
Foto ilustrasi mobil sedang mengantri untuk pengisian BBM di SPBU Pertamina. (Dok/Detik)PRIORITAS, 3/8/26 (Jakarta): Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan penurunan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, merupakan dampak dari penurunan harga minyak mentah dunia.

“Menyangkut dengan BBM yang nonsubsidi itu harganya kan memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP,” ucap Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8/26).
Harga minyak Brent berjangka tercatat merosot US$4,08 atau 4,64 persen ke level US$83,85 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah US$4,01 atau 4,74 persen sehingga berada di posisi US$80,66 per barel.
Pelemahan harga minyak dunia tersebut diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga mulai 1 Agustus 2026. Salah satunya, harga Pertamax Turbo dipangkas Rp1.000 per liter menjadi Rp18.300, dari sebelumnya Rp19.300 per liter.

Harga Pertamax Green 95 juga mengalami penurunan sebesar Rp400, dari sebelumnya Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter. Sementara itu, harga Pertamax RON 92 turun Rp300 menjadi Rp15.950 per liter, dibandingkan harga sebelumnya yang mencapai Rp16.250 per liter.
Di sisi lain, harga Pertamina Dex tidak mengalami perubahan dan tetap dipatok Rp21.150 per liter. Adapun harga Dexlite juga masih bertahan di angka Rp19.700 per liter.
Bahlil mengatakan pergerakan harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Menurutnya, ketika harga minyak mentah global melemah, harga BBM nonsubsidi berpeluang turun. Sebaliknya, apabila harga minyak dunia kembali naik, maka harga BBM nonsubsidi juga akan disesuaikan.
“Kalau (minyak dunia) naik, pasti (BBM nonsubsidi) juga akan naik. Sekarang kan lagi turun. Kemudian kepada usaha swasta melakukan koreksi dari penurunan harga itu,” ujar Bahlil.
Bahlil pastikan BBM subsidi aman
Bahlil menegaskan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan harga BBM bersubsidi. Ia menyatakan pemerintah tetap berkomitmen menjaga harga BBM subsidi agar tidak mengalami kenaikan meski harga minyak dunia berfluktuasi.
Karena itu, harga Pertalite dan solar subsidi masih dipertahankan pada level yang sama, masing-masing Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter. Bahlil menambahkan sekitar 80 persen konsumsi BBM di Indonesia berasal dari BBM bersubsidi yang pembiayaannya menjadi tanggung jawab pemerintah melalui mekanisme subsidi.
Sementara itu, sekitar 20 persen konsumsi BBM nasional merupakan BBM nonsubsidi yang umumnya digunakan oleh masyarakat berdaya beli lebih tinggi, sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar.
“Yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting,” tutur Bahlil.
Melalui skema tersebut, pemerintah memastikan mayoritas masyarakat tetap memperoleh perlindungan lewat kebijakan subsidi energi. Sementara itu, penyesuaian harga hanya diterapkan pada BBM nonsubsidi yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. (P-*r/Zamir Ambia)

