Kapal induk nuklir AS terbaru, USS Gerald R Ford, kabarnya akan menuju Timur Tengah memperkuat armada serang jelang persiapan perang terhadap Iran.(ussgeraldrford)PRIORITAS, 28/1/26 (Washington): Amerika Serikat (AS) disebutkan akan menambah armada kapal induk baru ke perairan Teluk di Timur Tengah menjadi dua Carrier Strike atau kelompok serang sebagai persiapan menyerang Iran.
Presiden AS, Donald Trump mengakui akan menambah ‘armada baru’ ke kawasan itu. Para ahli menyebut armada itu diduga kapal induk nuklir tercanggih, USS Gerald R. Ford.
Sebelumnya AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan tiga kapal pengawal destroyer.
Pengerahan terbaru ini berkaitan dengan sasaran terhadap pusat penyimpanan peluru kendali dan pangkalannya.
Sasaran yang paling utama adalah pertimbangan serangan presisi terhadap pejabat dan pemimpin militer Iran bernilai tinggi, yang dianggap bertanggung jawab atas pembantaian para demonstran.
“Serangan itu bisa terjadi paling cepat minggu ini, tetapi jadwal tersebut bisa berubah,” kata laporan itu, mengutip sumber dari kawasan Teluk.
Seperti dikutip Beritaprioritas, hari Rabu (28/1/26), seorang mantan pejabat intelijen AS mengatakan kepada media kepada Middle East Eye (MEE), Presiden AS Donald Trump belum menyerah pada upaya penggantian rezim di Iran.
“AS telah berupaya untuk mengisi kembali persediaan pencegat rudal yang habis selama perang 12 hari,” kata sumber lain, yang juga mantan pejabat AS.
Ia menambahkan jumlah total persediaan telah meningkat – tetapi AS masih terbatas, karena menyediakan pasokan untuk Ukraina, sebut The Cradle.
AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln, skuadron jet tempur tambahan dan aset lainnya ke wilayah tersebut.
Ini adalah pengerahan militer besar-besaran yang banyak pihak digambarkan sebagai pendahuluan perang melawan Iran.
Menurut laporan yang mengutip data pelacakan penerbangan, AS telah memperkuat Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania dengan 12 pesawat tempur F-15 Eagle Strike.
Setidaknya empat pesawat angkut strategis C-17A USAF tambahan baru-baru ini tiba atau telah beroperasi di pangkalan tersebut.
Selain itu militer AS mengerahkan puluhan pesawat serang darat A-10 Thunderbold. Sistem pertahanan rudal THAAD juga telah dipindahkan ke wilayah tersebut.

Sejumlah pesawat tempur siaga di dek kapal Induk USS Gerald R Ford.(ussgeraldrford)
Armada baru
Presiden Trump mengatakan “armada baru” AS sedang menuju Iran dan menyatakan harapan Teheran akan mencapai kesepakatan dengan Washington.
“Ada armada indah lainnya yang sedang bergerak dengan indah menuju Iran saat ini,” kata Trump selama pidatonya. “Saya harap mereka membuat kesepakatan”, tegasnya.
Para ahli mengatakan itu bisa jadi kapal induk nuklir USS Gerald R. Ford, kapal AS tercanggih yang pernah dibangun selama ini.
Kapal induk ini mampu membawa hampir 100 pesawat jet tempur berbagai jenis. Kapal ini ini juga disebutkan tahan terhadap serangan bom berkekuatan besar.
Militer AS telah mengumumkan latihan Angkatan Udara besar-besaran selama beberapa hari di Timur Tengah, seiring Washington mempersiapka tindakan keras ke Iran.
“Latihan tersebut mendemonstrasikan kemampuan untuk mengerahkan, menyebar, dan mempertahankan kekuatan udara tempur di seluruh Timur Tengah”, kata komponen Angkatan Udara AS dari Komando Pusat, yang bertanggung jawab atas pasukan Amerika di wilayah tersebut.
Tidak ada tanggal atau lokasi pasti untuk latihan tersebut yang diumumkan.
Zona larangan terbang
Sampai Rabu malam, Iran tetap memberlakukan zona larangan terbang pesawat di atas wilayahnya. Ini menandakan Iran dalam keadaan siaga menjelang serangan militer AS.
Berdasarkan berkas NOTAM (Notice to Air Missions) terbaru (08:01 UTC), yang mempertahankan “keheningan radio” (Tidak Ada Perubahan) di tengah berlanjutnya penutupan jalur komunikasi sensitif Iran.

Radar penerbangan menunjukkan wilayah udara Iran kosong setelah adanya peringatan kemungkinan aktivitas militer.(@marioaleb79)
Protes massa besar terhadap pemerintah Iran terjadi akhir 28 Desember 2025 lalu, dipicu keluhan ekonomi.
Tetapi berubah menjadi gerakan massa melawan pemerintah yang berkuasa, dengan demonstrasi jalanan besar-besaran selama beberapa hari mulai 8 Januari 2025.
Rezim Iran melalui pasukan militer IRGC dan Basij melakukan pembantaian massal terhadap para demonstran.
Sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS mengatakan pada hari Selasa, telah mengkonfirmasi kematian lebih dari 6.000 orang dalam demonstrasi itu. Mereka juga sedang menyelidiki lebih dari 17.000 potensi kematian lainnya.
Presiden AS, Donald Trump, telah berulang kali memperingatkan Iran jika mereka membunuh para demonstran, Amerika Serikat akan campur tangan secara militer.
Ia juga mendorong warga Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara, dengan mengatakan “bantuan sedang dalam perjalanan.”
Trump akhirnya membatalkan menjelang detik-detik serangan ke Iran, dengan mengatakan Teheran telah menghentikan lebih dari 800 eksekusi setelah adanya tekanan dari Washington.
Para pejabat Iran telah memperingatkan Washington bahwa setiap serangan akan dibalas dengan respons yang menghancurkan.
“Kami tidak akan membiarkan siapa pun merusak keamanan kami atau menyebabkan kerugian apa pun bagi negara kami,” kata juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani. (P-Jeffry W)