Luther Panjaitan selaku Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia menyampaikan banderol resmi Atto 3 Advanced Plus pada ajang IIMS 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2/26). (Courtesy of Antara)PRIORITAS, 8/2/26 (Jakarta): Keterbatasan bahan bakar minyak di sejumlah daerah mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan mobilitas, dengan kendaraan listrik kini dipilih sebagai solusi yang dinilai lebih praktis dan tersedia.
Peralihan ini terlihat jelas di kota-kota menengah, terutama di luar Pulau Jawa, yang mulai meninggalkan ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel.
Kepala Hubungan Publik dan Pemerintahan PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengungkapkan lonjakan minat tersebut ia temukan langsung saat berkunjung ke berbagai wilayah. Pengalaman lapangan menunjukkan perubahan preferensi konsumen yang kian nyata.
“Dalam perjalanan ke daerah, saya melihat pembelian EV meningkat cukup signifikan, khususnya di wilayah tier-2 di luar Jawa. Kendaraan listrik menjadi alternatif untuk menggantikan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel,” ujar Luther Panjaitan saat ditemui di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Jakarta, dikutip Minggu (8/2/26).
Menurut Luther, masyarakat daerah tidak semata menilai EV dari sisi efisiensi energi atau jarak tempuh. Faktor ketersediaan justru menjadi penentu utama dalam pengambilan keputusan.
“Di beberapa wilayah, BBM sering sulit diperoleh, sementara listrik relatif tersedia. Kondisi ini membuat kendaraan listrik dimanfaatkan sebagai solusi,” katanya.
Selain persoalan pasokan BBM, antrean panjang di SPBU juga mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Situasi tersebut membuat EV dipandang lebih relevan untuk kebutuhan mobilitas harian di luar kota besar.
Minat tersebut semakin kuat karena pengguna merasakan manfaat ekonomi langsung, mulai dari pengeluaran harian yang lebih rendah hingga insentif pajak kendaraan listrik. Faktor-faktor itu mempercepat adopsi EV di kota-kota menengah.
“Ketika masyarakat melihat efisiensi biaya dan keuntungan pajak, minatnya semakin besar. Karena itu, kami memfokuskan pengembangan jaringan di wilayah tier-2 dan daerah, dengan rencana menggandakan jaringan yang sudah ada,” tutur Luther.
Melihat potensi pertumbuhan tersebut, BYD memusatkan strategi ekspansi ke daerah di luar kota besar dengan memperkuat jaringan distribusi dan layanan purna jual.
Langkah ini diharapkan memperluas akses EV sekaligus mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional.
Saat ini, BYD Indonesia menargetkan memiliki total 150 cabang diler hingga 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan dan mempercepat adopsi kendaraan listrik di berbagai wilayah Indonesia. (P-Khalied M)