Saat Pendeta Masuk Istana, Jangan Sampai Suara Kenabian Tertinggal di Luar

Jojo Raharjo
Minggu, 4 Oktober 2026
OPINI Politik 0 152
5 menit membaca

PRIORITAS, 4/10/26 (Jakarta): Selamat, untuk Pendeta Jacky Manuputty. Tetapi jangan terlalu cepat nyaman di lingkar Istana.

Presiden Prabowo Subianto telah mengangkat Pendeta Jacklevyn ’Jacky’ Frits Manuputty sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia. Pengangkatan itu ditetapkan bersama 25 anggota Wantimpres lainnya pada 2 Oktober 2026.

Memang, saat pelantikan oleh Presiden, Jacky tak hadir karena sedang berada di Thailand. Bersamanya, eks Menteri Perhubungan dan Menteri ESDM, Ignasius Jonan, juga tak datang di Istana.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Pratikno mengatakan dua orang yang tidak hadir pelantikan tetap menjadi anggota Wantimpres sesuai dengan keputusan presiden (kepres).
”Itu kan sudah di Keppres,” kata Pratikno usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, usai pelantikan.

Bagi umat Kristen, khususnya keluarga besar gereja-gereja di Indonesia, penunjukan ini tentu patut disambut dengan sukacita dan doa.

Selamat kepada Pendeta Jacky Manuputty. Selamat atas kepercayaan yang diberikan negara.
Tetapi justru karena yang masuk ke Istana adalah seorang pendeta, ada satu pesan penting yang rasanya perlu disampaikan: jangan sampai ketika pendeta masuk Istana, suara kenabian justru tertinggal di luar pagar.

Sebab pendeta yang masuk ke lingkar kekuasaan bukan hanya membawa dirinya sendiri. Ia membawa pengalaman gereja. Ia membawa pergumulan umat. Ia membawa suara kelompok yang sering kali tidak memiliki akses langsung kepada penguasa.

Dan lebih dari itu, pria 61 tahun asal Haruku, Maluku Tengah itu membawa nilai-nilai iman yang seharusnya tidak berhenti menjadi bahasa khotbah di mimbar, tetapi juga hadir dalam cara kekuasaan mengambil keputusan.

Pendeta Jacky bukan sosok yang tiba-tiba muncul dari ruang kosong. Ia adalah pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM), Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) periode 2024–2029, dan dikenal memiliki pengalaman dalam dialog lintas agama, kemanusiaan, serta upaya perdamaian. Pengalaman pelayanan di tengah konflik dan kerja-kerja perdamaian menjadi modal penting ketika ia kini berada lebih dekat dengan pusat pengambilan keputusan negara.

Justru karena itulah harapannya harus lebih besar. Wantimpres jangan hanya menjadi ruang untuk memberikan nasihat yang ingin didengar Presiden.

Wantimpres semestinya juga menjadi ruang untuk menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak ingin didengar Presiden. Bak Nabi Natan di era Raja Daud. Berani menyampaikan pesan Tuhan atas dosa yang dilakukan Daud. Ada pula kisah Ahitofel, penasihat Daud, yang belakangan bersepakat dengan Absalom, putra raja sendiri.

Di siniah pentingnya suara kenabian. Dalam tradisi iman Kristen, nabi bukanlah orang yang selalu menyenangkan telinga penguasa. Nabi justru mengingatkan penguasa ketika kekuasaan mulai menjauh dari keadilan.

Nabi berdiri bersama mereka yang lemah. Nabi mempertanyakan ketika ketidakadilan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Nabi mengingatkan ketika kekuasaan mulai terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.

Karena itu, kita berharap Pendeta Jacky tidak kehilangan keberanian untuk berkata ’tidak’ ketika memang harus berkata tidak. Bukan untuk menjadi oposisi terhadap pemerintah. Bukan pula untuk mencari panggung politik. Tetapi untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap memiliki hati nurani.

Jika ada kebijakan negara yang berpotensi merugikan masyarakat kecil, sampaikan. Jika ada kelompok masyarakat yang tidak terdengar suaranya, bawa suara mereka ke ruang Presiden. Jika ada ketidakadilan, jangan hanya mencatatnya sebagai persoalan administratif.

Meski memang, Ketua Wantimpres Pratikno sudah menjelaskan, sesuai UU No.64/2024, masukan yang disampaikan Wantimpres kepada Presiden bersifat rahasia dan tidak dapat diungkapkan kepada publik.

Jika ada persoalan kebebasan beragama, konflik sosial, kemiskinan, ketimpangan, lingkungan hidup, atau perlindungan kelompok rentan, jangan biarkan semuanya berhenti sebagai angka dalam laporan.

Suara kenabian harus tetap hidup. Dan suara kenabian tidak identik dengan suara yang keras. Suara kenabian adalah suara yang jujur. Kadang ia lembut, tetapi tegas. Kadang ia tidak populer. Kadang bahkan membuat penguasa tidak nyaman. Namun justru karena itulah ia dibutuhkan.

Pentingnya menjaga jarak

Pendeta Jacky juga perlu menjaga jarak yang sehat antara kedekatan dengan kekuasaan dan keberpihakan kepada kebenaran.

Ini bukan perkara mudah. Ketika seseorang sudah berada di dalam lingkar kekuasaan, ada godaan untuk melihat segala sesuatu dari perspektif pemerintah. Ada pula godaan untuk menganggap kritik sebagai gangguan terhadap stabilitas.

Padahal pemerintah membutuhkan kritik. Presiden membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan perspektif berbeda. Negara membutuhkan penasihat yang tidak sekadar menjadi echo chamber—ruang yang hanya memantulkan kembali apa yang ingin didengar oleh penguasa.

Di sinilah mungkin salah satu kontribusi terbesar seorang tokoh gereja di Wantimpres. Menjadi jembatan, tetapi bukan menjadi stempel. Menjadi bagian dari pemerintahan, tetapi tetap memiliki keberanian moral untuk mengingatkan pemerintahan. Mendukung hal-hal yang benar, tetapi mengkritisi hal-hal yang perlu dikritisi. Membantu Presiden melihat persoalan bukan hanya dari perspektif kekuasaan, tetapi juga dari perspektif manusia yang terdampak oleh setiap keputusan.

Satu hal lagi: kehadiran Pdt. Jacky di Wantimpres bukan berarti seluruh suara gereja otomatis terwakili oleh satu orang.

Justru ia harus tetap membuka ruang bagi suara-suara kritis dari gereja, masyarakat sipil, akademisi, kaum muda, kelompok rentan, dan komunitas di berbagai daerah. Karena demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar orang baik di dalam kekuasaan. Demokrasi membutuhkan mekanisme koreksi terhadap kekuasaan.

Maka, sekali lagi, selamat Pendeta Jacky Manuputty.
Jabatan ini bukan sekadar penghargaan, sebagaimana tokoh agama dan tokoh masyarakat lain masuk dalam 26 anggota Wantimpres. Ia adalah amanah. Dan amanah itu tidak ringan.

Semoga ketika memasuki Istana, Pendeta Jacky tidak hanya membawa identitas seorang pendeta. Tetapi juga membawa keberanian seorang pelayan Tuhan untuk mengatakan: yang benar tetap benar, meskipun tidak populer; yang salah tetap harus dikoreksi, meskipun dilakukan oleh kekuasaan; dan mereka yang lemah tetap harus didengar, meskipun suara mereka tidak sampai ke ruang-ruang kekuasaan.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan Istana bukan hanya orang-orang yang pandai memberikan nasihat. Istana membutuhkan orang yang berani mengingatkan ketika kekuasaan mulai lupa.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari kehadiran seorang pendeta di lingkar kekuasaan. Bukan untuk membuat gereja semakin dekat dengan Istana. Tetapi untuk memastikan bahwa suara kebenaran tetap dekat dengan kekuasaan.

*Agustinus ’Jojo’ Rahardjo, Senior GMKI, Ketua DPP GAMKI, Ketua Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025