Lava Gunung Karangetang meluncur hingga 1 kilometer, 7 kali di Sitaro jadi jalur guguran

Sem Muhaling
Kamis, 1 Oktober 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 1/10/26 (Sitaro): Aktivitas Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, masih menunjukkan guguran lava pijar yang mengarah ke sejumlah aliran sungai atau kali. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) periode 29 September 2026, jarak luncur lava tercatat mencapai 500 hingga 1.000 meter.


Personel Pos PGA Karangetang, Yappie Fredrik Albert Rombot, menyampaikan bahwa guguran lava pijar terpantau mengalir dari kawasan puncak gunung ke beberapa sektor. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aliran lava mengarah ke sejumlah kali yang berhulu dari Gunung Karangetang.

Laporan aktivitas gunung api tersebut dibagikan melalui grup percakapan Info Gunung Api Sitaro dan disampaikan di Manado, Rabu, 30 September 2026. Data pengamatan itu juga mencatat aktivitas kegempaan serta kondisi asap kawah yang masih terpantau dari puncak gunung.

Lava mengarah ke tujuh kali

Guguran lava pijar dari kawah utara terpantau mengalir ke arah selatan dengan jarak sekitar 700 meter. Sementara itu, aliran ke arah barat dan barat daya mengarah ke Kali Pangi, Kali Kinali, Kali Sumpihi, dan Kali Kiawang dengan jarak luncur sekitar 500 hingga 1.000 meter.


Selain itu, guguran lava pijar juga mengarah ke barat laut, menuju Kali Batuare, Kali Batu Kole, dan Kali Malebuhe. Jarak luncuran pada sektor tersebut tercatat sekitar 500 hingga 700 meter.

Dengan demikian, terdapat tujuh kali yang dalam laporan pengamatan sebagai jalur aliran guguran lava. Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan tersebut perlu memperhatikan perkembangan aktivitas gunung serta mengikuti arahan petugas terkait potensi bahaya.

Aktivitas kegempaan masih terekam

Selain guguran lava, pengamatan pada periode 29 September 2026 mencatat asap kawah utara berwarna putih, kelabu, hingga cokelat dengan ketinggian sekitar 10 sampai 700 meter.

Aktivitas kegempaan yang terekam meliputi tiga kali gempa guguran, 99 kali gempa embusan, empat kali gempa tremor nonharmonik, dan 46 kali gempa tremor harmonik. Selain itu, tercatat satu kali gempa vulkanik dangkal dan dua kali gempa vulkanik dalam.

Petugas juga merekam satu kali gempa tektonik lokal serta lima kali gempa tektonik jauh. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Karangetang oleh petugas pengamatan gunung api.

Status masih Level II Waspada

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menetapkan status aktivitas Gunung Karangetang pada Level II atau Waspada.

Dalam rekomendasinya, instansi tersebut meminta masyarakat serta pengunjung atau wisatawan tidak mendekati kawasan berbahaya. Apalagi melakukan pendakian. Warga tidak boleh beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua atau kawah utara serta kawah utama di bagian selatan.

Larangan beraktivitas juga berlaku pada area perluasan sektoral ke arah selatan dan barat daya sejauh 2,5 kilometer. Pembatasan tersebut ditetapkan untuk mengurangi risiko apabila terjadi guguran lava maupun awan panas guguran.

Juga meminta masyarakat mewaspadai kemungkinan guguran lava dan awan panas yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Tumpukan material lava sebelumnya masih dalam kondisi belum stabil sehingga berpotensi runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.

Warga yang tinggal di sekitar aliran kali yang berhulu dari Gunung Karangetang diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi resmi dari petugas. Perkembangan aktivitas gunung perlu dipantau untuk mengantisipasi potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan masyarakat. (P-*/Ant/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan