
Kapal induk AS USS Abraham Lincoln yang mampu membawa 90 pesawat tempur, sedang menuju teluk Persia.(uss abraham lincoln official)PRIORITAS, 20/1/26 (Washington): Serangan militer terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran sangat mungin terjadi dalam waktu dekat ini. Komando Pusat (CENTCOM) militer AS di Timur Tengah dikabarkan kini siaga penuh.

Laporan yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Selasa malam (20/1/2026), menyebutkan CENTCOM AS telah diperintahkan untuk beroperasi sepanjang waktu selama sebulan ke depan, menjaga kesiapan maksimum.
Sumber Pentagon mengatakan Presiden AS dapat mengizinkan serangan terhadap Iran dalam waktu 2-3 pekan ini, setelah pasukan sepenuhnya ditempatkan.
Kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, bersama dengan kelompok kapal serangnya, akan tiba di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS dalam 72 jam ke depan.

Pergerakan militer ini bertepatan dengan pengerahan 12 jet tempur F-15 tambahan ke Yordania dalam beberapa hari terakhir.
AS mengerahkan tambahan jet tempur F-15 tersebut, karena dapat lebih banyak membawa bom dan rudal dibanding pesawat tempur lainnya. Ini mengindikasikan militer AS akan melakukan serangan besar-besaran ke Iran.

AS mengirim sebanyak 12 unit tambahan pesawat tempur F-15 ke Yordania sebagai persiapan serangan ke Iran.(defenceindex)
Media Israel, Channel 12 News, melaporkan, di tengah persiapan serangan terhadap Iran, dalam beberapa hari terakhir, militer AS telah meningkatkan laju penambahan pasukannya di Timur Tengah.
Langkah ini diperkirakan akan selesai dalam beberapa hari dan memberi Washington kemampuan untuk melakukan manuver militer skala besar.
Khamenei jadi target
Kini, menurut penilaian di Israel, AS sedang mengubah strategi. AS disebutkan membangun kekuatan regionalnya, dengan mengirimkan dua kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford menuju Teluk Persia.
Selain itu, AS juga mengerahkan pesawat kargo ke Diego Garcia, memperkuat sistem pertahanan udara sekutu, dan meningkatkan pengumpulan intelijen multi-domain.
Penekanannya bukan hanya pada kemampuan militer, tetapi juga pada identifikasi kerentanan internal dalam sistem Iran —ekonomi, sosial, etnis, dan politik— yang jika dikombinasikan dengan aksi militer, dapat secara signifikan menggoyahkan rezim tersebut.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya pernah memveto rencana Israel untuk membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Namun kini, pimpinan Iran itu menjadi salahsatu opsi target untuk ‘disingkirkan’.

Pemimpin rezim Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam acara di Teheran, hari Sabtu, 17 Januari 2026 (irnanews)
Presiden Trump dalam sebuah wawancara dengan Politico, menyebut Khamenei sebagai orang sakit dan mengatakan sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran.
Mantan duta besar AS untuk Israel dan pejabat senior Pentagon, Dan Shapiro, menilai pernyataan Trump itu membuatnya percaya presiden AS mungkin akan mencoba membunuh pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Shapiro, menilai Trump dapat memerintahkan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei paling cepat dalam serangan minggu-minggu pertama.
Garda Revolusi Iran
Jika Khamenei terbunuh, tambah Shapiro, kemungkinan besar awalnya akan mengakibatkan Garda Revolusi Iran dan rezim yang lebih agresif serta represif mengambilalih kekuasaan di Iran. Namun AS berharap perubahan rezim, ketika terjadi, akan dilakukan rakyat Iran.
Karena itu, mendukung rakyat Iran dalam perjuangan untuk kebebasan, membutuhkan fokus serangan yang berkelanjutan dan sebagian besar alat non-kinetik. Hal itu tidak akan tercapai dalam satu pukulan (serangan militer).
Menjelang Operasi Rising Lion pada Jui 2025 lalu, Amerika Serikat memberi Iran kesempatan diplomatik, menetapkan tenggat waktu 60 hari.
Tetapi Iran mengulur waktu, dan serangan Israel, yang dilakukan berkoordinasi AS, terjadi pada hari ke-61.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan serangan terhadap Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang habis-habisan.
Shapiro juga mengatakan kelompok kapal induk AS akan segera berada di Timur Tengah, sehingga memudahkan Amerika Serikat untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran.
Serangan AS itu juga akan menyasar pusat komando dan kendali Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Basij, yang selama ini membantai para demonstran Iran.

Diplomat senior Iran, Alireza Jeyrani Hokmabad, membelot dan minta suaka ke Swiss, karena khawatir rezim Iran akan runtuh.(@hillelneuer)
Pejabat Iran membelot
Menurut laporan dari media oposisi Iran International, Alireza Jairani Hokmabad, wakil perwakilan tetap Iran untuk lembaga-lembaga PBB di Jenewa, telah membelot dan meminta suaka politik untuk dirinya dan keluarganya di Swiss.
Laporan tersebut mengatakan diplomat senior itu mengambil langkah tersebut, karena situasi politik dan kekhawatiran akan runtuhnya rezim Iran.
Jairani bergabung dengan misi Iran di Jenewa pada tahun 2017 sebagai penasihat, kemudian naik pangkat dan mewakili Iran di badan-badan ekonomi yang berafiliasi dengan PBB, yang menangani perdagangan, pembangunan, dan investasi.
Laporan tersebut menambahkan diplomat Iran lainnya baru-baru ini juga telah menghubungi pihak berwenang di beberapa negara Eropa, untuk menjajaki atau mengajukan permohonan suaka.(P-Jeffry W)

