Awal tahun, modal asing kembali gairahkan pasar keuangan Indonesia

Armin Mandika
Minggu, 11 Januari 2026
EKBIS 0 608
2 menit membaca

PRIORITAS, 11/1/26 (Jakarta): Sejak awal tahun, aliran modal asing tercatat masuk ke pasar keuangan domestik dengan nilai beli bersih mencapai Rp 7,34 triliun hingga 8 Januari. Arus modal tersebut menunjukkan masih terjaganya kepercayaan investor yang mayoritas mengalir ke pasar saham, diikuti Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Sebagaimana pekan pertama Januari terjadi pergeseran instrumen investasi, di mana investor asing tercatat melakukan aksi jual di pasar SBN. Meskipun demikian, arus modal asing secara keseluruhan masih positif karena investor membukukan beli bersih di pasar saham dan SRBI.

Ketika masuknya modal asing, sejumlah indikator stabilitas keuangan menunjukkan pergerakan yang beragam. Nilai tukar rupiah terpantau melemah, sementara imbal hasil SBN tenor 10 tahun serta premi risiko kredit (CDS) Indonesia mengalami kenaikan.

Bahkan Bank Indonesia (BI) mencatat investor nonresiden membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp 7,34 triliun hingga 8 Januari 2026, mencerminkan masih terjaganya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso berdasarkan data setelmen sepanjang 2026 hingga 8 Januari, dana asing masuk terbesar mengalir ke pasar saham dengan nilai beli neto Rp 3,85 triliun.

Tak hanya itu investor global juga mencatatkan beli bersih Rp 3,23 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta Rp 0,26 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” jelas Rambdan seperti dikutip Minggu (11/1/25 dan dilansir dari Kompas.com.

Untuk pekan pertama Januari 2026, arus modal asing juga tercatat positif meski terjadi pergeseran instrumen. Mengacu pada data transaksi 5–8 Januari 2026, nonresiden membukukan beli neto Rp 1,44 triliun.  Aliran dana tersebut berasal dari beli bersih Rp 1,78 triliun di pasar saham dan Rp 1,04 triliun di SRBI. Meski demikian, di saat yang sama investor asing mencatatkan jual neto Rp 1,38 triliun di pasar SBN.

Sedangkan indikator stabilitas keuangan menunjukkan pergerakan yang beragam. Pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/26), nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 16.785 per dolar AS dan kembali dibuka melemah tipis ke Rp 16.815 per dolar AS pada Jumat pagi (9/1/26). Yield SBN tenor 10 tahun tercatat naik dari 6,05 persen menjadi 6,15persen. Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 98,93, sementara yield US Treasury Note tenor 10 tahun turun ke 4,167 persen. Di sisi lain, premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 8 Januari 2026 naik menjadi 69,57 basis poin, dibandingkan posisi 2 Januari 2026 sebesar 67,62 basis poin. (P-*r/am)

 

 

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025