PRIORITAS, 21/8/26 (Washington): Asisten atau ajudan utama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Natalie Harp (35 tahun) ternyata bekerja tanpa ijin keamanan.
Jaringan MS Now seperti rilis The Guardian, menyebutkan Harp bekerja sebagai asisten eksekutif presiden AS di Gedung Putih selama setahun tanpa izin rutin.
Harp menolak untuk mengajukan formulir khusus untuk personil pendamping presiden, karena alasan yang tidak diketahui, menurut dua sumber anonim yang dikutip MS Now.
Pelanggaran Harp dinilai sangat menyalahi prosedur ketat Gedung Putih, karena bisa saja dia memiliki akses ke rahasia pemerintah AS tanpa izin keamanan.
"Sungguh mengejutkan bahwa seorang ajudan yang berpotensi memiliki akses ke rahasia paling sensitif negara dilaporkan tidak memiliki izin keamanan begitu lama", kata mantan penasihat etika Gedung Putih, Norm Eisen.
Trump menyatakan Harp adalah satu-satunya ajudan yang peduli padanya setelah ia didakwa sehubungan dengan penuntutan pemerasan pemilu Georgia, menurut Times.
Trump menunjuk Harp dengan jabatan ganda sebagai asisten khusus presiden dan asisten eksekutif presiden, dengan gaji pemerintah sebesar USD150.000.
Sepak terjang asisten terdekat dan paling setia Trump ini menjadi sorotan setelah kantor penasihat Gedung Putih mengangkat isu tersebut, dan ketika Presiden sendiri terlibat, Harp mengisi formulir untuk penyelidikan latar belakang federal dan akhirnya diberikan izin.
"Memperlakukan akses ke informasi rahasia sebagai fasilitas pekerjaan biasa adalah cara yang keterlaluan untuk menangani keamanan nasional kita", kata Norm Eisen.
Menurut Eisen, pelanggaran asisten Trump itu adalah contoh terus-menerus dari ketidakmampuan pemerintahan yang bersedia mengesampingkan kepentingan negara AS.
"Mengabaikan protokol yang telah ditetapkan, dan membuat Gedung Putih rentan terhadap risiko intelijen demi menyenangkan Trump. Rakyat Amerika berhak mendapatkan jawaban", ujarnya.
Pengaruh Harp menjadi sorotan minggu ini setelah namanya disebut-sebut oleh Jon Ossoff, seorang senator Demokrat AS dari Georgia.
Harp dilaporkan telah mengirimkan surat-surat pujian kepada presiden AS, membantunya menulis unggahan media sosial, dan dijuluki "printer manusia", karena ia memberi Trump cetakan liputan media yang menguntungkan.
Menuai kritik
Laporan MS Now tentang kurangnya izin keamanan yang berkepanjangan bagi Harp menuai kritik terhadap pengaturan tersebut di kalangan mantan pejabat Gedung Putih dari berbagai spektrum politik.
David Axelrod, yang merupakan kepala strategi dan penasihat senior untuk Barack Obama, mengeritik di X.
“Jika cerita ini benar, dan orang yang paling dekat dengan @POTUS dan pemikirannya sehari-hari tidak memiliki izin keamanan dan menolak untuk menjalani proses mendapatkannya, ini adalah masalah yang sangat serius", tulisnya.
Namun Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah pernyataan membela Harp.
“Natalie Harp memiliki izin keamanan seperti orang lain, dan dia adalah anggota tim Presiden Trump yang setia dan pekerja keras", kata Leavitt.
Richard Painter, mantan kepala pengacara etika untuk presiden George W. Bush, mencatat semua staf Gedung Putih biasanya menjalani penyelidikan latar belakang, tetapi hanya beberapa yang memerlukan izin keamanan tambahan, tergantung pada akses mereka ke informasi rahasia.
“Saya tidak sepenuhnya jelas apa yang terjadi di sini dengan Natalie Harp. Menurut saya, sebagian besar yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan informasi rahasia", ujarnya.
Namun Painter menambahkan, jika Harp menemani presiden dalam perjalanannya di Air Force One, dalam jarak yang memungkinkan dia untuk mendengar percakapan yang mungkin berisi informasi rahasia, dia perlu memiliki izin keamanan.
“Anda bisa berada dalam situasi di mana, jika presiden menginginkannya dalam perjalanan dinasnya, dan dia berada di Air Force One, dan dia sedang menelepon, dan dia duduk di kabin karena sedang melakukan hal lain, bahkan jika dia tidak memberikan nasihat tentang cara menangani Iran dan presiden sedang berbicara di telepon tentang serangan berikutnya terhadap Iran, saat itu juga dia membutuhkan izin keamanan" jelasnya.
Kelalaian
Presiden kelompok advokasi hukum Citizens for Responsibility and Ethics in Washington, Donald K Sherman, menilai kemungkinan terjadinya kelalaian dalam pemeriksaan keamanan yang melibatkan orang-orang terdekat Trump mengingatkan pada masa jabatan pertama Trump.
“Pada masa pemerintahan pertamanya, menantu Trump, Jared Kushner, hanya diberikan izin keamanan setelah Trump memerintahkannya, mengabaikan kekhawatiran yang disampaikan oleh para pejabat intelijen,” kata Sherman.
“Terlalu sering, presiden memberikan lebih banyak fleksibilitas dalam pemberian izin keamanan kepada orang-orang terdekatnya, yang merupakan tren yang mengkhawatirkan mengingat jenis informasi sensitif yang mungkin mereka akses, seperti informasi keamanan nasional, kontak dengan para pemimpin dunia, dan informasi rahasia lainnya", paparnya.
Rick Wilson, salah satu pendiri Lincoln Project, sebuah kelompok anti-Trump, mengatakan tidak mengherankan jika Donald Trump, yang bahkan tidak lolos pemeriksaan kredit, apalagi pemeriksaan keamanan, tidak akan keberatan membiarkan seseorang tanpa izin berada di posisi yang sangat sensitif selama setahun.
“Lagipula, ini adalah orang yang bertemu dengan Putin tanpa asisten dan memuji Kim Jong-un. Pengabdian fanatik Natalie yang begitu besar dan kesediaannya untuk berada di sisi Trump kapan pun dia membutuhkannya, sesuai dengan kebutuhan patologisnya akan perhatian,” kata dia.
Harp, pertama kali menarik perhatian publik sebagai penyintas kanker dan pendukung Trump yang antusias, yang berbicara di konvensi nasional Partai Republik tahun 2020 di Washington.
Dia bergabung dengan jaringan berita sayap kanan One America News Network pada tahun 2020 dan mulai bekerja untuk Trump dua tahun kemudian saat Trump merencanakan kebangkitan politiknya.
Harp sering berada di sisi Trump sejak saat itu. Jaringan CNN melaporkan pada tahun 2023 , ketika Trump dijadwalkan hadir di pengadilan di New York, Harp mendapati tidak ada tempat duduk untuknya di iring-iringan mobilnya sehingga dia melompat ke bagasi SUV, bersikeras Trump secara pribadi memintanya untuk hadir.
Dan bulan lalu, ketika Trump secara diam-diam berganti pesawat di Turki setelah dugaan ancaman pembunuhan dari Iran, Harp termasuk di antara sekelompok kecil orang yang menemaninya di pesawat militer sementara pejabat dan jurnalis lainnya tetap berada di dalam pesawat Air Force One yang digunakan sebagai umpan.
Minggu ini Ossoff menyerang Trump dalam pidato kampanyenya, menuduh Trump lebih tertarik membangun ruang dansa Gedung Putih dan bepergian dengan "Natalie Harp" daripada menjalankan tugas sebagai presiden.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Gedung Putih dan membuat media sosial heboh, dengan para pengguna berspekulasi tentang sifat hubungan Harp dengan Trump.
Kesetiaannya kepada presiden Trump juga telah didokumentasikan dalam buku Regime Change, yang diterbitkan wartawan New York Times, Maggie Haberman dan Jonathan Swan.
Mereka melaporkan Harp telah menulis surat-surat yang sangat mengagumi Trump. (P-*/jw)








