Kepemimpinan Glenny Kairupan mulai menunjukkan hasil positif: Garuda (GIAA) raih pendapatan Rp32,14 T – rugi menyusut

Selvijn MJR
Sabtu, 3 Oktober 2026
BUMN EKBIS 0 354
5 menit membaca

PRIORITAS, 3/10/16 (Jakarta): Di bawah kepemimpinan Glenny Kairupan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) membukukan pendapatan US$1,80 miliar atau sekitar Rp32,14 triliun pada semester I/2026, tumbuh 16 persen secara tahunan (year on year/yoy), ditopang kenaikan pendapatan penerbangan berjadwal, penerbangan tidak berjadwal, dan bisnis perawatan pesawat.


Sebagaimana mengutip laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9/26) lalu, pendapatan GIAA pada semester I/2026 senilai US$1,80 miliar meningkat dari US$1,55 miliar atau sekitar Rp27,68 triliun pada semester I/2025.

Lalu, pada semester I/2026, penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$1,31 miliar atau sekitar Rp23,39 triliun, naik 10,9 persen yoy.

Disebutkan, dari segmen tersebut, pendapatan penumpang tumbuh 11,5 persen menjadi US$1,23 miliar atau sekitar Rp21,96 triliun.


Pertumbuhan tertinggi dari penerbangan tidak berjadwal

Selanjutnya disebutkan pula, pertumbuhan tertinggi berasal dari penerbangan tidak berjadwal yang meningkat 32,5 persen yoy menjadi US$272,8 juta atau sekitar Rp4,87 triliun.

Kemudian, pendapatan angkutan haji menjadi pendorong utama dengan kontribusi US$232,2 juta atau sekitar Rp4,15 triliun, naik 51,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan lain-lain juga meningkat

Juga dilaporkan, pendapatan lain-lain juga meningkat 32,2 persen menjadi US$209,2 juta atau sekitar Rp3,74 triliun. Salah satunya berasal dari bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO) yang tumbuh 43,8 persen menjadi US$87,4 juta atau sekitar Rp1,56 triliun.

Sementara itu, dari sisi profitabilitas operasional, Garuda Indonesia mencatatkan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) positif US$74 juta atau sekitar Rp1,32 triliun, naik 12,7 persen yoy dari US$65,7 juta atau sekitar Rp1,17 triliun.

Lalu, EBITDA meningkat 5,8 persen menjadi US$431,6 juta atau sekitar Rp7,71 triliun.

Selain itu, perbaikan kinerja juga terlihat pada bottom line.

Rugi bersih GIAA menyusut

Satu hal penting lagi, rugi bersih menyusut menjadi US$113 juta atau sekitar Rp2,02 triliun pada semester I/2026 dari US$147,1 juta atau sekitar Rp2,63 triliun pada semester I/2025.

Adapun salah satu faktor yang menopang penyusutan rugi ialah penurunan beban keuangan sebesar 11,6 persen menjadi US$222,4 juta atau sekitar Rp3,97 triliun dari US$251,6 juta atau sekitar Rp4,49 triliun.

Disebutkan, penurunan tersebut terjadi pada sejumlah komponen bunga, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan utang usaha.

Suntikan modal Danantara

Adapun perbaikan beban keuangan tersebut turut dipengaruhi suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun pada Desember 2025.

Jadi, setelah dana tersebut masuk, anak usaha GIAA, PT Citilink Indonesia, melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025. Alhasil, beban keuangan Garuda kepada Pertamina turun menjadi US$4,7 juta atau sekitar Rp83,9 miliar dari US$11,8 juta atau sekitar Rp210,7 miliar setahun sebelumnya.

Selain itu, beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga turun lebih dari separuh menjadi US$6,6 juta atau sekitar Rp117,9 miliar.

Namun di sisi lain, kinerja GIAA masih menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan bakar. Beban avtur pada semester I/2026 melonjak 43,6 persen yoy menjadi US$677,6 juta atau sekitar Rp12,10 triliun. Porsi biaya avtur terhadap pendapatan meningkat menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada semester I/2025.

Mampu menahan pertumbuhan biaya

Kemudian, di luar bahan bakar, GIAA mampu menahan pertumbuhan biaya. Beban non-bahan bakar naik 3,9 persen menjadi sekitar US$1,07 miliar atau sekitar Rp19,11 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 16 persen. Alhasil, rasio biaya non-avtur terhadap pendapatan turun menjadi 59,7 persen dari 66,7 persen.

Jadi secara total, beban usaha GIAA meningkat 16,4 persen. Sekitar 84 persen dari tambahan beban tersebut berasal dari kenaikan biaya avtur. Sejumlah komponen biaya justru mengalami penurunan. Yakni, beban komisi agen turun 6,2 persen menjadi US$33,6 juta atau sekitar Rp600 juta meskipun pendapatan tumbuh dua digit.

Lalu, pembayaran kas kepada karyawan juga turun 7,2 persen menjadi US$219,7 juta atau sekitar Rp3,92 triliun.

Karyawan grup berkurang

Adapun penurunan tersebut terjadi seiring jumlah karyawan grup yang berkurang menjadi 10.459 orang dari 10.852 orang pada akhir 2025.

Juga, perrseroan melakukan perampingan struktur grup.

Ada satu anak usaha di lini perhotelan telah dilikuidasi, sedangkan dua anak usaha lainnya masih dalam proses pembubaran.

Tekanan biaya bahan bakar

Diketahui, tekanan biaya bahan bakar menjadi tantangan industri penerbangan global sepanjang 2026.

Sebab, berdasarkan data International Air Transport Association (IATA) yang dikutip dalam laporan GIAA, harga jet fuel global pada puncaknya pada April 2026 meningkat sekitar 121 persen dibandingkan April 2025.

Sementara itu, sepanjang 2026, IATA memperkirakan harga jet fuel rata-rata US$152 per barel.

Lalu dari sisi neraca, total pinjaman GIAA, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun 4 persen menjadi US$3,76 miliar atau sekitar Rp67,14 triliun per 30 Juni 2026 dari US$3,92 miliar atau sekitar Rp70 triliun pada akhir 2025. Liabilitas sewa turun dari US$2,49 miliar atau sekitar Rp44,46 triliun menjadi US$2,34 miliar atau sekitar Rp41,79 triliun setelah perseroan membayar pokok sewa US$158,9 juta atau sekitar Rp2,84 triliun sepanjang semester I/2026.

Kemudian, arus kas operasional tercatat positif US$253,1 juta atau sekitar Rp4,52 triliun dengan posisi kas dan setara kas sebesar US$624,3 juta atau sekitar Rp11,15 triliun pada akhir Juni 2026.p

Pada laporan keuangan tersebut, GIAA juga melakukan penyajian kembali angka pembanding 2025. Penyesuaian terutama berkaitan dengan pengukuran estimasi biaya perawatan dan pengembalian pesawat sewa sesuai ketentuan kontrak sewa.

Adapun penyesuaian tersebut bersifat nonkas. Secara tahunan, demikian Bisnis.com, posisi ekuitas GIAA menunjukkan perbaikan. Defisiensi modal yang mencapai US$1,50 miliar atau sekitar Rp26,79 triliun per 30 Juni 2025 menyempit menjadi US$52,2 juta atau sekitar Rp932,1 miliar per 30 Juni 2026 setelah adanya suntikan modal Danantara. (P-*/se)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan