Lamine Yamal saat bersama Timnas Spanyol pada babak 32 besar Piala Dunia melawan Austria di Inglewood, California, dekat Los Angeles, Jumat(3/7/26). (AP Photo/Andre Penner/courtesy DemokrIdis.Co.IdPRIORITAS, 3/10/26 (Madrid): Malam Penganugrahan atau pengumuman pemenang Ballon d’Or 2026 tidak lama lagi digelar.
Namun, salah satu calon kuat Lamine Yamal mulai pesimis. Pasalnya, Yamal mulai mengungkap kekhawatirannya dalam persaingan merebut Ballon d’Or 2026 yang akan berlangsung di London, Inggris, 26 Oktober mendatang.
Bintang Barcelona dan timnas Spanyol itu menilai usia mudanya bisa membuat sebagian pemilih berpikir dirinya masih memiliki banyak kesempatan untuk memenangkan penghargaan tersebut.
Status pemain muda pengarui calon pemilih
Dalam wawancara dengan The Guardian Sport, Yamal mengatakan statusnya sebagai pemain muda bisa memengaruhi cara para pemilih menilai peluangnya.
“Sejujurnya, saya tidak tahu apakah orang akan mengubah pandangan ini atau tidak tetapi menurut saya, orang berpikir karena Lamine baru berusia 19 tahun dan permainannya sangat bagus, dia pasti akan memenangkani suatu saat nanti,” ujar Yamal.
Menurutnya, pemikiran tersebut dapat membuat pencapaiannya saat ini kurang diperhitungkan dibandingkan pemain yang lebih senior.
Yamal yang kini berusia 19 tahun menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam perebutan penghargaan individu sepak bola paling bergengsi.
Performa bersama Barcelona dan timnas Spanyol membuatnya masuk dalam pembicaraan kandidat Ballon d’Or.
Namun, Yamal melihat ada potensi anggapan dirinya belum perlu memenangi penghargaan tersebut karena masih berusia sangat muda.
Yamal menyebut sejumlah nama yang juga berada dalam persaingan penghargaan tersebut, seperti Kylian Mbappe, Fabian Ruiz, Rodri, Khvicha Kvaratskhelia, Lionel Messi, dan Harry Kane.
“Orang berpikir saya akan selalu ada di sana dan pada akhirnya akan memenangkannya,” katanya.
Pengalaman Mbappe
Yamal kemudian membandingkan situasinya dengan Mbappe ketika penyerang Prancis tersebut masih berusia muda.
Menurut Yamal, Mbappe juga pernah menghadapi anggapan penghargaan Ballon d’Or pada akhirnya akan menjadi miliknya karena performa yang ditunjukkannya sejak usia muda.
“Sebagai contoh, hal yang sama terjadi pada Mbappe saat dia masih muda. Mereka bilang suatu saat dia pasti akan menang, tetapi kenyataannya, sampai sekarang pun dia belum pernah memenanginya,” ujar Yamal.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bagi Yamal bahwa performa gemilang di usia muda tidak otomatis membuat seorang pemain meraih Ballon d’Or.
Meski demikian, pemain muda tersebut menyadari persaingan tidak hanya ditentukan oleh usia atau popularitas. Performa sepanjang musim dan penilaian para pemilih akan menjadi faktor penting dalam menentukan pemenang.
Bagi Yamal, tantangannya kini adalah membuktikan usia 19 tahun bukan alasan untuk mengenyampingkan pencapaiannya di lapangan.(P-*/wr)