Bukan kekayaan, hubungan sosial jadi kunci: Indonesia puncaki indeks kebahagiaan versi Harvard

Johanes Christiaan
Kamis, 15 Januari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 15/1/2026 (Jakarta): Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia berdasarkan hasil Global Flourishing Study (GFS), studi internasional kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset Gallup. Indonesia mengungguli hampir 200 negara lain dalam penilaian kesejahteraan hidup manusia secara menyeluruh.

Temuan ini disorot langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa capaian tersebut terjadi meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia masih hidup dalam kondisi ekonomi sederhana.

“Sebagian besar rakyat kita hidup sangat sederhana, namun jika ditanya, mereka tetap mengatakan bahagia,” ujar Prabowo dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta.

Global Flourishing Study melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara dan satu wilayah (Hong Kong), serta dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health. Studi ini tidak hanya mengukur kebahagiaan, tetapi juga flourishing atau kebermaknaan hidup manusia.

Hasil studi menunjukkan Indonesia menempati peringkat pertama saat penilaian dilakukan tanpa indikator finansial, bahkan tetap berada di jajaran teratas ketika faktor ekonomi dimasukkan. Sebaliknya, Jepang yang dikenal sebagai negara maju justru berada di posisi terbawah.

Dilansir Kompas.com awal Januari 2026, Direktur Human Flourishing Program Harvard, Tyler VanderWeele, menyebut temuan ini membuktikan bahwa kemakmuran finansial bukan satu-satunya penentu kesejahteraan hidup.

Menurut para peneliti, keunggulan Indonesia terletak pada kuatnya hubungan sosial, karakter pro-sosial, nilai kebersamaan, serta makna hidup yang dirasakan masyarakat. Faktor-faktor ini dinilai lebih berpengaruh dibanding kekayaan materi semata.

Enam domain utama

GFS mengukur kesejahteraan melalui enam domain utama, yakni kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik dan mental, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial, serta stabilitas finansial. Studi ini juga menemukan peran penting agama dan pengalaman masa kecil dalam membentuk kesejahteraan di usia dewasa.

Temuan tersebut menantang paradigma pembangunan yang hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi. Indonesia dinilai menjadi contoh bahwa kebahagiaan tumbuh dari relasi sosial, nilai kemanusiaan, dan kebermaknaan hidup, bukan semata dari tingkat pendapatan. (P-*/bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025