Mendagri Tito nilai, penanganan banjir di Aceh Tamiang butuh perhatian khusus

Zamir Ambia
Selasa, 23 Desember 2025
2 menit membaca

PRIORITAS, 23/12/25 (Jakarta): Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan, penanganan dampak banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang membutuhkan perhatian khusus, mengingat tingkat kerusakan yang terjadi tidak sama dengan wilayah lain di Sumatera.

“Aceh Tamiang memang saya lihat agak beda dari udara tadi masih banyak lumpur-lumpur, agak beda ketika saya datang ke tempat-tempat lain baik di Sumatera Barat,” kata Tito dikutip dari Antara, Selasa (23/12/25).

Pernyataan tersebut disampaikan Mendagri usai memberikan pengarahan kepada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Tamiang di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Aceh.

Ia menyampaikan, sejak hari pertama bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan dilakukannya mobilisasi nasional dengan pembagian peran antar kementerian dan lembaga.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta unsur terkait lainnya terus berkoordinasi dan bergerak guna memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi.

Dalam kesempatan tersebut, Mendagri juga menegaskan, ketersediaan cadangan beras nasional saat ini berada dalam kondisi sangat aman dan mencukupi.

Ia menegaskan, daerah yang terdampak bencana dapat memanfaatkan cadangan beras Bulog tanpa pembatasan, selama terdapat permohonan resmi dari kepala daerah.

“Sepanjang untuk kepentingan bencana itu dapat dikeluarkan tanpa biaya. Ini bukan beras SPHP yang dijual murah, bukan, tanpa biaya, gratis berapa pun juga diminta asal bisa dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Selain bantuan pangan, Tito juga menyoroti terbatasnya anggaran belanja tidak terduga (BTT) di sejumlah daerah yang terdampak bencana.

Penambahan bantuan belanja tidak terduga

Ia menyampaikan, Presiden Prabowo telah menetapkan penambahan bantuan belanja tidak terduga (BTT) sebesar empat miliar rupiah bagi setiap kabupaten/kota terdampak, serta Rp20 miliar untuk pemerintah provinsi.

Selain itu, Mendagri turut menghimpun dukungan dari berbagai daerah yang hingga saat ini mencapai hampir Rp60 miliar dan disalurkan langsung kepada wilayah terdampak bencana.

Mendagri menegaskan, pembersihan lumpur menjadi prioritas utama, khususnya di fasilitas umum, layanan kesehatan, sarana pendidikan, serta perkantoran pemerintahan.

Kerja sama TNI hingga relawan

Ia menambahkan, kehadiran negara harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui kerja sama antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan para relawan.

“Pembersihan ini nomor satu menurut saya, pembersihan ini dari lumpur-lumpur ini,” jelasnya.

Terkait penanganan perumahan, mendagri meminta pemda segera melakukan pendataan kerusakan rumah secara rinci berdasarkan nama dan alamat, baik kategori rusak ringan, sedang, berat, maupun hilang.

Data tersebut akan menjadi dasar pemberian bantuan langsung kepada masyarakat serta pembangunan hunian sementara dan hunian tetap oleh pemerintah pusat melalui BNPB dan kementerian terkait. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025