Dijatakan, strategi ini membuat Israel menghadapi ancaman dari dua arah sekaligus, yaitu Gaza di selatan dan Lebanon di utara, situasi yang diharapkan melemahkan Israel.

Jadi, konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat kini tidak lagi terbatas pada satu wilayah. Analis keamanan dari laporan Atlantic Council memperingatkan, perang ini berpotensi berubah menjadi konflik regional yang melibatkan berbagai aktor, termasuk milisi di Timur Tengah. Karena itu, Lebanon menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik ini.

Lalu, apakah Lebanon benar-benar bisa jadi ‘Gaza Kedua’?

Terhadap pertanyaan ini, banyak dibahas oleh para analis geopolitik. Laporan Al Jazeera menyebut, strategi militer Israel yang digunakan di Gaza, seperti penghancuran infrastruktur dan pemindahan penduduk, mulai terlihat dalam operasi militer di Lebanon saat ini.

Akan tetapi, disebutkan terdapat sejumlah perbedaan penting antara Lebanon dan Gaza yang telah porak poranda.

1. Lebanon negara berdaulat

Jadi, berbeda dengan Gaza yang merupakan wilayah Palestina dengan status khusus, Lebanon ialah negara merdeka yang memiliki pemerintahan dan militer sendiri. Serangan skala besar terhadap Lebanon berpotensi memicu reaksi internasional yang lebih luas lagi.

Adapun dinamika penting yang muncul ialah konfrontasi terbuka antara negara Lebanon dan sayap militer Hizbullah. Berbeda dari persatuan nasional yang biasanya dipertahankan dalam berbagai krisis sebelumnya, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam secara terbuka mengutuk serangan roket Hizbullah itu.

Malahan, ia menyebut tindakan tersebut sebagai langkah tidak bertanggung jawab dan mencurigakan yang membahayakan keamanan nasional negaranya.

Selain itu, Pemerintah Lebanon juga menuntut Hizbullah menyerahkan senjatanya dan membatasi diri pada aktivitas politik. Kondisi itu menandai keretakan mendalam dalam tatanan politik Lebanon saat ini.

2. Hizbullah memiliki kekuatan militer besar

Diketahui, Hizbullah memiliki persenjataan dan struktur militer yang jauh lebih kuat dibandingkan kelompok militan Hamas dll di Gaza. Kondisi ini membuat perang antara Israel dan Hizbullah berpotensi menjadi konflik yang jauh lebih besar lagi.

Jadi, berbeda dengan Hamas yang bertempur dengan persenjataan improvisasi di wilayah yang terkepung, Hizbullah telah mempersiapkan diri selama puluhan tahun menghadapi kemungkinan perang dengan Israel, rival bebuyutannya.

Disebutkan, kelompok ini dinilai mampu menahan serangan besar dan melakukan serangan balasan yang mengejutkan Israel maupun pengamat militer dunia.

Jadi, jika konflik di Lebanon terus meningkat, negara-negara lain di Timur Tengah berpotensi ikut terlibat. Sejumlah analis bahkan menilai front Lebanon dapat menjadi pusat konflik regional yang lebih luas lagi.

Akankah Lebanon mengalami nasib seperti Gaza?

Selama ini, strategi militer Israel dinilai meliputi penghancuran infrastruktur, pemindahan penduduk, dan pembubaran struktur sosial. Pendekatan tersebut disebut mulai diterapkan juga di Lebanon juga.

Ini tujuannya dinilai bukan hanya menstabilkan wilayah, tetapi juga mengosongkannya dari penduduk dari sana.

Adapun di Gaza maupun Lebanon selatan, warga sipil kerap diperlakukan seolah tidak terpisahkan dari kelompok perlawanan yang mereka dukung, sehingga pengusiran menjadi bagian dari strategi militer Israel.

Seperti dilansir Beritasatu.com, runtuhnya representasi politik lokal juga dipandang sebagai kondisi yang ingin dibuat permanen. Beberapa pengkritik menilai pendekatan ini menyerupai kolonialisme pemukim dalam bentuk militer modern saat ini.

Ditambahkan, taktik serupa mulai terlihat di Lebanon, meski berbeda dari operasi Israel sebelumnya di negara tersebut.

Diketahui, pada perang Lebanon pada 1980-an, Israel berupaya memasang pemerintahan yang bersimpati. Namun pengalaman di Gaza menunjukkan pergeseran tujuan, yaitu bukan lagi menentukan siapa yang memerintah suatu wilayah, tetapi mencegah terbentuknya pemerintahan yang stabil di sana.

Selain itu, Israel juga telah mengeluarkan perintah evakuasi untuk sebagian besar wilayah Lebanon selatan dan Beirut selatan tersebut.

Adapun peta zona evakuasi yang beredar memiliki kemiripan dengan yang digunakan di Gaza, dengan batas yang tidak jelas dan sering kali tidak sesuai dengan wilayah yang diumumkan sebelumnya.

Pengalaman di Gaza, melintasi garis tak terlihat tersebut sering berujung fatal bagi warga sipil setempat.

Kendati demikian, situasi Lebanon memiliki dinamika yang berbeda karena melibatkan negara berdaulat serta kelompok bersenjata besar seperti Hizbullah. Hal ini membuat konflik di Lebanon berpotensi jauh lebih kompleks dan berbahaya dibandingkan perang di Gaza sebelumnya.

Apabila diplomasi internasional tidak segera menemukan jalan keluar, konflik ini tidak hanya berisiko menjadikan Lebanon sebagai “Gaza kedua”, tetapi juga dapat memicu perang regional yang lebih luas di Timur Tengah tersebut. (P-*r/Bst/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025