Peta situs nuklir Iran di Gunung Pickaxe, yang tersembunyi sekitar 100 meter di dalam tanah.(foxnews)PRIORITAS, 19/3/26 (Washington): Amerika Serikat dan Israel kini membidik untuk menghancurkan situs nuklir bawah tanah Pickaxe Mountain (Gunung Pickaxe), yang sengaja disembunyikan Iran dari pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Diduga di situs tersebut, Iran menyimpan ribuan kilogram bahan untuk membuat bom nuklir, Uranium, jauh lebih banyak dari 441 kilogram yang diketahui tim inspeksi IAEA saat ini.
Menurut laporan, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Kamis (19/3/26), meskipun Iran sengaja menyembunyikan situs nuklir tersebut, namun intelijen AS dan Israel sudah mengendusnya sejak tahun 2021 lalu.
Sebuah tangkapan citra satelit menunjukkan upaya Iran membangun beton penguat di luar Gunung Pickaxe tersebut.
Beton penguat itu bertujuan untuk meredam serangan bom penetrasi jika terjadi serangan dari AS dan Israel.
Dalam kesaksian di hadapan Senat, rilis Fox News, para pejabat intelijen senior AS menekankan situs nuklir tersembunyi Iran di pegunungan itu, menimbulkan ancaman mendesak dan harus dihancurkan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui Iran sudah membangun situs nuklir baru jauh dalam tanah yang dilindungi granit.
Pada tanggal 9 Maret 2026, Presiden Trump menyinggung upaya Iran untuk melanjutkan aktivitas nuklir di lokasi yang lebih dalam.
Ia mengatakan Iran terus mengejar senjata nuklir bahkan setelah AS dan Israel menghancurkan situs-situs nuklir utama mereka.
“Mereka mulai bekerja di lokasi lain, lokasi yang berbeda… yang dilindungi oleh granit… Mereka ingin menggali lebih dalam, dan mereka memulai prosesnya,” kata Trump, menurut laporan.
Llokasi berbeda yang dirujuk Trump adalah Gunung Pickaxe, tempat Iran membangun pabrik perakitan sentrifugal di lokasi tersebut sejak 2021. Lokasi tersebut berjarak satu mil dari pabrik pengayaan bahan nuklir Natanz.
100 meter di bawah tanah
Menurut penilaian terbaru, lokasi nuklir Iran yang berpotensi paling berbahaya itu terkubur sedalam 100 meter di bawah gunung granit.
Seorang ahli nonproliferasi memperingatkan lokasi tersebut harus “dinetralkan” sebelum perang AS dengan Iran berakhir.
“Sebelum Amerika Serikat dan Israel mengakhiri operasi tempur besar-besaran terhadap Iran, mereka harus menyelesaikan dua tugas mendesak,” kata wakil direktur Program Nonproliferasi di Foundation for Defense of Democracies, Andrea Stricker, dalam sebuah pengarahan kebijakan.
“Pertama, mereka harus menetralisir Pickaxe Mountain . Kedua, mereka harus memulihkan atau menghilangkan stok uranium yang sangat diperkaya untuk mencegahnya jatuh ke tangan elemen rezim yang masih bertahan, negara-negara musuh lainnya, atau proksi teroris”, paparnya.
Institut Sains dan Keamanan Internasional mengungkapkan, citra satelit beresolusi tinggi dari pertengahan Februari menunjukkan upaya Iran mempercepat upaya memperkuat lokasi di Kuh-e Kolang Gaz La, yang dikenal sebagai ‘Gunung Kapak’ (Pickaxe Mountain).
“Di salah satu pintu masuk terowongan bagian timur, terlihat batuan dan tanah didorong ke belakang kemudian diratakan di atas portal terowongan,” demikian laporan institut tersebut.
Selain itu, selama bulan lalu, Iran telah menambahkan struktur penahan tanah bertulang beton untuk perluasan pintu masuk terowongan. Ini memungkinkan penambahan lapisan penutup berupa batuan, tanah, atau beton.
Laporan tersebut juga menyubutkan upaya-upaya ini memperkuat pintu masuk terowongan dan memberikan perlindungan tambahan terhadap serangan udara, dengan tumpukan material konstruksi di dekat pintu masuk.
Iran berbohong
Presiden Donald Trump, memerintahkan serangan militer terhadap Iran, untuk mencegah rezim itu memiliki senjata nuklir.
Serangan pertama AS dan Israel dilakukan pada 12 Juni 2025. Pasukan AS dan Israel melakukan serangan terhadap situs-situs nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Serangan kedua yang jauh lebih besar terjadi 28 Februari 2026 hingga kini.
Menurut Badan Energi Atom Internasional, Iran telah berbohong dengan menyebut fasilitas di situs-situs nuklirnya hanya bertujuan damai.
Kenyataannya hasil inspeksi menemukan, Iran telah memiliki sekitar 441 kilogram uranium-235 yang diperkaya hingga 60 persen pada Juni 2025.
Kadar itu jauh melampaui ijin yang diberikan kepada Iran sebagai bahan nuklir damai, sebesar 3,67 persen untuk keperluan sipil seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan reaktor riset.
Ada dugaan kuat Iran berkeinginan memperkaya Uranium itu mencapai 90 persen, hingga mencapai tingkat yang dapat digunakan untuk pembuatan senjata nuklir.
Dengan uranium sebanyak 441 kilogram itu, Iran bisa menghasilkan sekitar10 bom nuklir.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi, juga meyakini sekitar 200 kilogram Uranium yang sangat diperkaya milik Iran, masih tersimpan di terowongan dalam di kompleks nuklir di luar Isfahan.
Grossi menambahkan sejumlah besar Uranium Iran yang diperkaya juga berada di pusat nuklir lain di Natanz, tempat Iran telah membangun fasilitas bawah tanah yang diperkuat di Gunung Pickaxe.
Pada awal Maret 2026 lalu, sebuah kendaraan diserang di luar lokasi tersebut, diduga dilakukan militer Israel, demikian dilaporkan The Wall Street Journal.
Serangan terhadap kendaraan tersebut merupakan bukti AS dan Israel mengawasi gunung itu dengan cermat.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dalam pernyataan pers Kamis malam mengatakan rezim Iran yang menolak untuk meninggalkan ambisi nuklirnya, bukan hanya masalah regional.
“Itu adalah ancaman langsung bagi Amerika, bagi kebebasan, bagi peradaban”, tegasnya.
Ia mengemukakan, industri inti Iran adalah terorisme, milisi proksi, jaringan bawah tanah, rudal balistik, dan ideologi yang penuh kekerasan.(P-Jeffry W)