PRIORITAS, 5/11/25 (Jakarta): Makanan cepat saji alias junk food dan ultra-olahan kini menjadi bagian hidup sehari-hari banyak orang. Namun, penelitian terbaru menunjukkan dua jenis makanan olahan tertentu paling berisiko bagi kesehatan otak dan bisa memicu demensia.
Studi dari peneliti Virginia Tech memetakan hubungan antara konsumsi ultra-processed food (UPF) dan fungsi otak. Hasilnya menunjukkan tidak semua makanan olahan berdampak sama terhadap kognisi. Dua kategori makanan justru menimbulkan risiko paling besar bagi otak.
Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition itu melibatkan 4.750 warga AS berusia di atas 55 tahun. Mereka diikuti selama tujuh tahun, dari 2014 hingga 2020, dan dievaluasi fungsi kognitifnya setiap dua tahun.
Temuan menunjukkan, pola makan tinggi UPF memang berkaitan dengan gangguan otak. Namun, dua kategori makanan menonjol dengan dampak paling signifikan terhadap penurunan fungsi kognitif.
Kategori pertama adalah produk hewani ultra-olahan seperti sosis, nugget, dan daging asap. Peserta yang mengonsumsi satu porsi tambahan setiap hari mengalami peningkatan risiko gangguan kognitif sebesar 17 persen.
Kategori kedua adalah minuman manis seperti soda, es teh, dan minuman buah berpemanis. Konsumsi satu porsi ekstra per hari meningkatkan risiko gangguan kognitif sebesar 6 persen.
Sebaliknya, jenis makanan olahan lain seperti snack gurih, permen, atau makanan siap saji berbasis biji-bijian dan susu, tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan penurunan kemampuan berpikir.
Perkuat bukti
Temuan ini memperkuat bukti kandungan tinggi gula, lemak, dan bahan aditif pada dua kategori tersebut berperan besar dalam penurunan kognitif.
Ironisnya, dua jenis makanan itu justru paling digemari masyarakat Indonesia, terutama di kalangan remaja dan pekerja muda. Gaya hidup praktis, harga murah, dan layanan pesan antar membuat konsumsi makanan olahan terus meningkat di kota besar.
Para ahli mengingatkan, pengendalian konsumsi junk food dan minuman manis menjadi langkah penting untuk menjaga fungsi otak jangka panjang.
Pola makan seimbang dan aktif bergerak tetap menjadi cara paling sederhana untuk mencegah penurunan daya ingat sejak dini. (P-Khalied M)








