Konser “Soundrenalin 2025” hari terakhir, Minggu (21/12/25) di Bengkel Space, SCBD, Jakarta, menampilkan sejumlah musisi yang semuanya menyampaikan rasa simpati dan prihatin atas musibah banjir Sumatra. (Courtesy: detikcom)PRIORITAS, 22/12/25 (Jakarta): Konser musik tahunan “Soundrenalin 2025” yang digelar selama empat hari di Jakarta, ditutup dengan seruan keprihatinan terhadap bencana Sumatra, Minggu (21/12/25) malam.
Backdrop panggung konser di Bengkel Space, SCBD, di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, berkali-kali menampilkan tulisan “PRAY FOR SUMATERA” lengkap dengan foto-foto bencana di Sumatra.
Konser tersebut menjadi penutup perhelatan “”Soundrenalin 2025″” yang digelar sejak 18 Desember 2025 di tiga tempat berbeda. Selain di Bengkel Space yang disebut Istora District, ajang musik ini juga digelar di kawasan Blok M yakni di ASEAN District (berlokasi di Taman Kota Peruri), dan Blok M District (COMA Jakarta, Krapela, dan M Bloc Live House).
“Pray for Sumatera”
Pada hari terakhir “Soundrenalin 2025” di Istora Distrct Minggu (21/12/25) malam, musisi Sal Priadi membuka panggung dengan lagu-lagu andalan dari album “Markers And Such Pens Flashdisks”.
Dalam penampilannya, Sal acapkali menyematkan doa untuk korban bencana di Sumatra. Ia menundukkan kepala dan menghentikan sejenak aksi panggungnya. “Mari kita sempatkan diri untuk berdoa ke korban bencana yang ada di Sumatera,” kata Sal Priadi setelah melantunkan Gala Bunga Matahari, sebagaimana dilansir dari detikcom.
Pada sesi kedua panggung diisi “radioshifter”, unit alternatif rock asal Palembang, Sumatera Selatan, yang memulai aksinya dengan background video tentang Sumatra. Mereka juga membahas tentang kondisi di sana dan apa yang perlu banyak orang tahu.
Penampil selanjutnya adalah grup band “rumahsakit” yang juga melantunkan banyak hits mereka dengan edisi spesial di panggung Soundrenaline 2025.
Sejumlah lagu, mulai dari Kabar Bahagia, Panasea, Kuning, Sandiwara Semu sampai Pop Kinetik, dibawakan “rumahsakit” dengan musik ska bareng Ipang Lazuardi. Ada juga Feby Putri yang ikut membawa suasana panggung jadi makin dalam.
Grup “rumahsakit” juga ikut menyuarakan keadaan bangsa ini, termasuk bencana Sumatra. Mereka juga turut mengucapkan belasungkawa dan meminta agar penonton kerap berdonasi dan berdoa untuk korban bencana di Sumatra.
“Kita semua yang ada di sini walaupun sedang senang-senang tetap harus selalu ingat orang-orang yang ada di Sumatera. Terima kasih juga yang sudah berdonasi sampai saat ini semoga teman-teman di Sumatera juga ikut senang,” kata Arief Bakrie sebagai vokalis “rumahsakit”.
Setelah “rumahsakit” ada band dream pop asal Tangerang Selatan, MADMAX yang berisi perempuan muda dengan lagu cintanya yang menarik. Mereka turut ‘mengisi’ ruang ekspresif lagi seperti penampil lainnya.
Selama satu jam manggung, MADMAX juga menampilkan foto-foto tentang keadaan Sumatra saat ini di backdrop dalam bentuk video. Mulai dari bongkahan kayu di mana-mana, para korban bencana, kebun sawit yang kontroversial, hingga pemandangan Masjid Baiturrahman di Aceh yang kini halamannya dipenuhi batang-batang pohon besar.
MADMAX juga membahas keadaan Sumatra dan meminta penonton untuk mengenang kembali, ikut merasakan apa yang tengah dirasakan penyintas di bagian paling barat negara kita.
“Pray for Sumatera” tertulis dalam video yang diputar MADMAX di panggungnya.
Begitu pula penampilan “Barasuara” di akhir malam “Soundrenaline 2025” di Bengkel Space. Iga Massardi cs terlihat gerah dan panas ketika menyampaikan aspirasinya tentang keadaan Sumatra sekarang.
Lewat sebuah video di panggung, “Barasuara” menampilkan footage keadaan Sumatra sambil mencantumkan jumlah korban yang meninggal dan hilang secara update.
“1016 jiwa meninggal, 213 jiwa hilang” begitu salah satu informasi yang ditampilkan dengan tulisan berwarna merah, melambangkan sebuah keberanian sekaligus memberikan kesan dramatis bahwa ini perlu diperhatikan.
Penampilan-penampilan ini kemudian menjadi sorotan dan bukti bahwa musik bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan dukungan yang masif. (P-*/rwt)