PRIORITAS, 8/10/26 (Batam): Kondisi pencemaran udara akibat kabut asap semakin memburuk di wilayah Kota Batam dan sekitarnya pada Kamis (8/10/2026). Pasalnya, pemantauan realtime AQICN mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) Batam sudah menyentuh angka 132.
Tingkat pencemaran tersebut secara resmi masuk ke dalam kategori Tidak Sehat bagi masyarakat.
Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan Sumatera dan Kalimantan ini juga memicu penurunan jarak pandang mendadak. Menanggapi situasi bahaya tersebut, penerapan Belajar Dari Rumah (BDR) menjadi opsi terbaik demi keselamatan para siswa.
Sekolah Diberi Wewenang Terapkan Belajar Dari Rumah Jika Udara Di Atas 110
Selanjutnya, pihak dinas memberikan keleluasaan penuh kepada satuan SMA, SMK, dan SLB untuk mengambil kebijakan mandiri. Kepala sekolah diminta terus memantau pembaruan data BMKG serta Dinas Lingkungan Hidup secara berkala seperti dilansir dari ANTARA.
Skema pembelajaran jarak jauh menjadi langkah krusial guna mencegah ancaman penyakit ISPA pada anak sekolah.
"SE itu tetap berlaku dan belum ada perubahan. Jadi, kalau kualitas udara akibat kabut asap di atas 110, sekolah boleh menerapkan BDR," kata Kepala Disdik Kepri, Andi Agung, Kamis (8/10/2026).
"Kalau kualitas udara sudah tidak sehat, sebaiknya belajar dari rumah. Kabut asap berisiko mengganggu kesehatan warga sekolah," ucapnya.
BMKG Peringatkan Penurunan Jarak Pandang dan Risiko Gangguan Penerbangan
Sementara itu, BMKG mengonfirmasi bahwa penumpukan asap tebal dipicu oleh kebakaran hutan di wilayah tetangga. Jarak pandang mendadak merosot drastis hingga tersisa 1 sampai 3 kilometer saja.
Kondisi ini tidak hanya mengancam pernapasan warga tetapi juga mengganggu operasional penerbangan di bandara.
"Wilayah Kepri terindikasi mengalami kabut asap kiriman dampak kebakaran hutan dan lahan dari Pulau Sumatera dan Kalimantan," kata Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani.
Oleh sebab itu, seluruh warga Batam diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan serta wajib menggunakan masker. Kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan demi menekan risiko dampak buruk bencana kabut asap ini. (P-Gio R)








