Jepang bagian utara dilanda salju ekstrim. Di Aomori, salju mencapai ketinggian hingga 4,5 meter.(dnewsnetwork)PRIORITAS, 4/2/26 (Tokyo): Suhu dingin dan hujan salju ekstrem yang melanda Jepang telah menewaskan 35 orang dan menyebabkan 393 cedera sejak 20 Januari lalu.
Menurut Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari The Japan Times, hari Rabu (4/2/2026) banyak kasus kematian melibatkan tumpukan salju, yang jatuh menimpa warga dari rumah mereka atau orang-orang yang terjatuh dari atap rumah saat mencoba membersihkannya.
Salju yang menumpuk di Prefektur Aomori mencapai 4,5 meter sehingga menyulitkan pergerakan orang maupun lalulintas. Sementara beberapa daerah di Niigata mencatat ketinggian salju hampir 3 meter.
Stasiun televisi lokal ATV melaporkan, ketinggian salju sempat menurun di bawah 1,6 meter pada hari Rabu setelah suhu udara mulai naik sedikit, tetapi kemacetan lalu lintas tetap berlanjut.
Gambar televisi menunjukkan warga terpaksa harus berjalan di sepanjang jalan setapak sempit, yang dibuka dengan sekop di antara dinding salju raksasa, yang tingginya dua kali lipat manusia dewasa.
Di Prefektur Niigata, yang menghadap Laut Jepang, seorang pria ditemukan tewas pada hari Selasa di rumahnya yang ambruk akibat salju lebat.
Sementara pria lainnya meninggal setelah garasinya runtuh, demikian menurut Fuji Television.
Pemerintah telah mengerahkan Pasukan Bela Diri untuk membantu membersihkan tumpukan salju besar di wilayah utara.
Stasiun cuaca memperingatkan suhu dingin akan kembali mulai akhir pekan dan membawa salju lebih lanjut ke kota-kota di utara.

Trotoar di kota Aomori cepat tertutup salju dengan sisi kiri-kanan menjadi dinding es. (globeupdate)
Tekanan dingin
Hingga pukul 08.30 pagi hari Rabu, total sudah 35 orang tewas akibat hujan salju ekstrem ini.
Sebanyak 12 orang meninggal di Prefektur Niigata, tujuh di Prefektur Akita, lima di Prefektur Yamagata, dan masing-masing empat orang di Hokkaido dan Prefektur Aomori.
Prefektur Iwate, Nagano, dan Shimane masing-masing melaporkan satu kematian.
Korban jiwa telah dilaporkan di beberapa prefektur, termasuk Niigata, Akita, Yamagata, Hokkaido, dan Aomori. Prefektur Niigata di pantai Laut Jepang menjadi yang paling parah terkena dampaknya.
Menurut pihak berwenang pemadam kebakaran, banyak kematian terjadi selama operasi pembersihan salju, termasuk jatuh dari atap, dan penyakit mendadak saat bekerja atau selama istirahat.
Badan Meteorologi Jepang mengatakan pola tekanan musim dingin yang terus-menerus, telah menyebabkan hujan salju lebat terutama di sisi Laut Jepang bagian utara dan barat Jepang.
Kyodo News melaporkan cuaca buruk juga telah merusak 14 bangunan tempat tinggal.
Seiring dengan meningkatnya suhu di berbagai wilayah di Jepang, pihak berwenang terus memperingatkan warga untuk tetap waspada terhadap longsoran salju, salju yang jatuh dari atap, dan gangguan lalu lintas
Longsoran salju
Pada hari Rabu, pemerintah Jepang memperingatkan kemungkinan longsoran salju di wilayah utara negara itu, karena suhu tiba-tiba naik setelah dua minggu hujan salju ekstrem.
Salju yang terus turun sejak akhir Januari telah menimbun komunitas di utara seperti kota Aomori di bawah tumpukan salju, yang membuat warga kesulitan meninggalkan rumah dan memaksa sekolah serta bisnis untuk tutup.
Namun suhu yang mulai naik, mencapai 8 derajat Celcius di Aomori, meningkatkan risiko jatuhnya bongkahan salju tebal dan basah dari atap rumah. Ini berpotensi menyebabkan cedera dan bahkan kematian.
“Kami meminta warga yang terdampak untuk berhati-hati dan waspada terhadap salju yang turun dan longsoran salju,” kata Wakil Kepala Sekretaris Kabinet, Masanao Ozaki, dalam konferensi pers.(P-Jeffry W)