Tonton Youtube BP

BI pertimbangkan pemangkasan suku bunga, bergantung pada kondisi inflasi

Zamir Ambia
4 Nov 2025 11:00
2 minutes reading

PRIORITAS, 4/11/25 (Jakarta): Bank Indonesia (BI) masih membuka kemungkinan untuk kembali menurunkan suku bunga acuannya (BI rate) dalam waktu dekat. Namun, keputusan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi inflasi serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa otoritas moneter tetap menjaga kebijakan yang akomodatif sejalan dengan tren pelonggaran global. Sejak awal 2025, BI telah menurunkan suku bunga sebanyak lima kali, dengan total penurunan 150 basis poin sejak September 2024. Saat ini, BI rate berada di posisi 4,75 persen, suku bunga deposit facility 3,75 persen, dan lending facility 5,5 persen.

“Kami sudah sampaikan ada ruang penurunan BI rate ke depan. Namun waktunya akan ditentukan oleh arah inflasi dan seberapa besar ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucap Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV Tahun 2025 di gedung Thamrin, Jakarta, dikutip Selasa (4/11/25).

Perry menekankan, pelonggaran suku bunga masih dapat dilakukan selama kestabilan nilai tukar rupiah terjaga dan efektivitas transmisi kebijakan moneter tetap berlangsung. Selain itu, BI mendorong perbankan untuk segera menurunkan suku bunga simpanan maupun kredit agar likuiditas dapat lebih cepat tersalurkan ke sektor riil.

“Kami memantau bagaimana penurunan BI rate diikuti oleh penurunan deposito dan bunga kredit. Kelonggaran ekspansi moneter, makroprudensial, serta tambahan dana Rp 200 triliun dari pemerintah diharapkan mendorong kredit dan pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

The Fed berpotensi turunkan bunga

Secara global, BI memproyeksikan, Federal Reserve (The Fed) masih berpotensi menurunkan suku bunganya sebanyak dua kali lagi — masing-masing pada akhir 2025 dan pada kuartal pertama 2026.

Menurut Perry, langkah The Fed ini dapat memberikan ruang tambahan bagi Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneternya tanpa menimbulkan tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah.

“Pasar memperkirakan The Fed akan memangkas dua kali tahun ini dan sekali tahun depan, tetapi kami memperkirakan satu kali tahun ini dan satu kali di awal 2026,” ujar Perry. (P-*r/Zamir Ambia)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Viral

Terdaftar di Dewan Pers

x
x