
pewarta foto LKBN Antara Muhammad Bagus Khoirunas (tengah) menerima hadiah dari ketua dewan juri Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 Oscar Motuloh (kiri) sebagai pemenang kategori Essay General News pada ajang APFI 2025 di Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah, Jumat (25/4/25). (‘Courtesy’ Antara Foto/Maulana Surya.)PRIORITAS, 19/9/26 (Pandeglang): Sosok Muhammad Bagus Khoirunas, pewarta foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, dikenang sebagai jurnalis yang memiliki dedikasi tinggi, keberanian dalam menjalankan tugas, serta prestasi di bidang fotografi jurnalistik.
Bagus menjadi salah satu dari delapan orang yang hilang setelah kapal cepat KM Arupadhatu I yang mereka tumpangi putus kontak di perairan sekitar Selat Sunda. Rombongan tersebut sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/26) untuk menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Bagus mulai menapaki karier sebagai pewarta foto Antara ketika usianya baru sekitar 20 tahun. Ia menjalani proses pembinaan dan pelatihan di lingkungan Antara Foto sebelum kemudian aktif menghasilkan karya jurnalistik dari berbagai lokasi di Banten.
Karya foto pertamanya yang berjudul Digitalisasi Ekonomi Pedesaan dipublikasikan pada Desember 2018. Foto tersebut mengangkat aktivitas warga yang menjadi perajin dompet di Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. Sejak saat itu, kiprahnya terus berkembang dan namanya semakin terkenal di kalangan pewarta foto.
Koordinator Daerah Antara Foto, Sigit, mengenang Bagus sebagai pewarta yang memiliki daya jelajah tinggi. Ia tidak hanya menunggu penugasan dari meja redaksi, tetapi aktif mengusulkan berbagai peristiwa sebagai objek liputan.
Karakter visual Bagus juga terasa kuat. Saat berbicara mengenai kehidupan masyarakat adat Baduy maupun lanskap Banten, karya Bagus menjadi salah satu rujukan para editor foto karena memiliki ciri khas tersendiri.
Prestasi Bagus mencapai salah satu puncaknya ketika ia meraih penghargaan dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025 yang berlangsung di Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah.
Bagus memenangkan kategori Foto Esai General News melalui karya berjudul Pesta Demokrasi dengan Balutan Tradisi Badui. Karya tersebut merupakan hasil liputan selama empat hari mengenai pelaksanaan Pemilu 2024 di kawasan masyarakat adat Baduy, mulai dari proses distribusi hingga pelaksanaan pemungutan suara.
Penghargaan tersebut ia peroleh bersama dua pewarta foto Antara lainnya, yakni Aditya Pradana Putra dan Dhemas Reviyanto. Ada 500 pewarta doto dari berbagai daerah dengan sekitar 2.500 karya fotografi jurnalistik ikut dalam APFI 2025 itu.
Di luar pekerjaannya sebagai fotografer jurnalistik, Bagus juga memiliki pergaulan luas dan mudah berbaur dengan rekan-rekan sesama jurnalis.
Sahabatnya, Audindra, menggambarkan Bagus sebagai sosok yang tidak suka menunda pekerjaan. Ketika terjadi peristiwa penting, seperti banjir atau bangunan roboh, Bagus kerap segera menuju lokasi untuk mendapatkan gambar terbaik.
Keberaniannya juga terlihat ketika meliput banjir di Desa Songgom Jaya, Cikande, Kabupaten Serang. Untuk mendapatkan sudut gambar yang kuat, Bagus tidak hanya mengambil gambar dari lokasi yang aman, tetapi masuk ke kawasan yang tergenang dengan tetap menghadapi risiko di lapangan.
Bagus juga memiliki minat terhadap dunia otomotif. Rekan-rekannya sering menjadikannya tempat bertanya mengenai mesin kendaraan, bengkel maupun suku cadang.
Di sela kesibukan jurnalistik, ia juga kerap bermain gitar dan melontarkan candaan yang membuat suasana pergaulan sesama jurnalis menjadi lebih cair. Sosok yang ramah tersebut membuat kehadirannya meninggalkan kesan kuat bagi lingkungan pers di Banten.
Bagus bersama tujuh orang lainnya berangkat menggunakan KM Arupadhatu I pada 7 September 2026. Mereka bertolak dari Dermaga Pagedongan untuk melakukan peliputan terkait peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Selain Bagus, rombongan tersebut terdiri atas pewarta foto Arie Basuki dari merdeka.com, Donal Husni, Yudhistira dari iNews dan Firdaus dari Anadolu. Ada dua kru kapal yang mendampingi mereka yakni, Sukarman dan Warta, serta pemandu bernama Heriyanto.
Kapal kemudian hilang kontak. Titik terakhir keberadaan kapal tercatat berada di antara Pulau Rakata dan Pulau Sertung.
Tim SAR gabungan selanjutnya melakukan pencarian dengan melibatkan Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud dan nelayan. Berbagai sarana tim kerahkan. Di antaranya kapal, helikopter dan drone untuk menyisir wilayah pencarian yang luas.
Setelah pencarian selama 10 hari tidak menemukan keberadaan para penumpang, operasi SAR resmi dihentikan sesuai prosedur yang berlaku.
Direktur Pemberitaan Antara Virgandhi Prayudantoro menyampaikan bahwa sejak menerima kabar hilangnya kontak dengan Bagism, institusinya terus mendukung proses pencarian.
Antara juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, mendirikan pos koordinasi di Carita dan memberikan pendampingan kepada keluarga Bagus selama proses pencarian berlangsung.
Menurut Virgandhi, Bagus telah memberikan kontribusi penting selama menjadi bagian dari keluarga besar Antara. Dedikasi, kerja keras dan tanggung jawabnya sebagai pewarta tercermin melalui berbagai karya jurnalistik yang dihasilkan selama menjalankan tugas.
Antara menyampaikan penghargaan atas pengabdian dan kontribusi Bagus serta mengapresiasi dukungan pemerintah, tim SAR, TNI, Polri, kementerian terkait, insan pers dan masyarakat yang turut membantu proses pencarian. (P-*/Antara/M. Riezko Bima Elko Prasetyo/sm)